Padang, kaba12 — Rapat Kerja Kabupaten (Rakerkab) KONI Agam yang berlangsung di Hotel Axana, Padang, Senin (10/10), menghadirkan Mayjen TNI (Purn) Eko Budi S. selaku Kepala Bidang Organisasi KONI Pusat sebagai narasumber.
Kehadirannya untuk memberikan pemaparan dan pemahaman kepada peserta Rakerkab KONI Agam mengenai penguatan organisasi olahraga, tata kelola, serta strategi membangun sinergitas dan soliditas untuk meningkatkan prestasi atlet.
Eko Budi mengatakan keberhasilan pembinaan olahraga tidak hanya ditentukan oleh kemampuan atlet, tetapi juga sangat bergantung pada kualitas tata kelola organisasi.
“Untuk mewujudkan prestasi atlet, dibutuhkan tata kelola organisasi yang transparan dan akuntabel, serta kolaborasi strategis antara pemerintah, KONI, akademisi dan sponsor,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat tiga hal yang menjadi kunci keberhasilan, yakni integrasi program pembinaan, penguatan kemandirian organisasi, serta dukungan sport science.
Eko Budi kemudian memaparkan empat pilar yang harus diperkuat organisasi olahraga, pertama ialah tata kelola organisasi yang baik.
Ia menekankan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana dan program pembinaan atlet, perencanaan strategis jangka panjang, serta penerapan standar pengelolaan yang efisien dan efektif.
“Kita harus memastikan organisasi dikelola secara transparan dan akuntabel, perencanaan juga harus dilakukan dengan baik agar tidak terjadi tumpang tindih peran antar-lembaga,” katanya.
Pilar kedua adalah kolaborasi multipihak. KONI, menurutnya, perlu memperkuat sinergi dengan pemerintah, perguruan tinggi dan sponsor untuk mendukung pembinaan atlet.
“Kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi dan sponsor sangat penting, bahkan kerja sama dengan institusi akademik dapat membantu mengubah manajemen olahraga konvensional menjadi berbasis sport science,” ujarnya.
Selanjutnya, penguatan kapasitas pelatih dan wasit juga menjadi perhatian, Eko Budi mendorong pelaksanaan coaching clinic, sertifikasi dan pelatihan berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi teknis sekaligus memperkenalkan metode sport science dalam pembinaan.
“Pelatih dan wasit harus terus meningkatkan kapasitas dan kompetensinya. Pembinaan tidak boleh berhenti, karena perkembangan ilmu dan metode olahraga juga terus berubah,” katanya.
Pilar keempat adalah pemanfaatan sport science dan penguatan infrastruktur. Menurutnya, teknologi dapat digunakan untuk menganalisis performa atlet, sementara dukungan riset akademik dapat dimanfaatkan dalam aspek nutrisi, psikologi olahraga dan biomekanika.
Dalam pemaparannya, Eko Budi juga menjelaskan posisi KONI sebagai organisasi keolahragaan nasional, ia menegaskan KONI memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam mengelola, membina, mengembangkan dan mengoordinasikan olahraga prestasi.
“KONI merupakan organisasi keolahragaan yang tidak berafiliasi dengan kekuatan politik manapun dan bersifat nirlaba,” tegasnya.
Ia juga memaparkan tugas KONI dalam membantu pemerintah dan pemerintah daerah membuat kebijakan di bidang pengelolaan, pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi, termasuk mengoordinasikan induk organisasi cabang olahraga prestasi.
Selain tata kelola, peserta Rakerkab juga diberikan pemahaman mengenai mekanisme organisasi KONI, termasuk masa bakti kepengurusan, ketentuan rangkap jabatan, serta tugas dan kewenangan Rakerkab.
Menurut materi yang disampaikan, Rakerkab dilaksanakan sekali dalam setahun dan memiliki sejumlah kewenangan, antara lain membahas laporan pelaksanaan program kerja dan keuangan, rencana program kerja tahunan, persoalan keanggotaan, serta berbagai hal yang berkaitan dengan perkembangan pembinaan olahraga prestasi.
Eko Budi juga menyoroti pentingnya kualitas kepemimpinan dalam organisasi olahraga. Ia menyebut sedikitnya ada 10 kriteria yang harus dimiliki seorang pemimpin organisasi olahraga, di antaranya memiliki visi dan misi yang jelas, kemampuan komunikasi, integritas, kemampuan mengambil keputusan, empati, kemampuan mengelola konflik, keterampilan delegasi, fleksibilitas dan adaptabilitas, komitmen mengembangkan tim, serta ketahanan dan ketenangan di bawah tekanan.
“Pemimpin organisasi olahraga harus memiliki visi yang jelas, integritas, kemampuan berkomunikasi dan mengambil keputusan. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan mengelola konflik, membangun tim, serta tetap tenang ketika menghadapi tekanan,” katanya.
Menutup pemaparannya, Eko Budi menegaskan bahwa prestasi atlet harus dibangun melalui organisasi yang kuat dan memiliki hubungan baik dengan berbagai pihak.
“Untuk mewujudkan prestasi atlet, organisasi olahraga harus solid secara internal dan sinergis secara eksternal,” ujarnya.
Ia menilai tata kelola organisasi yang baik, kolaborasi lintas sektor, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta dukungan sport science dapat menjadi modal bagi Kabupaten Agam untuk mencetak atlet berprestasi yang mampu bersaing di tingkat provinsi maupun nasional.
Melalui kegiatan itu, peserta diharapkan memiliki pemahaman yang semakin kuat mengenai tata kelola organisasi, kepemimpinan, kolaborasi, dan pola pembinaan olahraga yang lebih modern untuk mendorong kemajuan prestasi olahraga di Kabupaten Agam.
(Taufiq)
