Lubuk Basung-ku Sayang, Lubuk Basung-ku Malang

Oleh: Depitriadi, S.IP
(Jurnalis dan Political Enthusiast, berdomisili di Lubuk Basung)

Lubuk Basung, sebuah nama yang terdengar manis di telinga. Sejak 19 Juli 1993, ia resmi menjadi ibu kota Kabupaten Agam. Tiga puluh dua tahun sudah predikat itu disandang. Namun, entah karena nasib, entah karena apa, kota ini masih lebih sering disebut “kampung besar” ketimbang ibu kota.

Lucu juga, ketika menyebut ibu kota, orang biasanya membayangkan jalan lebar, lampu kota berkilau, taman rapi dan pusat kegiatan ekonomi. Tapi coba sebut Lubuk Basung. Yang terbayang justru pasar yang reyot, jalan berlubang dan wajah kota yang seperti lupa berdandan.

Pasar tradisional yang katanya akan direnovasi besar-besaran dengan anggaran miliaran, sampai kini masih sebatas rencana di atas meja. Empat pasar lain yang pernah ada bahkan sudah lama mati suri karena warganya lebih memilih belanja ke pasar yang lebih besar di luar Lubuk Basung. Maka jangan heran, ibu kota ini seolah punya segalanya kecuali “rupa kota”.

Padahal, pasar bukan sekadar tempat jual beli. Ia panggung ekonomi rakyat, tempat pedagang kecil bertahan hidup, sekaligus arena perjumpaan sosial. Jika pasarnya saja tak terurus, lalu di mana denyut ekonomi lokal hendak dipacu?

Mari kita bicara pendidikan. SMAN 2 Lubuk Basung bisa berbangga karena 196 siswanya tembus perguruan tinggi negeri tahun ini. Artinya, benih kecerdasan itu ada. Tapi sayang, setelah tamat, anak-anak muda itu harus merantau. Kenapa? Karena di ibu kota kabupaten ini, jangankan universitas negeri, kampus swasta pun tak ada.

Bayangkan andai ada kampus berdiri di Lubuk Basung. Bukan hanya soal kuliah, tapi juga kos-kosan, warung makan, kafe diskon malam minggu, hingga transportasi yang lebih hidup. Singkatnya, kota ini akan punya denyut baru. Tapi ya, lagi-lagi, semua hanya bayangan.

Di era digital, daerah lain sudah berlari. UMKM menjual produk lewat marketplace, petani pakai aplikasi untuk mengatur panen, bahkan sekolah sudah terbiasa dengan pembelajaran daring. Lalu, bagaimana dengan Lubuk Basung? Sayangnya, masih banyak yang gagap digital.

Padahal akses internet sudah masuk. Tetapi literasi digitalnya rendah. Tidak ada pelatihan terstruktur, tidak ada platform lokal yang benar-benar menopang UMKM. Akibatnya, masyarakat hanya jadi penonton kemajuan, bukan pelaku.

Mari kita jujur, apa yang membuat orang bangga menyebut “saya dari Lubuk Basung”? Malah lebih sering terdengar, “Ah, tak ado nan bisa dibanggakan.” Itu ungkapan getir yang nyata terdengar di warung kopi.

Sementara itu, angka kemiskinan Kabupaten Agam pada akhir 2024 tercatat 6,83 persen, di atas rata-rata Sumbar yang 5,42 persen. Artinya, rakyat bekerja keras. Tapi mengapa wajah ibu kota tidak mencerminkan kerja keras itu?

Dari sisi pengangguran, data BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka Agam 4,32 persen, juga relatif terkendali. Artinya, ada tenaga kerja, ada geliat, tapi ruang ekonomi yang seharusnya dipusatkan di Lubuk Basung malah melempem.

Sarana publik? Jangan ditanya. Jalan utama masih sering berlubang, drainase buruk dan lampu jalan minim. Malam di Lubuk Basung lebih gelap dari hati politisi yang lupa janji kampanye.

Padahal, kota kecil lain di Sumbar sudah berbenah. Pariaman dengan pantai dan taman digitalnya, Bukittinggi dengan wisata dan kampusnya. Lubuk Basung? Masih sibuk mencari identitas.

Apa yang kurang? Bukan uang. APBD Agam pada 2024 mencapai Rp1,6 triliun. Yang kurang adalah visi dan keberanian mengeksekusi. Lubuk Basung sering jadi bahan pidato politik, tapi jarang jadi bahan kerja nyata.

Andai ada taman kota yang sederhana, panggung seni keliling atau perpustakaan mini di sudut jalan, mungkin warga akan lebih betah berkegiatan di sini. Tapi apa daya, ide itu hanya berputar di kepala warga, bukan di meja kerja pejabat.

Masyarakat tentu berharap, siapa pun pemimpin ke depan, tidak menjadikan Lubuk Basung sekadar “dagangan politik” lima tahunan. Warga butuh perencanaan jangka panjang yang benar-benar dijalankan, bukan sekadar brosur kampanye.

Lubuk Basung sebenarnya punya potensi besar, tanah luas, masyarakat gigih, tradisi kental. Yang kurang hanya keberanian membayangkan kota ini lebih dari sekadar ibu kota administratif. Bayangkan pasar modern berbasis lokal, kampus vokasi alat berat atau pertanian digital, UMKM yang go online. Bukan mustahil.

Lubuk Basung-ku sayang, Lubuk Basung-ku malang. Rindu ini bukan sekadar nostalgia, melainkan harapan yang ingin disambut. Jangan biarkan kota ini terus terjebak dalam gelap, sementara dunia di luar sudah terang benderang.

Pada akhirnya, kampung halaman bukan hanya tempat lahir. Ia adalah tanggung jawab, cerita dan masa depan. Mari kita jaga, mari kita bangun, agar suatu hari nanti, saat orang bertanya, “apa yang membanggakan dari Lubuk Basung?, ” . Kita bisa menatap lurus dan tidak lagi terdiam. Allahuwalam bissawab. Takbir.(*)

0Shares

8 Replies to “Lubuk Basung-ku Sayang, Lubuk Basung-ku Malang”

  1. Untuk saat ini belum ada yg bisa kami banggakan,bahkan lubuk basung masih jauh tertinggal dr kec lainnya,dan UMKM seperti saya pengiat UMKM nya,tak di perhatiakan Pemerintahnya,seharusnya pemerintahan lubuk basung berkaca pada Payakumbuh yg memoerhatikan dan sensuport pengembangan UKM nya mana yg patut di angakt agar UKM merasakan adanya campur tamgan pemerintahan setempat,agar bertumbuh menuju Pasar global.

  2. Bapati ee ughang ateh…..ancakk di ateh d majukan lai…tu lah kaji manurun sajak sisuakk kala…
    Kklw soal jln jauh kalah jo kab.pdg Pariaman..jln pelosoknyo sajo licin…iko jalan di kota lubas..banyaak tumbokk ee…lubang2.

    Lalu rumpuik2 di kelok2 lah satinggi urang…lamo knd potong…lah bisa lo aimau lalaok…

    Lampuu jalan..banyakak matii….

    Samalokonhnyo.banyak omon omon..silih berhmganti bupati

  3. Betul sekali, lubuk basung tempat kelahiran ku. Dr jaman dulu ampe sekarang ngak ada kemajuan bahkan banyak kemunduran dr bidang ekonomi,tranfortasi nya. Bahkan dr segi pendidikan dan agamanya, serta infrastukturnya.voba kita mengaca ke kota2 besarnya, tempat wisatanya dan juga disirikan unytul universitas disana. Mungkin sedikit ada kemajuan didaerah ku.pelebaran jalan dr saya sma dulu sampai sekarang hanya sebatas pasar lubas, kemudiaknya mah jalan satu jalur dan juga konsisi jalan tdk bagus. Coba putra putri daerah yg menjabat disana pikirkan kedepannya nasib maayarakat kita..biar mereka setamatnya sekolah tdk pergi merantau kenegri orang, bahkan kampung yg begini besarnya, yg keliahatan orang tua saja yg banyak dikampung tsbt bahkan banyak rumah yg sudah tinggal tak berpenghuni karna ibu/ bapaknya udah meninggal, sementara anak2 nya pada merantau.adakan lapangan kerja fikampung kita biar masyarakat kita betah diwayah swndiri jntuk memajukan ekonomi lubas dan madyarakat sekitarnya. Ayo putra putri darrah yg berkompeten dibidang masung2 ,majukan perskonomian ,pendidikan. Bahkan sekolah2,biar orang luar bisa ngelirik daerah kita ini bisa dan juga banyak pendatang tinggal ditempat kita, yg pastinya dgn kedatangan mereka dr luar daerah akan memajukan perekonimian kita, contohnya dibidang perdaganagan dan pasar.

  4. Mungkin sebagian yang ditulis oleh penulis ada benarnya tapi Lubuk Basung disini masih terasa udara itu bersih, sungainya jernih karena kegiatan industri serta bolak balik kendaraan bermotor intensitasnya kecil, sementara kota lain bermasalah dengan polusi udara serta sungai yang tercemar,
    Seharusnya bisa dibidik bidang peningkatan ekonomi yang tidak tidak mencemari lingkungan udara sungai dll
    Sektor pertanian dan perikanan harus digarap maksimal, bangun kampus kampus yg kompatibel dengan lingkungan lubuk basung yaitu jurusan pertanian,peternakan,perikanan yg berbasis teknologi yang mampu meningkatkan hasil panen
    Serta Pemerintah juga ikut support setiap masyarakat yang punya kompetensi di bidang pertanian dipinjamkan lahan yg luas serta pupuk ,bibit, dll

    Dengan memaksimalkan sektor tersebut udara dan sungai tetap bersih polisi tetap kecil namun ekonomi akan meningkat

  5. Lubuk basung, kota wisata? Bukan…,kota singgah? bukan…,kota perdagangan dan industri kayak juga bukan…,lubuk basung kota pelajar…aahh juga bukan…,naaah pertanyaan nya bapak bupati dan jajaran2 nya serta bapak anggota dewan terhormat pernah berfikir bagaimana cara memajukan yg konon kata nya lubuk basung ini IBU KOTA KABUPATEN AGAM???

  6. Jan membandingkan lubuak basuang ko kk kota padang, bukittingi, payakumbuh, sawah kunto dan lainnyo jelas beda mereka punya walikota tapi banding dengan ibu lubuk sikaping, simpabg empat atau tanjung pati kabupaten 50 kota, lubuk basung baru berusia 32 tahun dan hanya sebuah kecamatan yang dipimpin oleh camat tetapi bandingkan dengan tanjung pati jaUh lebih maju lubuk basung dalam pembangunan dan penataan kota, kalau maju ya usulkan untuk jadi kota administrasi dulu, dan selagi masih dipimpin oleh bupati ya tentunya pembangunan harus merara bukan hanya dilubuk basung saja, perlu juga kita ingat saat pemindahan ibu kota kabupten agam ke lubuh basung itu dana apd banyak tersedot kesana dan saudara kita di agam barat saat itu boleh dikatakan tidak menikmati pembangunan terutama daerah yang berbatasan lansung dengan kota bukittingi taraso bana tempangnyo pembangunan daerah tersebut dan baru 15 tahun belakang terasanya pembangunsn didaerah tersebut.

Comments are closed.