Kaba Terkini

Seminar Internasional, Merajut Tenun Diplomasi Antara Indonesia-Belanda : Pergerakan Kemerdekaan Hingga Repatriasi

Bukittinggi, KABA12 — Pemerintah Kota Bukittinggi didukung Kementrian Kebudayaan gelar seminar internasional, dalam rangka peringatan 100 tahun Jam Gadang. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Sidang Hatta, Sabtu (20/06).

Seminar internasional ini, mengangkat tema, “Merajut Tenun Diplomasi antara Indonesia dan Belanda : Pergerakan Kemerdekaan Hingga Repatriasi”.

Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menyampaikan terima kasih atas dukungan Kementrian Kebudayaan dan seluruh pihak lain yang mendukung pelaksanaan peringatan 100 tahun Jam Gadang. Momen ini sangat bersejarah, mengingat sudah 100 tahun Jam Gadang berdiri di Bukittinggi, sebagai salah satu saksi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan kegiatan ini, tentu menjadi langkah untuk memperkuat hubungan diplomatik Indonesia dan Belanda, khususnya Bukittinggi dan Belanda. Tidak hanya itu, dengan hadirnya 38 negara pada perhelatan 100 tahun Jam Gadang, tentu membuka peluang kerjasama dengan negara negara itu.

“Dengan kerjasama itu, kita ingin ada keuntungan bagi daerah Bukittinggi, yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Juni 2026, Jam Gadang genap berusia 100 tahun. Dalam 100 tahun itu, banyak hal yang terjadi. Namun di tengah banyak perubahan itu, Jam Gadang tetap berdiri tegak di jantung Kota Bukittinggi.

“Jam Gadang bukan hanya menara jam. Ia menjadi saksi sejarah. Ia penjaga memori kolektif masyarakat. Ia adalah simbol identitas sebuah kota. Ia penghubung masa lalu, masa sekarang dan masa depan,” ungkap Ramlan.

Tidak banyak kota di Indonesia yang memiliki posisi historis sekuat Bukittinggi. Sejarah ini bukan hanya untuk dibaca, tapi menjadi pelajaran berharga bagi anak bangsa dan dapat menjadi dasar dalam menjalin hubungan diplomatis dengan Belanda dan negara lainnya.

Bukittinggi memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah perjuangan bangsa melalui keberadaan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Ketika eksistensi Republik Indonesia menghadapi ancaman serius pada masa agresi militer Belanda, semangat perjuangan tidak pernah padam. Dari Sumatera Barat, dari Bukittinggi dan wilayah sekitarnya, lahir tekad untuk memastikan bahwa Republik Indonesia tetap berdiri.

“Karena itu, ketika hari ini Pemerintah Kota Bukittinggi mengusung berbagai daya dan upaya untuk mewujudkan sebagai Kota Perjuangan, sesungguhnya yang kami bangun bukanlah slogan semata. Yang kami bangun adalah kesadaran sejarah. Yang kami bangun adalah karakter. Yang kami bangun adalah nilai-nilai perjuangan yang harus diwariskan kepada generasi muda. Kami memiliki cita-cita besar. Kami ingin menjadikan Bukittinggi bukan hanya sebagai Kota Perjuangan Indonesia, tetapi juga sebagai salah satu pusat pembelajaran sejarah perjuangan bangsa- bangsa di dunia. Kami ingin Bukittinggi menjadi tempat di mana generasi muda belajar tentang kemerdekaan, demokrasi, toleransi, keberagaman, dan kemanusiaan. Kami ingin Bukittinggi menjadi ruang dialog antara sejarah dan masa depan. Kami ingin Bukittinggi menjadi kota yang mampu membangun perdamaian melalui pendidikan dan kebudayaan. Peringatan 100 Tahun Jam Gadang adalah titik awal menuju cita-cita besar tersebut,” tegas Wako Ramlan.

Dalam momen seminar internasional ini, Pemko Bukittinggi menawarkan beberapa agenda strategis, kerjasama internasional. Pengembangan pusat arsip digital sejarah Bukittinggi dan hubungan Indonesia – Belanda. Pembentukan jejaring penelitian internasional, mengenai sejarah, budaya dan pendidikan. Pertukaran pelajar, guru, dosen dan peneliti. Pengembangan museum digital berbasis teknologi mutakhir. Penguatan ekonomi kreatif berbasis warisan budaya. Pengembangan wisata sejarah dan pendidikan. Serta penyelenggraan forum tahunan kota bersejarah dunia di Bukittinggi.

Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonsia, Marc Gerritsen, menyampaikan, Bukittinggi memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia. Perlawanan masyarakat Minangkabau terhadap kolonialisme telah memperkuat identitas masyarakat yang berlandaskan adat dan agama, sekaligus melahirkan banyak tokoh intelektual dan pemimpin bangsa. Peran Bukittinggi dalam sejarah nasional, termasuk berdirinya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 1949.

“Hubungan Belanda dan Indonesia, khususnya Minangkabau, tidak hanya terjalin melalui sejarah, tetapi juga melalui pendidikan, budaya dan ekonomi. Jam Gadang sebagai simbol persahabatan yang langgeng antara kedua negara. Menara jam yang menjadi ikon Kota Bukittinggi itu telah menjadi saksi berbagai peristiwa penting selama satu abad terakhir,” ungkapnya.

Menteri Kebudayaan RI, Prof. Fadli Zon, menyampaikan apresiasi atas inisiasi Pemerintah Kota Bukittinggi yang telah menggerakkan tidak hanya kesadaran pada sejarah dan budaya, tetapi juga menggerakkan ekonomi serta multiplier effect lainnya melalui peringatan 100 Tahun Jam Gadang. Ia menilai kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat identitas budaya sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat dan perekonomian daerah.

Jam Gadang ini dibangun 100 tahun lalu sebagai simbol perjalanan sejarah Minangkabau dan juga sejarah kemerdekaan Indonesia. Jam Gadang bukan sekadar ikon wisata, tetapi simbol perjalanan panjang sejarah masyarakat Minangkabau dan Kota Bukittinggi.

“Bukittinggi jadi simbol sejarah kemerdekaan Indonesia. Untuk itu, saya mendorong terus bagaimana slogan Bukittinggi Kota Perjuangan harus dikedepankan,” ungkapnya.

Fadli Zon, menambahkan, Bukittinggi memiliki peran penting dalam sejarah bangsa, terutama sebagai pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 1948. Ia menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai identitas bangsa dan berharap peringatan 100 Tahun Jam Gadang menjadi momentum memperkuat pelestarian budaya Minangkabau dan Indonesia.

“Sejarah itu penting dan saat ini tugas seluruh pihak adalah bagaimana menjaga warisan budaya tersebut agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” ungkapnya.

(Ophik)

0Shares
Seminar Internasional, Merajut Tenun Diplomasi Antara Indonesia-Belanda : Pergerakan Kemerdekaan Hingga Repatriasi
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 0   +   6   =  

To Top