Oleh : H.Akmal Famajra, Banuhampu
Pengantar Redaksi :
Mr.Assaat Datuak Mudo, adalah sosok luar biasa. Tokoh penting dimasa transisi pemerintahan setelah pengakuan kedaulatan Indonesia dari Belanda dimasa agresi militer. Peran penting, tokoh bangsa asal Nagari Kubang Putiah, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam,Sumatera Barat itu, menjadi penentu tapakan masa depan bangsa ini.
Komitmen dan ikrar nuraninya yang luar biasa untuk memposisikan Indonesia sebagai negara yang betul-betul merdeka dan berdaulat, menjadi proses penting dalam tahapan bangsa Indonesia untuk betul-betul lahir sebagai sebuah negara, sebuah bangsa yang merdeka, dihormati dan berdaulat sesuai dengan azas berdemokrasi.
Sosok Mr.Assaat Datuak, jalan perjuangannya sangat panjang dengan segala pengorbanan dan diderita yang dialami, namun tetap dengan ikhlas mengabdi sesuai dengan ikrar berbangsa itu, hingga kini masih menanti pengakuan Bangsa dan Negara Indonesia sebagai seorang pahlawan yang berjasa menapak perjalanan berbangsa.
Upaya mendapatkan pengakuan Pahlawan Nasional untuk sosok Mr.Assaat Datuak Mudo, yang sejak tahun 2019 lalu sudah diapungkan namun tertunda karena dampak pandemic, kini dalam suasana Hari Pahlawang 2025, para tokoh masyarakat Kabupaten Agam dan para pemuka warga Sumatera Barat, khususnya yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Banuhampu (IKB) Pekanbaru, Riau kembali berupaya mengajukan usulan pada pemerintah pusat, agar salah satu penentu berkibarnya Merah Putih di Republik ini, mendapatkan penghormatan dan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional.
Untuk menghadirkan sosok ini ke tengah public, kaba12, sengaja merilis buku khusus Biografi Mr.Assaat Datuak Mudo yang ditulis H.Akmal Famajra, seorang Jurnalis Senior asal Banuhampu, Kabupaten Agam yang menjadi ketua tim pengusulan Mr.Assaat Dt.Mudo sebagai Pahlawan Nasional.
Tulisan ini, akan diterbitkan setiap hari, seiring perjuangan dan upaya bersama seluruh elemen terkait dalam rangkaian memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional untuk sosok Presiden Kedua Republik Indonesia ini. Berikut ulasannya :
Lahirnya Sang Tokoh Bangsa Indonesia :
Mr. Assaat Datuak Mudo adalah salah seorang tokoh bangsa yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Indonesia. Ia dikenal luas sebagai Presiden Republik Indonesia yang melebur negara-negara serikat menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang dikenal dengan sebutan NKRI. Ia (Mr. Assaat ) yang memimpin bangsa dalam masa transisi setelah pengakuan kedaulatan dari Belanda.
Masa Kecil Mr. Assaat :
Masa kecil Mr. Assaat Datuak Mudo merupakan fondasi penting yang membentuk kepribadiannya kelak sebagai seorang tokoh bangsa. Ia lahir dari keluarga religius dan terhormat, tumbuh di lingkungan Minangkabau yang kental dengan adat dan Islam, serta mendapat kesempatan pendidikan yang membekali dirinya dengan pengetahuan modern. Dari pengalaman kecilnya di surau, sawah, dan sekolah, lahirlah seorang pribadi yang disiplin, cerdas, jujur, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
Sebelum namanya tercatat dalam lembaran sejarah nasional, Assaat pernah menjalani masa kecil seperti anak-anak lain pada zamannya. Kisah masa kecilnya tidak bisa dilepaskan dari latar belakang keluarga, lingkungan sosial Minangkabau, dan pendidikan yang ditempuhnya di tanah kelahiran.
Latar Belakang Keluarga dan Kelahiran
Mr. Assaat lahir di sebuah kampung Pincuran Landai, Nagari Kubang Putiah, Kecamatan Banuhampu, sebuah nagari di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada tanggal 18 September 1904. Ia lahir dari keluarga yang menganut adat Minangkabau, dikenal sebagai etnis yang menjunjung tinggi adat dan agama.
Ayahnya dikenal sebagai seorang yang taat beragama, sementara keluarganya memiliki posisi terhormat dalam masyarakat karena berasal dari kaum adat yang dihormati. Sejak kecil, Assaat tumbuh dalam suasana rumah tangga yang sederhana, namun penuh disiplin dan nilai keislaman.
Di Minangkabau, anak laki-laki memiliki peran penting dalam keluarga, walaupun sistem kekerabatan menganut garis ibu (matrilineal). Hal ini menjadikan seorang anak harus mampu menyesuaikan diri dengan adat istiadat yang berlaku. Assaat kecil dididik dengan penuh ketegasan agar kelak mampu menjadi seorang pemimpin dalam keluarga maupun dalam masyarakat.
Lingkungan Sosial dan Budaya
Banuhampu, kampung halaman Assaat, pada awal abad ke-20 merupakan daerah yang masih kental dengan kehidupan agraris. Sawah, ladang, dan surau menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Sejak kecil, Assaat akrab dengan alam pedesaan yang damai, diiringi semangat gotong royong dan kebersamaan yang menjadi ciri khas orang Minangkabau.
Lingkungan sosial di Banuhampu saat itu juga sarat dengan pengaruh adat dan agama Islam. Surau bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan pembinaan moral. Di sanalah anak-anak belajar mengaji, memahami dasar-dasar agama, dan berlatih kedisiplinan. Assaat kecil pun tumbuh dalam suasana itu. Hampir setiap sore ia belajar mengaji bersama teman-teman sebayanya di surau, dibimbing oleh guru agama setempat.
Pengaruh Adat dan Agama
Sebagai anak Minangkabau, Assaat tumbuh dalam lingkaran budaya yang kuat. Sejak kecil ia telah dikenalkan pada pepatah-petitih adat, ungkapan bijak, dan nilai-nilai hidup masyarakatnya. Ia belajar bahwa hidup harus dijalani dengan prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (adat bersendi syariat, syariat bersendi Al-Qur’an). Ungkapan ini begitu meresap dalam kehidupannya, membentuk pribadi yang religius sekaligus terbuka pada pengetahuan baru.
Kehidupan masa kecilnya di Banuhampu juga diwarnai dengan berbagai upacara adat, musyawarah kampung, serta tradisi gotong royong. Dari sinilah Assaat terbiasa hidup bermasyarakat dan belajar menghargai pendapat orang lain.
Masa kecil Assaat berlangsung di tengah perubahan besar yang dialami Hindia Belanda. Pada awal abad ke-20, Belanda mulai menerapkan Politik Etis yang membuka akses pendidikan bagi pribumi, meski terbatas. Kebijakan ini memungkinkan Assaat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia kemudian bersekolah di HIS (Hollandsch-Inlandsche School), sekolah dasar berbahasa Belanda yang hanya bisa dimasuki oleh anak-anak cerdas dan terpilih.
Dari bangku sekolah inilah wawasan Assaat mulai berkembang. Ia mengenal bahasa Belanda, ilmu pengetahuan Barat, dan mulai memahami adanya kesenjangan antara bangsa penjajah dengan bangsa yang dijajah. Benih-benih nasionalisme secara perlahan tertanam sejak masa kecil melalui pengalaman sehari-hari, baik di sekolah maupun dalam kehidupan masyarakatnya.
Sebelum dikenal sebagai Presiden Sementara Republik Indonesia, Mr. Assaat Datuak Mudo adalah seorang anak Minangkabau yang tumbuh dalam lingkungan adat dan keluarga besar yang menjunjung tinggi falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.”
Tradisi Minangkabau bukan sekadar warisan budaya, tetapi menjadi fondasi moral, sosial, dan intelektual yang membentuk watak Assaat sebagai seorang pemimpin republik yang jujur, rasional, dan berjiwa gotong royong.
Melalui latar keluarga dan lingkungan adatnya di Banuhampu, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kita dapat memahami bagaimana nilai-nilai Minang menumbuhkan karakter seorang negarawan.
Asal Usul Keluarga dan Latar Adat
Mr. Assaat lahir di Banuhampu, salah satu nagari tertua di Luhak Agam, daerah yang terkenal sebagai pusat intelektual dan pergerakan rakyat Minangkabau. Ia berasal dari suku Melayu, sebuah suku yang di Nagari Banuhampu memiliki peran penting dalam kehidupan adat dan pemerintahan nagari.
Dalam sistem sosial Minangkabau, garis keturunan ditarik secara matrilineal, yaitu melalui ibu. Artinya, Assaat tumbuh dalam lingkungan keluarga besar ibunya, di rumah gadang yang menjadi simbol persatuan kaum. Di sana, ia belajar nilai-nilai musyawarah, tanggung jawab terhadap mamak dan kemenakan, serta rasa malu (malu jo sopan) yang menjadi dasar budi pekerti Minangkabau.
Nilai yang tertanam sejak kecil dantaraya adalah rasa tanggung jawab terhadap kaum dan nagari — kelak tampak dalam komitmennya pada kepentingan bangsa. Kemudian terhadap Sifat hemat, disiplin, dan mandiri — nilai yang diwariskan dalam keluarga perantau Minang.Terakhir dalam Kecintaan terhadap ilmu dan debat — rumah gadang menjadi tempat diskusi adat dan agama yang membentuk pola pikir kritis Assaat.
Pendidikan dan Tradisi “Marantau”
Sejak remaja, Mr. Assaat hidup dalam tradisi Minang yang mendorong anak muda untuk “marantau” — meninggalkan kampung halaman demi mencari ilmu dan pengalaman.Tradisi ini berakar pada pepatah Minangkabau:“Karatau madang di hulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, di rumah baguno balun.” (Artinya, pergi merantau bujang dahulu –panggilan untuk laki-laki yang belum berkeluarga—karena dirumah, maksudnya dikampung belum perguna)
Perantauannya ke Jawa bukan sekadar untuk belajar, melainkan bagian dari perjalanan hidup anak Minang yang ingin mengangkat martabat keluarga dan kaum melalui pendidikan.
Dalam pandangan keluarga Minangkabau, ilmu adalah pusaka, dan gelar sarjana hukum yang diraih Assaat di zaman kolonial merupakan kebanggaan besar bagi kaum dan nagarinya. Ia menjadi contoh nyata perwujudan cita-cita adat: “alam takambang jadi guru.” ( Bersambung)