Lubukbasung, KABA12.com — Kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKM) Kampung Melayu Saiyo Lubukbasung Kabupaten Agam bakal memproduksi minyak atsiri serai wangi secara mandiri menyusul telah diterimanya bantuan alat penyulingan dari BPDAS Agam Kuantan, Selasa, (30/10).
Serah terima alat itu disaksikan Kepala Dinas Kehutanan Sumatera Barat Hendri Octavia, Sekretaris Daerah Kabupaten Agam Martias Wanto, Kepala Dinas Pertanian Agam Isman Imran serta unsur Forkopimda dan Forkpimca setempat di Panyalaian Jorong Balai Ahad Nagari Lubukbasung.
Ketua Kelompok HKm Kampung Melayu Saiyo, Zulkarman mengatakan bantuan alat penyulingan tersebut berawal dari proposal yang diajukan kelompoknya melalui KPH Agam Raya pada pertengahan 2018 lalu.
“Luas hutan kemasyarakatan ini seluruhnya 127 hektar, dimana sebelumnya juga sudah ditanami 400 batang manggis.
Mengingat banyaknya lokasi yang masih bisa dikembangkan, maka kami coba kembangkan dengan sistem agroforestry/ mengkombinasikan tanaman manggis dengan serai wangi dan beruntung proposal yang kami ajukan kepada BPDAS Agam Kuantan melalui KPH Agam Raya dikabulkan,” ujarnya.
Lebih lanjut dijelaskan, untuk pemenuhan kebutuhan baku pihaknya telah membeli dan menanam serai wangi secara swadaya dengan luas lahan sekitar 7 hektar dan jumpah populasi tanaman serai sebanyak 70.000 rumpun. Dimana bibit serai wangi didatangkan langsung dari lahan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) yang ada di Solok.
“Serai wangi sudah kami tanam pada Agustus kemaren semoga Februari 2019 kami mulai panen perdana. Kami berharap semoga kedepan usaha ini dapat berkembang, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup kami. Serta banyak lagi potensi-potensi yang bisa kami kembangkan di kawasan perhutanan sosial ini,” sebutnya.
Kepala Dinas Kehutanan Sumatera Barat, Hendri Octavia didampingi Kepala KPH Agam Raya, Afniwirman mengatakan pihaknya telah memiliki masterplan pengembangan ekonomi kerakyatan di kehutanan, salah satunya pengembangan usaha di perhutanan sosial seperti hutan kemasyarakatan yang dikelola oleh kelompok.
“Jadi salah satu usaha serai wangi ini. Minyak atsiri hasil dari penyulingan serai ini sangat banyak dibutuhkan oleh industri, seperti industri kecantikan, parfum dan lainnya. Permintaan akan minyak serai ini sangat tinggi, bahkan kita di Sumbar belum mampu untuk memnuhi kebutuhan pasokan nasional, karena lahan kita masih terbatas dan ini memiliki nilai jual yang tinggi, sehinggi bisa menjadi nilai tambah bagi masyarakat petani kita,” jelasnya.
KPH Agam Raya, Afniwirman menambahkan, alat penyulingan bantuan BPDAS Agam Kuantan itu dapat menampung 1 ton serai wangi atau 10 hektar lahan. Dimana 1 ton serai wangi tersebut dapat menghasilkan 7 hingga 9 kilogram minyak atsiri.
Sementara harga jual minyak serai dipasaran berkisar mulai Rp300.000 -Rp350.000 per kilogramnya.
“Ini bisnis yang cukup menjanjikan, apalagi permintaan akan minyak serai ini cukup tinggi. Selain memperoleh minyak atsiri, ampas serai itu juga dapat dijadikan sebagai pakan ternak,” tambah Afniwirman.
Sekretaris Daerah Kabupaten Agam Martias Wanto mengatakan potensi serai wangi di daerah tersebut cukup banyak, namun spek untuk dijual belum tertampung. Oleh sebab itu, seiring dengan adanya bantuan alat penyulingan tersebut pihaknya akan mengajak masyarakat untuk melakukan penanaman serai wangi.
“Hal ini pun sejalan dengan program kita Agam Menyemai, rencana kedepan kita akan perluas lahan. Kita akan melakukan penanaman serai, kalau perlu kita ajak masyarakat untuk menanam serai wangi dipinggir jalan dan pekarangan rumah. Karena ini memiliki potensi dan nilai yang sangat menguntungkan, untuk meningkat perekonmian masyarakat,” katanya.
Martias Wanto berharap agar Kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKm) Kampung Melayu Saiyo Lubukbasung Martias Wanto dapat menjaga, memelihara dan memanfaatkan alat penyulingan serai wangi ini sebaik mungin.
(Virgo/*)
