Kaba Tausyiah

Puasa Bukan Sekedar Menahan Lapar, Tapi Juga Menahan Diri Dari Perbuatan Dosa

Lubukbasung, kaba12 — Banyak orang mampu menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Namun, tidak semua mampu menahan amarah, menjaga lisan, dan mengendalikan hawa nafsu. Di sinilah letak ujian sebenarnya dalam ibadah puasa.

Ramadhan bukan sekedar perubahan jadwal makan, ia adalah perubahan sikap. Jika setelah berpuasa seseorang masih mudah marah, gemar menyebarkan kabar yang belum tentu benar, atau tetap lalai dalam kewajiban, maka yang berubah mungkin hanya pola makanya, bukan kualitas imannya.

Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum ” (HR.Bukhari no.1903).

Hadist ini menjadi peringatan tegas, bahwa puasa bukan hanya formalitas ritual. Ia bukan sekadar menahan lapar yang bisa diganti dengan pesta berbuka. Puasa ialah latihan total seperti fisik, mental dan spiritual.

Menahan diri dari dosa berarti menjaga lisan dari ghibah dan fitnah. Di era digital, ini semakin relavan, jari yang menekan tombol “kirim” atau “share” juga akan dimintai pertanggungjawaban. Menyebarkan hoaks, mencela orang lain di media sosial, atau memicu perdebatan yang sia – sia bisa menggerus pahala puasa tanpa kita sadari.

Menahan diri juga berarti mengendalikan emosi. Ramadhan mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan pada suara yang keras atau argumen yang tajam, melainkan pada kemampuan menguasai diri. Saat emosi memuncak, ingatlah bahwa kita sedang berpuasa. Bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan amarah.

Puasa sejatinya membentuk integritas, tidak ada yang mengawasi apakah seseorang benar – benar berpuasa atau diam – diam membatalkannya. Namun, seorang mukmin tetap menjaga puasanya karena Allah Maha Melihat. Inilah latihan kejujuran paling murni.

Ramadhan 1447 H seharusnya menjadi momentum memperbaiki kebiasaan buruk. Jika sebelumnya mudah berbohong, kini belajar berkata jujur.

Jika sebelumnya sulit memaafkan, kini belajar melapangkan dada. Jika sebelumnya lalai menjaga pandangan, kini mulai menundukannya.

Jangan sampai kita termasuk orang yang hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga. Puasa berkualitas adalah puasa yang membekas dalam perilaku.

Setelah Ramadhan berlalu, amarah lebih terkendali, lisan lebih terjaga, dan hati lebih lembut.

Karena pada akhirnya, yang diuji bukan seberapa kuat kita menahan lapar, tetapi seberapa kuat kita menahan diri dari dosa, dan itulah kemenangan sejati di bulan suci Ramadhan.-

(TAUFIQ/*)

0Shares
Puasa Bukan Sekedar Menahan Lapar, Tapi Juga Menahan Diri Dari Perbuatan Dosa
To Top