Catatan 12

ROMI DEFRIAL

Gegara rokok, kami bareng-bareng masuk ruang BP. Gegara bolos pun demikian. Panjat pagar pun sama. Dan gegera hal sepele karena tak pakai kaos kaki pun, kami digiring ke ruang BP bersama.
Kemana kami pergi kalau bolos? Ke warkop di pojok terjauh Pasar Baru. Pemiliknya bernama Uda Am. Kalau kami bolos, kami menghabiskan waktu sampai jam dua di sana. Main domino, ngopi, lapuak lapak merokok, tiduran, dan lain-lain.
Pernah juga kami bertiga, saya, Romi, dan Hendra putra Busma, bolos, lalu jalan kaki dari Pasar Baru ke Pasar Lama, lewat jalur alternatif belakang. Pekerjaan tak bermanfaat, hanya untuk menghabiskan waktu, dan ketawa-ketiwi sepanjang jalan. Lalu sesampai di Pasar Lama, kami malah berbalik pulang naik angkot atau berbalik ke Pasar Baru. Pekerjaan sia-sia. Pengisi kebosanan.
Kadang pula, kalau kami bolos, sekali-kali kami pergi ke danau Maninjau, sekedar cuci mata. Dan bagi saya ketika itu, ke Danau maninjau adalah ajang untuk menyempurnakan bahasa inggris saya. Di sana bisa ketemu bule-bule, dan saya bisa praktek bahasa Inggris langsung, mempraktekan apa yang sudah saya dapatkan di Lembaga Kursus.
Dan pengalaman berdua yang paling berkesan bersama Beliau adalah saat kami dikeroyok di depan sekolah hanua berdua. Semua orang terasa entah dimana, hanya kami berdua. Lalu mendadak siswa-siswa dari beberapa sekolah lain menyerang kami. Saya untungnya tidak apa-apa. Tapi Romi, kepala bagian belakangnya kena jatah, konon kena tonjokan yang mana si tangan pemukul memakai alat bantu berupa besi.
Akhirnya kami menamatkan SMA bersama. Hebatnya, Romi mengantongi nilai NEM tertinggi di semua kelas IPS. Wow. Dan saya ada di bawah beliau sedikit. Romi memutuskan kuliah di Universitas Bung hatta, jurusan Teknik mesin. Dan saya memutuskan ke Bandung. Setelah itu, praktis komunikasi kami sangat terbatas. Ketika itu belum ada facebook. Dan internet belum booming.
Tahun 2007, Romi mendatangi saya ke Bandung. Beliau menumpahkan kerisauannya ke saya. Sudah tiga kali ajuan skripsi diajukan, tak jua kunjung lolos. Di bandung kami carikan akal dan alhamdulillah hasilnya bagus. Beberapa bulan kemudian, Beliau jadi sarjana. Sangat menggembirakan.
Tahun 2012, saya pulang kampung, kami kembali bernostalgia. Bertemu dan jalan-jalan bersama. Berputar-putar dan makan-makan. Bercerita ini dan itu. Pertengahan tahun lalu saya juga pulang. Sayang hanya beberapa hari. Kami tak sempat bertemu. Dan awal tahun baru ini, saya pun sempat menyambangi kampung beberapa hari. Kami pun tak bersua. Karena jadwal saya sangat mepet dan harus kembali ke Jakarta.
Dan kini, jika saya pulang kampung, praktis saya hanya akan bertemu pusara, pusara Romi Defrial, sahabat terdekat saya saat SMA. It’ll be so sad, right. Pertama mendapat berita tentang Romi, hati saya luluh. Saya takut membayangkan beliau sudah tidak ada. Tapi kenyataan tak bisa ditolak. Malang ndak dapek ditolak. Mujur ndak dapek diraiah. Begitu pepatah minangnya. Sudah jadi garisan hidup setiap orang bahwa umur hanya Tuhan yang tau. Selamat jalan. Istirahat yang tenang, Body. We’ll be gona miss you. And we’ll be gona remember you.
RPS to RD
Jakarta, 11 Jan 2016
0Shares

Laman: 1 2

To Top