Surat Terbuka Ali Amram Memantik Polemik, H.Nofrizon : Dampak Komunikasi Tersumbat

Lubukbasung,kaba12 — Surat terbuka Ali Amran, Walinagari (non aktif) Salo,Kecamatan Baso memantik polemik banyak pihak.Banyak yang menyesalkan hal itu akibat tersumbatnya komunikasi yang mestinya tidak terjadi di tubuh pemerintahan bahkan ditengah masyarakat Kabupaten Agam.

Banyak pihak bersimpati dengan langkah Ali Amran. Pasalnya, niat ikhlas dengan mengorbankan segalanya untuk kemajuan nagari, justru tidak direspon oleh pimpinan sendiri. Hal itu harus disikapi dengan baik, termasuk dengan mengundurkan diri.

Salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Agam yang bereaksi atas mundurnya Ali Amran sebagai Walinagari itu adalah H.Nofrizon, Anggota DPRD Sumbar dari Fraksi PPP yang mengaku kaget dengan sikap yang diambil Ali Amran.

Nofrizon mengaku sudah mengenal lama sosok Walinaari (non aktif) Salo, sebagai perantau yang sukses di Batam, Kepulauan Riau, mantan pejabat Bea Cukai Batam dan Ketua IKLA Batam yang disegani dan tegas.
“Selaku warga dan bagian dari pelaku kegiatan pembangunan di Kabupaten Agam sejak masa pemerintahan Bupati Aristo Munandar yang menjabat 2 periode, Indracatri 2 periode dan Andriwarman 1 periode, baru dimasa Beny Warlis ini saya temukan hal seperti ini. Ini luar biasa, “sebutnya dengan nada serius.

Pasalnya, dimasa 3 kepala daerah yang dikenalnya itu, hubungan harmonis terjalin antara kepala daerah dengan walinagari yang merupakan ujung tombak pembangunan daerah. Bahkan, 3 kepala daerah itu, menjadikan masukan para walinagari untuk melakukan evaluasi dan mendorong terlaksananya kegiatan di daerah.

“Di masa pak Aristo polanya lain, masa pak Indracatri beda, termasuk saat Pak AWR, tapi intinya mereka dekat dengan walinagari. Bahkan, saking dekatnya, saya lihat seluruh walinagari punya seragam sirah, baju sirah, topi sirah, sepatu sirah. Itu wujud kedekatan dan harmonisasi. Kenapa saat ini, jadi beda, kaget saya , “sebut Nofrizon.

Anggota DPRD Sumbar itu, bahkan menyebut hingga saat ini, tidak terdengar ada pertemuan khusus dengan seluruh walinagari untuk membahas hal-hal krusial berkaitan dengan program daerah, termasuk program unggulan yang mestinya menjadikan walinagari sebagai mitra.

“Pertemuan walinagari hanya saat buka puasa bersama, itupun tidak semua. Lainnya, hanya berupa surat, instruksi dan penekanan. Sejak pak BW menjabat Bupati Agam, belum pernah rakor dengan walinagari, kecuali acara seremonial dan buka bersama. Mestinya ada rapat koordinasi, evaluasi dan lainnya. Entah kalau belum, “sebutnya.

Secara spesifik, Nofrizon yang dikenal garang menyoroti program pemerintah itu, pihaknya tidak ada tendensi apapun, karena dia hanya mengingatkan, pasalnya pasangan Beny Warlis -M.Iqbal merupakan pasangan yang diusung bersama PKS-PPP, “saya dari PPP, karena murni untuk mengingatkan, bukan kampanye politik atau apa. Kampanye nanti, tahun 2028. Ini untuk kepentingan masyarakat dan kemajuan Agam, “tegasnya.

Nofrizon menyorot lemahnya jalinan koordinasi dan komunikasi jajaran Pemkab.Agam saat ini dengan para walinagari, terutama menyikapi pelaksanaan progul. Anggota DPRD Sumbar ini menilai progul baik SPM maupun Bangkik dari Surau tidak terukur dan kreatif.

“SPM saya nilai sawah murah yang terbayar mahal. Dalam hal ini, yang sukses Ir.Djoni. Djoni pernah menelpon saya untuk menyiapkan pokir untuk SPM. Tapi saya tidak mau, karena saya nilai tidak akan akan memberi hasil yang optimal pada petani, “tegasnya.

Nofrizon menyebut, program padi sabatang yang digagas Djoni ternyata gagal.Sekarang sawah pokok murah, “Setelah saya lihat dilapangan sawah pokok murah tidak segampang disampaikan Ir. Djoni, bahkan pemborosan biaya yang tidak terukur. Sawah pokok murah malah biayanya sampai puluhan juta. Jerami saja dibeli. Mestinya di mapping dulu, kondisi areal, kondisi wilayah dan lainnya, hal ini mestinya jadi catatan, “sebut Nofrizon lagi.

Disebutkan Nofrizon, Bupati Agam, mestinya melakukan kajian bersama melibatkan walinagari, dilakukan pembenahan infrastruktur pertanian,atau langkah tekhnologi yang memudahkan petani untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal, “saya melihat tidak terukur dan banyak keluhan-keluhan lain yang diceritakan kelompok-kelompok tani tentang sawah pokok murah ini dan kurang etis saya sampaikan disini”sebutnya.

Disisi lain, politisi senior itu, menyebut langkah progul Bangkik Dari Surau yang dilakukan Bupati Agam sebelumnya, seperti Bupati Aristo Munandar dengan Agam Madani, Magrib Mengaji, yang dilanjutkan Bupati Indracatri dengan merealisasikan pembangunan infrastuktur sarana ibadah, jalan ke masjid, WC masjid dan sarana lampu jalan menuju masjid.

“Masa pak AWR, dilanjutkan dengan program rumah tahfidz, masalah pendidikan. Saat ini sudah menjamur, ribuan anak-anak sudah diwisuda tahfidz. Apakah Pak BW( Beny Warlis) tidak melihat hal itu. Mestinya, terobosan para pendahulu itu diramu menjadi sebuah terobosan yang saling berkesinambungan, “tegasnya.

Menjawab kaba12, progul Bupati Agam itu justru sudah memiliki acuan, panduan dan tahapan tersendiri yang poinnya untuk mendorong peran aktif masyarakat, direspon oleh Nofrizon, yang menyebut akar masalahnya justru kurangnya komunikasi dan informasi, sehingga banyak pihak yang tidak paham, tidak tahu dan tidak mengerti, “ kuncinya dengan komunikasi dan saling bersilaturrahmi, “tegasnya.

“Dengan 8 anggota DPRD Sumbar dari Dapil Agam – Bukittingi saja, hingga saat ini belum pernah ada silturrahmi dengan Bupati Agam. Kami 8 orang minimal bisa berkontribusi hingga Rp48 miliar setahun melalui dana pokir. Kalau dulu, kami justru dibuat sibuk oleh kepala daerah yang meminta dukungan agar berbagai program diarahkan ke Kabupaten Agam. Sekarang beda, mungkin beliau sibuk. Tapi kami tetap mengalokasikan kegiatan untuk masyarakat sesuai janji politik pada masyarakat, “tegasnya.

Menjawab kaba12,terkait solusi yang harus dilakukan masalah pengunduran Walinagari Salo termasuk gonajng-ganjing dampak tidak harmonisnya komunikasi di Kabupaten Agam, Nofrizon menyarankan agar Bupati Agam bisa melakukan evaluasi secara menutup, lakukan pembinaan jika ada masalah, jemput bola ke lapangan.

“Bukan menutup komunikasi. Ini baru Nagari Salo, entah masih ada reaksi dari nagari-nagari lain, saya berharap hal ini menjadi catatan khusus, demi kemajuan kabupaten Agam kedepan. Ini hanya dampak dari komunikasi yang tersumbat, “tegasnya berharap.

(HARMEN)

0Shares