AI dan Masa Depan Kerja di Indonesia, Ancaman atau Peluang?

Lubukbasung, kaba12 — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan seperti Aritificial Intelligence (AI) memberikan dampak signifikan terhadap struktur ketenagakerjaan di Indonesia. Di satu sisi, AI berperan katakanaatakan efisiensi kerja dan produktifitas di berbagai sektor. Namun, kecerdasan buatan ini juga memicu kekhawatiran mengenai hilangnya peluang kerja, terutama yang bersifat rutin dan tidak membutuhkan kreativitas tinggi.

Menurut laporan McKinsey & Company (2019), ada 23 juta pekerjaan di Indonesia yang berpotensi terdampak otomatisasi pada 2030. Laporan tersebut menyebutkan bahwa “Otomatisasi berpotensi menggeser peran manusia, khususnya pada pekerjaan manual dan berulang di sektor manufaktur, retail, dan transportasi.”

Sektor layanan seperti perbankan dan customer service kini meulai mengadopsi chatbot dan sistem otomatis untuk melayani nasabah. Teknologi ini memangkas kebutuhan tenaga kerja untuk tugas – tugas dasar.

Mengutip kompas.com (2023), “AI kini mampu menangani percapakan pelanggan dengan efisien, menggantikan peran manusia dalam layanan dasar,”

Di sektor logistic dan transportasi, sistem berbasis AI telah membantu pengoptimalan rute pengirim dan manajemen gudang. Hal ini menekan kebutuhan tenaga kerja manual. Selain itu, industry media, penerjemahan, dan pemasaran digital juga mengalami penggeseran karena AI yang kini mampu menulis, mengedit, dan menerjemahkan secara otomatis.

Namun, AI tidak hanya mengambil ahli pekerjaan, bahkan menciptakan jenis pekerjaan baru. Word Economic Forum (2020) mencatat, “Meskipun 85 juta pekerjaan mungkin tergantikan oleh mesin, sebanyak 97 juta pekerjaan baru akan muncul di bidang -bidang baru dan yang sedang berkembang”. Pekerjaan seperti analisis data, insinyur AI, spesialis keamanan siber, dan pengembang perangkat lunak kini semakin dibutuhkan.

Indonesia menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan SDM digital tersebut, karena itu, kekurangan ahli digital menjadi penghambat dalam transformasi industry Indonesia. Untuk mengatasinya, dibutuhkan investasi besar dalam pendidikan vokasi, pelatihan ulang (reskilling), dan peningkatan keterampilan digital (upskilling).

Dengan strategi yang tepat dalam menghadapi hadirnya AI di Indonesia, seperti pembaruan kurikulum pendidikan dan dukungan regulasi, menjadikan Indonesia menggunakan AI sebagai alat pendorong pertumbuhan ekonomi dan sosial, dan tidak hanya ancaman bagi ketengakerjaan.

(TAUFIQ)

0Shares