Kaba Agam

KPGH Hadiri Undangan Build Back Better Unesco dan Eksotika Desa di Yogyakarta

Yogjakarta, KABA12 — Komunitas Pemuda Generasi Hamka (KPGH) menghadiri kegiatan Build Back Better: Safeguarding and Revitalizing Intangible Cultural Heritage in the Face of Disaster” yang digelar di Hotel Burza Yogyakarta , Senin – Rabu (27-29/4) kemarin.

Kegiatan tersebut berfokus pada pengintegrasian pelestarian warisan budaya takbenda dalam mitigasi dan pemulihan bencana. Inisiatif ini menekankan respon darurat untuk warisan budaya hidup di tengah bencana.

Dalam kesempatan itu, Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) dan CRIHAP menggandeng Komunitas Eksotika Desa sebuah organisasi yang bergerak dalam kajian, pelestarian, pengembangan dan pemanfaatan kebudayaan untuk memperkuat ekosistemnya agar tidak mengalami kerusakan dan hilang.

Sejumlah komunitas kebencanaan dan komunitas terdapat bencana Sumatera ikut hadir, bertujuan melahirkan gagasan-gagasan berkualitas sehingga menjadi bahan penelitian atau riset menuju arah kebijakan, mendorong pemerintah memperhatikan nilai kebudayaan pada mitigasi bencana.

Panji, Ketua Komunitas Eksotika Desa bersama Mrs. Moe Chiba (Head Of Unit And Programme Specialist for Culture UNESCO Jakarta) dan Mr. Zhang Jing (Director General CRIHAP) mengatakan, pihaknya berhasil menjalin kerjasama dengan Unesco atau nited Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. Keprihatinan dirinya bersama sejumlah aktifis Nasional yang bergerak di organisasi kebudayaan dan humanity, terhadap nilai-nilai beserta benda cagar budaya pasca bencana.

“Bencana alam seperti letusan gunung merapi, banjir bandang, gempa bumi, tsunami dan lainnya sering kali merusak warisan budaya takbenda. Bahkan tidak hanya bebcana alam, tapi prilaku manusia yang merusak juga bagian dari bencana itu sendiri,” ungkap Aghi Konsultan Kebudayaan didampingi Panji, Ketua Komunitas Eksotika Desa.

Menurutnya, melindungi warisan budaya takbenda agar tetap bertahan dan mendukung pemulihan masyarakat pascabencana (build back better), serta mengintegrasikan pendekatan budaya dalam strategi pengurangan risiko bencana (PRB) perlu dilakukan oleh sebuah komunitas.

Dengan memanfaatkan posisi Yogyakarta sebagai pusat budaya yang rentan bencana untuk merumuskan model pelestarian yang tangguh. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam merespons situasi darurat dengan cepat dan tepat melalui pendekatan budaya.

“Hasil kegiatan ini, kita telah merangkul sejumlah data dari sejumlah materi masing-masing peserta. Riset ini akan menjadi bagian penting untuk langkah pengusulan arah kebijakan mitigasi bencana melibatkan pelaku budaya lokal dan nasional agar memudahkan penanganan bencana berbasis budaya nantinya,” jelasnya.

Sementara, Ketua KPGH Rudi Yudistira menambahkan, berkat adanya jalinan silahturahmi saat menjalani program Pemajuan Kebudayaan Desa 2021 – 2023, KPGH dari Agam, Sumatera Barat bisa berkomunikasi langsung dengan Panji Ketua Komunitas Eksotika Desa Yogyakarta.

“Mas Panji bersama team sangat peduli terhadap bencana alam yang melanda Pulau Sumatera dan Sulawesi sehingga penting membangun regulasi terkait mitigasi bencana berbasis kearifan lokal atau local wisdom. Dan mendapat dukungan juga dari UNESCO dan CRIHAP sebagai Lembaga Internasional bergerak Kebudayaan,” katanya.

(Bryan/*)

0Shares
KPGH Hadiri Undangan Build Back Better Unesco dan Eksotika Desa di Yogyakarta
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buktikan kemanusiaan Anda: 2   +   10   =  

To Top