Surat Terbuka : “Sesulit Itukah Untuk Bertemu Bupati Agam “

Saya Yang Bertandatangan di Bawah ini :

Nama                  : Ali Amran

Jabatan              : Walinagari ( non aktif ) Salo, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam

Alamat               : Salo, Kecamatan Baso.

 

Saya mantan Walinagari ( non aktif ) Salo, Kecamatan Baso yang menjabat Walinagari sejak tahun 2021 dan menyatakan mengundurkan diri melalui surat resmi kepada Bupati Agam melalui Badan Musyawarah Nagari Salo, tanggal 5 Mei 2025.

Saya menyatakan mengundurkan diri, karena banyak hal yang menurut saya lari dari koridor dan komitmen bersama membangun kampuang yang sejak awal disepakati bersama oleh  berbagai elemen yang ada dalam nagari baik lembaga nagari, dan tokoh-tokoh masyarakat Nagari Salo, yang menjadi dasar persetujuan saya untuk bersedia dicalonkan sebagai walinagari dalam Pilwana Serentak Tahun 2021 lalu.

Karena komitmen bersama itulah yang mendorong  keinginan saya membangun kampuang halaman itu saya atas persetujuan keluarga mengabdikan diri, pulang kampung, untuk membangun Nagari Salo sesuai kemampuan dan keahlian yang saya miliki dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman sebagai ASN di Batam, Kepulauan Riau setelah masa pensiun saya.

Berbekal komitmen awal basamo mambangun kampuang itulah, saya pulang kampung, berkeinginan untuk bersama berbenah membangun berbagai hal, tidak hanya sarana prasarana, tapi juga pembenahan kedalam, baik administrasi, aparatur dan hal-hal lain, sesuai dengan harapan yang mengemuka dari semua komponen masyarakat.

Banyak hal yang menurut saya aneh, yang terkesan sebagai upaya untuk menyudutkan saya, menyiarkan informasi-informasi yang tidak benar, bahkan memprovokasi warga untuk menyudutkan posisi saya, walau sebetulnya itu tidak benar.

Hal yang menurut saya lari dari komitmen bersama itu, yang terkini diduga dipicu oleh Program Unggulan Bupati Agam, yakni Sawah Pokok Murah, yang saya yakini menjadi “senjata”oleh pihak-pihak yang memiliki keinginan dan target tersendiri dalam nagari, termasuk yang (kemungkinan) berminat menggantikan posisi saya sebagai Walinagari.

Saya terpaksa membuat surat terbuka pada public ini, karena masalah yang melatari gonjang-ganjing dan opini yang sengaja dihembuskan oleh pihak dan kelompok tertentu, bahkan saya selaku walinagari (waktu itu) tidak mendukung Progul Sawah Pokok Murah (SPM) yang diusung Bupati Agam H.Beny Warlis, padahal faktanya, sejak awal saya justru salah satu walinagari yang memberi dorongan agar Progul itu bisa terlaksana optimal.

Hal itu dibuktikan, dengan hasil rumusan bersama lembaga Nagari Salo, dalam mendukung Progul SPM dengan mengalokasikan anggaran khusus di Nagari Salo, sebesar Rp.78 Juta, dan itu disepakati bersama seluruh unsur yang ada.

Kemungkinan untuk pilot projek, khususnya lounching yang dilaksanakan serentak di Kabupaten Agam, Nagari Salo sudah menyiapkan 3 lokasi masing-masing milik Ketua BAMUS, lahan milik Staf Nagari dan milik Warga Salo.Namun, entah memang hal ini sengaja atau ada unsur lain, 5 hari menjelang hari H lounching Progul SPM di Kabupaten Agam, Ketua BAMUS dan Staf Nagari yang semula bersedia menyiapkan lahan untuk pilot project tiba-tiba menarik diri dan keberatan lahannya digunakan untuk Progul SPM.

Untuk mengantisipasi kekosongan lahan, dalam kurun waktu 4 hari, saya selaku walinagari yang bertanggungjawab akan progul Bupati Agam di Nagari Salo itu, mencari lahan pengganti, sehingga di Nagari Salo, Baso, bisa disiapkan lahan untuk program tersebut untuk dilounching.

Yang menarik, tuduhan saya tidak mendukung Progul SPM itu semakin menjadi bola liar, bahkan ada upaya-upaya tertentu yang terus menyudutkan saya, termasuk adanya oknum-oknum di Pemkab.Agam yang terkesan mendorong hal itu, entah untuk kepentingan apa, namun saya nilai hal itu justru memberi kesan, apa yang dilakukan justru sengaja mendiskreditkan saya, yang notabone-nya justru memberi kesan, oknum tersebut tidak mendukung Bupati Agam, karena saya justru mendukung Progul SPM.

Karena “bola liar”dan isu tak bertanggungjawab itu, saya mulai bersikap, dengan berupaya mengklarifikasi, baik pada jajaran terkait di Pemkab.Agam, dengan Bupati Agam dan upaya saya untuk menemui Bupati Agam secara langsung.

Komitmen saya, sebagai warga Salo, Baso, mantan ASN yang mendapat amanah dari warga kampuang halaman, untuk mengabdi membangun kampuang sebagai Walinagari , sejak awal sudah saya perlihatkan secara maksimal, dengan mengorbankan keluarga, focus melakukan tugas-tugas sebagai Walinagari untuk membangun di Nagari Salo, justru terlukai dengan sikap dan perilaku  pihak-pihak yang menzalimi saya.

Yang membuat saya prihatin, para pihak termasuk oknum pejabat daerah terkesan  sengaja membangun benteng agar saya tidak bisa berdialog, berdikusi bahkan untuk mengklarifikasi kondisi yang sesungguhnya kepada Bupati Agam, sehingga saya menilai Bupati Agam hanya menerima informasi sepihak, tanpa mau menerima saya sebagai walinagari untuk menghadap dan bertemu muka secara langsung.

Saya sudah berulang kali berupaya menemui Bupati Agam, namun tidak membuahkan hasil, yang pertama tanggal 25 April 2025, pukul 14.30 WIB saya diminta hadir berdialog dengan sdr. Welfizar,Kepala Inspektorat Agam yang putra Salo, Baso di Mess Pemkab.Agam Belakang Balok, Bukittinggi.

Dalam dialog tersebut, tidak terbangun komunikasi yang baik, saya tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan terkait “tuduhan” yang tidak benar berkaitan dengan Progul SPM, yang diisukan saya tidak mendukung. Padahal, kenyataannya seluruh persiapan sudah dilakukan, baik areal, dukungan kelompok tani dan berbagai persiapan lain. Dalam dialog itu, yang terjadi hanya sepihak, yang hanya menyalahkan saya tanpa memberi kesempatan saya untuk menjelaskan runut kondisi yang sesungguhnya.

Karena upaya saya menjelaskan itu, tidak menemui titik terang kepada sdr.Welfizar, kemudian, saya berniat menemui Bupati Agam Beni Warlis, yang menurut kabar akan pergi ke Pekanbaru, hari Sabtu, 10 Mei 2025. Dan saya langsung berangkat ke Pekanbaru dari Salo, dengan harapan bisa bertemu dan berdialog dengan Bupati Agam Beni Warlis.

Namun, setelah sampai di Pekanbaru, upaya saya masih tidak membuahkan hasil, karena Bupati Agam sangat sibuk dan tidak mempunyai waktu untuk saya, walau saya sudah meminta waktu untuk bertemu walau hanya sebentar.

Karena upaya saya untuk bertemu Bupati Agam di Pekanbaru, tidak berhasil, saya kembali mencari kesempatan untuk bertemu beliau, dan sesuai informasi yang diperoleh Bupati Agam Beni Warlis sedang berkegiatan di Surau Ka’bah, Panampuang, Kecamatan Ampek Angkek,hari Senin, tanggal 12 Mei 2025.

Kembali saya datang. Namun upaya saya menunggu bisa bertemu langsung sejak pagi hingga siang, tidak membuahkan hasil, bahkan setelah acara, Bupati Agam Beni Warlis, langsung pergi begitu saya, mengabaikan saya yang sudah menunggu sejak lama, padahal saya sangat yakin,  beliau tahu saya menunggu beliau untuk menghadap, karena sebelumnya melalui ajudan dan sespri saya sudah menyampaikan permohonan untuk bisa bertemu beliau.

Luar biasa saya lihat. Dan saya kuat menduga, sudah sangat banyak hal-hal yang disampaikan oleh pihak lain, secara sepihak pada Bupati Agam dan mengabaikan harapan saya untuk bisa menjelaskan dan mengklarifikasi apa yang sesungguhnya terjadi.

Tapi apakah memang, sesulit itukah untuk bisa bertemu Bupati Agam. Padahal, untuk bertatap muka dan meluangkan waktu untuk saya, seorang walinagari yang notabone adalah warga Kabupaten Agam, untuk bertemu Bupati Agam. Sangat luar biasa saya rasakan. Agam saja menganjurkan untuk memperkokoh silaturrahmi.

Dan karena kondisi itulah, saya bersikap membuat surat terbuka ini dan memperteguh komitmen saya untuk mundur sebagai Walinagari Salo, kecamatan Baso.

Saya berharap, surat terbuka ini, bisa menjadi bagian dari klarifikasi atas kondisi yang sesungguhnya  terjadi, Walau sesungguhnya, secara pribadi sebetulnya saya tidak ingin hal ini mencuat ke public, namun hal ini terpaksa saya lakukan sebagai bagian dari klarifikasi atas fitnah dan informasi yang tak benar dari pihak-pihak yang mempunyai ambisi tertentu yang didukung oleh oknum-oknum yang menurut saya tidak professional bahkan tidak layak menjadi pemimpin.

Saya masih berharap, suatu saat saya bisa menjelaskan secara langsung pada Bupati Agam H. Beni Warlis, sehingga apa yang terjadi di Nagari Salo, kecamatan Baso, bisa betul-betul dipahami oleh Bupati selaku kepala daerah, selaku tokoh masyarakat dan pimpinan daerah, tidak hanya menerima informasi sepihak, karena kepentingan dan orientasi tertentu, jika memang kita semua menginginkan daerah ini maju, berkembang dan kegiatan pelayanan pemerintah terhadap masyarakat berjalan dengan baik.

Hal ini, termasuk bagian dari niat baik dan komitmen silaturrahmi saya dengan daerah yang saya cintai, karena walaupun lama bertugas di rantau, kecintaan dan perhatian pada kampung halaman adalah hal utama, apalagi selama di perantauan di Batam, saya pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Keluarga Luhak Agam (IKLA) Batam, yang bersama perantau memberi perhatian dan kepedulian terhadap kemajuan kampuang.

Saya berkomitmen, silaturrahmi adalah kunci perjalanan sukses manusia di dunia dan akhirat, sehingga saya mengabaikan hal-hal yang merusak pemikiran, hati Nurani dan mengedepankan keikhlasan untuk mengabdi. Itupun jika semua keinginan bisa menyatu dalam kebersamaan.-

Saya menunggu respon Bupati Agam, karena untuk bertemu secara langsung sangat sulit karena untuk saya terkesan sengaja dibangun “dinding penghalang” atau entah memang karena kesibukan beliau yang luar biasa.- Terimakasih.

 

Salam Hormat Saya

ALI AMRAN

 

Surat terbuka ini saya sampaikan secara khusus kepada :

  1. Bupati Agam
  2. Ketua DPRD Agam
  3. Anggota DPRD Sumbar
  4. Kepala DPMN Agam
  5. Pimpinan Media Massa di Kabupaten Agam
  6. Pihak Lain Yang Bersangkutan .
0Shares