Palupuah, kaba12.com — Beberapa waktu belakangan, pengelolaan usaha madu “ galo-galo” semakin berkembang di kabupaten Agam. Bahkan, usaha ini menjadi potensi “cuan” tersendiri bagi masyarakat, khususnya bagi kalangan petani, karena banyak diminati warga, karena khasiatnya yang luar biasa untuk kesehatan.
Seperti usaha madu “galo-galo” yang dikelola Kelompok Tani Hutan (KTH) Batu Gajah Sepakat, di kawasan perhutanan sosial di Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuah, yang saat ini berkembang pesat, bahkan produksinya dikirim ke berbagai negara.
Pengembangan usaha madu “galo-galo” sejenis lilin lebah yang bahasa ilmiahnya Apis Trigona itu, oleh KTH Batu Gajah Sepakat, menjadi potensi tersebut khusus, yang teringretasi dengan pengembangan potensi pisang di kawasan tersebut.
Menurut Yudi Kurnia, ketua KTH.Batu Gajah Sepakat, usaha madu galo-galo itu, sudah dikembangkan setahu terakhir, dengan produksi yang cukup signifikan, karena pengembangannya sangat mudah bahkan hanya dikelola secara tradisional.
Dijelaskan, Pemkab.Agam sebelumnya mendorong pengembangan madu galo-galo itu, dengan membantu 200 STUP (tempat budidaya) untuk 10 KTH di kecamatan Palupuah, termasuk KTH Batu Gajah Sepakat mendapat bantuan 22 STUP, yang saat ini terus berkembang dengan baik.

Disebutkan, usaha madu galo-galo tidak sulit, yang dibutuhkan secara khusus hanya pengawasan dari hewan pemangsa lebah, lebah akan keluar untuk mencari makan dengan sendirinya dan kembali ke sarang (STUP) yang disiapkan di lokasi-lokasi tertentu.
Khusus KTH Batu Gajah Sepakat, sudah berhasil memanen madu lebat galo-galo sekali dalam sebulan, dengan sekali panen bisa menghasilkan sekitar 20 liter madu, diaman 1 STP bisa menghasilkan madu 750 ml-800 ml. Sedangkan dalam penjualan menggunakan botol ukuran 80 ml dan 250 ml.
“ Alhamdulillah, kita menjuali 1 botol ukuran 80 ml seharga Rp50.000 dan 250 ml seharga Rp150.000. Pemasaran dilakukan memanfaatkan media sosial, dan juga ada yang membeli ke rumah. Saat ini, kami sudah ada pelanggan tetap dari provinsi lain, termasuk kerap dicicipi pelancong dari mancanegara, yang berkunjung ke Palupuah, “ ulasnya bangga.
Yudi Kurnia menyebut, madu galo-galonya itu dicicipi WNA, setelah ia menawarkan ke Cafe Luwak White Coffee Rafflesia Koto Rantang. Madu ditawarkannya untuk diaduk dengan Luwak White Coffee, sehingga pengunjung cafe yang dominan dari mancanegara itu jadi tertarik.
“Berawal dari itu, permintaan madu mulai meningkat, madu kita titip di cafe itu. Bahkan ada WNA yang sengaja membawa madu galo-galo pulang ke negeranya, seperti ke Belanda, Malaysia dan beberapa negara lain,” ulasnya.
HARMEN
