Tingkatkan Pendidikan Karakter, PGRI Gelar Diskusi Ilmiah

Bukittinggi, KABA12.com — Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Bukittinggi melaksanakan Diskusi Ilmiah dalam rangka Hari Guru dan HUT PGRI ke-75, di Hotel Pusako Bukittinggi, Kamis (19/11). Diskusi ilmiah mengambil tema Peningkatan Pendidikan Karakter Bagi Generasi Millenial Berbasis Kearifan lokal.

Ketua PGRI Bukittinggi, Heru Tri Astanawa, mengatakan tema yang diangkat dalam Diskusi Ilmiah tersebut, berawal dari kegalauan dan keresahan melihat karakter anak atau siswa saat ini. Mereka hanya dihiasi pengetahuan saja, namun tidak ada pembekalan karakter dan nilai-nilai budaya.

“Karena itu, kita berinisiatif mengangkat tema tentang peningkatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal ini. Sasarannya adalah melahirkan kurikulum yang berbasis karakter dan memperhatikan kearifan lokal atau daerah. Nantinya, kita akan susun tim untuk melahirkan kurikulum tersebut,” ujar Heru.

Heru menambahkan saat ini, prilaku anak atau siswa jauh dari kesan seseorang yang memegang filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Mereka juga sudah melenceng dari nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan

“Situasi ini yang menjadi fokus perhatian kita. Pendidikan karakter telah dituangkan dalam undang-undang. Dewasa ini, kita lihat berakhlak mulia mulai terkikis. Hal itu disebabkan kemajuan yang kebablasan. Karena itu, pendidikan karakter berbasis kearifan lokal (Minangkabau) ini perlu dihidupkan dan diperbaiki kembali,” ungkap Heru.

Lebih lanjut, Heru menyebutkan generasi millenial tidak tahu lagi tata krama dan melupakan nilai-nilai budaya serta agama. Untuk itu, PGRI Bukittinggi ingin membangkitkan lagi pendidikan karakter berbasis nilai-nilai dan filosofi adat ini. Tujuannya agar generasi milenial tidak lagi berprilaku melenceng serta kembali ke tatanan kehidupan budaya di Minangkabau.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi, Melfi Abra, mengungkapkan, ada poin-poin penting dalam diskusi ilmiah ini, untuk menyelaraskan materi pendidikan atau materi ajar dengan tidak meninggalkan budaya lokal.

“Kita tetap mempertahankan budaya atau kearifan lokal. Namun, kita tidak menafikan atau meninggalkan budaya teknologi modern. Pendidikan boleh maju ke arah modern, namun budaya lokal jangan dihilangkan,” kata Melfi.

Menurut Melfi, karakter dan prilaku sangat diperlukan untuk anak-anak generasi mendatang. Mereka juga merasakan kemajuan teknologi, tapi karakter lebih penting. Dunia pendidikan sebagai tempat menguatkan pendidikan dan memajukan kebudayaan.

“Silahkan gali sisi positif budaya lokal dan menyeleksi budaya asing atau modern yang masuk. Yang terpenting adalah nilai-nilai budaya sangat diperlukan kembali. Jadikan guru suri tauladan yang baik untuk mengembangun karakter anak bangsa,” terang Melfi.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Bukittinggi, Yuen Karnova selaku salah satu narasumber menjelaskan, diskusi ini akan melahirkan langkah-langkah konkret pendidikan karakter pada anak serta merumuskan hasil yang jelas kemudian ditindaklanjuti.

“Bagaimana muatan lokal, ekskul dapat dipolakan di sekolah. Sekolah harus bisa menerapkan satu hari tidak ada gadget di sekolah dan bahasa Minangkabau di sekolah. Lalu, apa peran semua pihak terhadap penanaman pendidikan karakter berbasis kearifan lokal ini. Nantinya, dinas pendidikan dan lembaga pendidikan dapat mendiskusikan dengan niniak mamak atau pemuda,” tegas Yuen.

Diskusi ilmiah ini juga menampilkan narasumber Rektor UNP Prof.DR. Ganefri dan Budayawan Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto. Mak Katik juga menyampaikan tentang kondisi anak-anak generasi saat ini dan kaitannya dengan kearifan lokal serta nilai-nilai budaya Minangkabau.

(Ophik)

0Shares