Catatan : Harmen
“ Sagalo ka dicamehan apak ko eh. Pacik HP urang, nyo cameh juo “. Kalimat ini, contak membuat penulis mempertajam lirikan pada seorang rekan yang berciloteh dengan nada agak tinggi saat berdikusi dengan rekannya.
Dari nadanya, jelas ini bukan sebuah candaan, bahkan bernada protes karena merasa tak senang karena sang teman terus melirik-lirik HP yang dimainkan. “ Beko barekam “. Itu jawabnya saat sang teman. Nah, terjawab sudah.
Bisa jadi, kita semua termasuk penulis bisa saja dibuat cemas, karena kecanggihan tekhnologi yang dihadirkan beragam jenis telepon pintar (ponsel) saat ini, bisa menggunakan beragam aplikasi, termasuk rekaman percapakan dan video yang entah akan digunakan untuk apa.
Sang teman pantas cemas. Pantas memprotes, karena “riak-riak danau” yang masih terus menggelitik suasana di daerah lain, yang masih terus memunculkan kecurigaan, kecemburuan, bahkan ketidakpercayaan pada pihak lain.
Bahkan, kecemasan yang berlebihan (sebut saja paranoid), terkadang terlihat tak berasalan, karena yang diprotes pun terkadang teman akrab, para bawahan, sejawat bahkan teman yang dalam kapasitasnya sulit ditempatkan sebagai seorang “pengkhianat” atau mungkin seorang mata-mata.
Sejatinya paranoid akan sesuatu, justru muncul karena dampak perilaku sendiri, bahkan mungkin kebiasaan yang sudah terbangun lama,dan bahkan mungkin sudah menjadi hobi tersendiri, walau terkadang niatnya memang tak berada di “ranah” yang positif.
Pantas saja, seorang rekan penulis, seorang wartawan sempat memprotes, karena tidak diperbolehkan membawa ponsel masuk ke ruangan tertentu, dengan dalih untuk proteksi dan antisipasi.
Padahal, dengan kekinian kondisi, ponsel bagi wartawan adalah perangkat penting yang tak bisa lepas dari tangan saat menjalankan tugasnya sebagai jurnalis. Hasilnya, rekan penulis itu, membatalkan rencana untuk berdiskusi, ketimbang harus meninggal ponselnya.
Alangkah malangnya dunia keterbukaan saat ini. Alangkah murungnya dunia tekhnologi, dan alangkah naifnya membangun proteksi karena sikap paranoid yang entah dengan dalih apa hal ini diberlakukan.
Janganlah, perilaku paranoid, dampak dari sikap dan perilaku diri itu, berdampak luas dari beragam hal yang memundurkan opini yang sebelumnya sudah terbangun positif kearah kemiringan yang masih tak tentu arahnya, termasuk membelenggu komitmen membangun komunikasi untuk silaturrahmi. Entahlah.-(*).-
