Maninjau, KABA12 — Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Agam mencatat total kematian ikan keramba jaring apung (KJA) di Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya mencapai 252,5 ton akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi pekan lalu.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Agam, Rosva Deswira menyebut, kematian ikan KJA terjadi secara merata di seluruh nagari yang memiliki perairan danau.
“Ikan tersebut merupakan milik petani KJA di selingkar Danau Maninjau, dengan total kematian 252,5 ton,” kata Rosva Deswira kepada KABA12, Rabu (3/12).
Sementara total kerugian yang dialami petani KJA dampak peristiwa tersebut mencapai diangka Rp5,8 miliar.
“Perkiraan kerugiannya mencapai Rp5.807.500.00O. Ini merupakan data terupdate per 2 Desember 2025,” ujarnya.

Kematian ikan secara massal terjadi akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat khususnya Kabupaten Agam dalam waktu sepekan. Akibatnya kondisi danau mengalami pembalikan massa air, sehingga membuat kadar oksigen berkurang.
“Hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang dalam waktu yang lama membuat oksigen berkurang sehingga menimbulkan fenomena upwelling atau pembalikan massa air,” katanya.
Sebelum mati, ikan-ikan tersebut mengalami pusing dan muncul ke permukaan untuk mengambil oksigen. Masyarakat selingkar Danau Maninjau menyebutkan fenomena tersebut dengan istilah ‘ma angai’.
“Sebelum kematian massal terjadi, ikan itu pusing lalu mati dan mengapung ke permukaan danau,” ungkapnya.
Timbulkan Pencemaran Udara
Kematian ikan tersebut justru menimbulkan pencemaran udara akibat bau busuk dari jutaan bangkai ikan yang mengapung di Danau Maninjau. Bau busuk tersebut terjadi di seluruh wilayah Danau Maninjau, karena kematian ikan terjadi secara merata.
Selain itu, peristiwa ini menambah beban pencemaran lingkungan di Danau Maninjau karena banyaknya bangkai ikan yang sengaja dibuang ke perairan. Kondisi air danau juga mengalami perubahan warna menjadi hijau dan berminyak.
“Bau busuk dari bangkai ikan dapat dicium di sepanjang jalan di Danau Maninjau. Ini sangat miris sekali, karena ditengah bencana masyarakat malah mencium aroma bangkai dari ikan ikan yang mati,” ungkap Putri, salah seorang warga Bayua.
Pemerintah daerah diharapkan mencari langkah langkah penanganan untuk mengatasi pencemaran lingkungan tersebut. Sebab peristiwa ini terjadi setiap tahun, tetapi belum ada solusi yang konkret dalam mengatasinya.
(Bryan)
