Kaba Bukittinggi

Ramadhan Pasca PSBB dan PPKM

Oleh : Ibnu Asis

“Ramadhan tiba, ramadhan tiba. Marhaban ya ramadhan, marhaban ya ramadhan”. (Opick-Ramadhan Tiba).

Sayyidul syuhur atau penghulu para bulan. Itulah julukan indah, karena keutamaan dan keagungannya, untuk bulan Ramadhan yang dengan kehendak dan izin Allah Swt hadir menyapa kita dan milyaran kaum muslimin di seantero bumi persada.

Ramadhan tahun ini datang di saat negeri ini dan juga negeri-negeri di belahan bumi lainnya masih dilanda wabah covid-19 yang memiliki banyak varian dan nama. Juga dengan tingkat intensitas dan agresivitas yang relatif tidak sama.

Khusus di negeri rayuan pulau kelapa ini diketahui bahwa sebagian daerah; provinsi dan kota atau kabupaten, masih berada di bawah pengaruh dan bayang-bayang infeksi varian omicron.

Walaupun berdasarkan beragam data dan informasi akurat dan terpercaya dari stakeholder terkait penanganan dan pencegahan penularan Covid-19; progres serta grafik penularannya dan dampak yang ditimbulkannya relatif semakin melandai dari hari ke hari.

Oleh karenanya, kita mesti memiliki optimisme dan keyakinan yang kuat, bahwa setiap individu kaum muslimin, khususnya yang berada dan berkativitas di ranah minangkabau tercinta , akan membersamai bulan Ramadhan dalam situasi dan kondisi yang agaknya akan kembali normal seperti sedia kala.

Hal ini dapat dimaknai dan dipahami bahwa insya allah kita akan berada pada bulan mulia penuh keberkahan ini tanpa adanya kebijakan yang ketat dan mengikat dari para pengambil kebijakan; baik pemerintah, pemerintah provinsi hingga pemerintah kota dan kabupaten; seperti penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sebagaimana halnya pada 2 (dua) kali ramadhan sebelumnya secara berturut-turut.

Maka dengan demikian hampir dapat dipastikan bahwa pada Ramadhan kali ini, kita dapat kembali melaksanakan rangkaian ibadah dan amaliyah Ramadhan dengan penuh khidmat dan paripurna menjemput derajat taqwa sebagaimana yang telah dijanjikan Allah Swt dalam surat Al-Baqarah ayat 183.

Beberapa hal berikut kiranya dapat dijadikan pedoman sekaligus panduan untuk memulai kembali gerak-langkah terpadu pelaksanaan aktivitas Ramadhan pasca tidak lagi ada penerapan aturan PSBB dan PPKM menuju kehidupan normal pasca pandemi.

  1. Protokol Kesehatan Tetap.

Protokol Kesehatan (Prokes) tetap adalah sebuah keniscayaan pasca penerapan PSBB dan PPKM. Pròkes tetap sejatinya adalah upaya minimal dalam rangka memberikan perlindungan dini terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar dari kemungkinan terinfeksi atau terpapar virus yang membahayakan, seperti covid-19 atau yang lainnya. Pròkes tetap juga berarti kesiapan diri menjaga kesehatan dan kebugaran jasmani guna memantapkan rangkaian ibadah dan amaliyah selama bulan Ramadhan yang penuh keberkahan dan kemuliaan ini.

  1. Rumah Hunian Sehat.

Rumah sehat sejatinya adalah hunian tempat bernaung keluarga yang selalu terjaga kebersihannya, keasriannya, keindahannya dan kelayakannya. Rumah tempat tinggal atau hunian sehat diyakini merupakan salah satu pra syarat utama untuk menghadirkan ibadah yang khusyuk, fokus dan tenang di rumah tersebut. Disamping itu, keberadaan rumah yang sehat menjadi penunjang terciptanya harmonisasi dan komunikasi serta suasana hati yang baik bagi para penghuninya. Dari rumah sehat inilah terpancar semangat kebersamaan dan kolaborasi untuk berbagi dan melayani sesama umat.

  1. Tempat Ibadah Suci Bersih.

Tempat Ibadah yang suci bersih seperti masjid, mushala, langgar atau sebutan lainnya, merupakan dambaan sekaligus pilihan hati setiap kaum muslimin dan muslimah. Tempat Ibadah yang memiliki konsep penataan dan transparansi pengelolaan yang baik dan berkualitas, serta menawarkan banyak alternatif pilihan kegiatan akan menjadi “magnitude” kenyamanan tersendiri bagi para jamaahnya. Di samping itu, tempat ibadah yang menyediakan banyak fasilitas dan kemudahan untuk memanjakan para jamaahnya; diyakini akan tetap ramai dan semarak bahkan melimpah sampai setelah Ramadhan berakhir.

  1. Kehadiran Pemangku Kepentingan.

Pemerintah sesuai tingkatannya, selaku pemangku kepentingan utama perlu hadir dan eksis membersamai rakyat selama bulan Ramadhan. Pemerintah perlu memastikan kondusifitas pelaksanaan aktifitas religius dan semangat spiritual warga masyarakat dengan menjamin optimalisasi situasi dan kondisi kamtibmas.

Selain itu, secara ekonomis pemerintah juga perlu memastikan keamanan dan ketersediaan pasokan kebutuhan pokok masyarakat dan kebutuhan lainnya sebagai konsekuensi logis dari kecenderungan meningkatnya daya beli masyarakat di bulan berlimpah pahala ini.

  1. Implementasi Perda AKB

Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Sumatera Barat nomor 6 tahun 2020 tentang Adaptasi Kebiasan Baru (AKB) beserta peraturan sejenis lainnya di tingkat Kota/Kabupaten yang ada, sejatinya merupakan regulasi yang akan memandu masyarakat untuk beraktivitas selama masa pandemi dan pasca pandemi covid-19. Di samping itu, regulasi tersebut menjadi alat ukur bagi pemerintah daerah terkait untuk melakukan evaluasi atas kepatuhan masyarakat menjalankan perda tersebut. Jika implementasi regulasi tersebut dijalankan dengan baik dan benar; maka Insyaallah Ramadhan kali ini benar-benar bebas PSBB dan PPKM.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jika kelima hal tersebut di atas bisa diantisipasi dan disiapkan secara masif dan komprehensif, maka boleh jadi Ramadhan tahun ini benar-benar akan kita jalani tanpa adanya kebijakan PSBB dan PPKM untuk menghadirkan pribadi-pribadi taqwa yang akan mendapatkan ampunan dan ganjaran pahala yang berlimpah-ruah sebagaimana yang telah dijanjikan Allah Swt bagi para “shaimin” dan “shaimat” dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat ke-35. Semoga.

To Top