Gunakan Teknologi Geotube, Penyedotan Sedimen Danau Maninjau Bakal Dimulai Tahun 2022

Maninjau, KABA12.com — Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bakal segera melaksanakan pengerjaan penyedotan sedimentasi di dasar Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

Proses penyedotan sedimen lumpur di dasar danau dijadwalkan akan dimulai tahun 2022 secara bertahap oleh pihak Kementerian PUPR dibawah komando Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) RI.

Saat ini pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V dibawah naungan Kementerian PUPR tengah mengumpulkan metode penyedotan sedimentasi yang ramah lingkungan. Namun terdapat usulan dari konsultan bahwa proses penyedotan sedimen menggunakan teknologi geotube.

“Tugas kita saat ini adalah mencari metode penyedotan sedimentasi di dasar danau yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi masyarakat. Namun dari sejumlah metode yang diusulkan konsultan, ada beberapa diantaranya yang kita modifikasi, salah satunya dengan menggunakan teknologi geotube,” ujar PPK Perencanaan Umum dan Program BWS Sumatera V, Daniel Silitonga kepada KABA12.com usai sosialisasi di kantor Camat Tanjung Raya, Rabu (1/9).

Ilustrasi

Ia mengatakan, metode teknologi geotube ini akan dilakukan karena dinilai dapat meminimalisir dampak masalah lingkungan dari proses penyedotan tersebut.

“Dengan proses penyedotan nanti diharapkan lingkungan Danau Maninjau bisa kembali menjadi lebih baik dan bersih, sehingga mampu mendorong peningkatan perekonomian masyarakat sekitar di berbagai sektor,” katanya.

Terkait dengan jadwal pengerjaan penyedotan sedimentasi di dasar danau, pihaknya belum bisa memastikan secara pasti kapan pelaksanaannya dimulai. Hal ini dikarenakan pihak BWS Sumatera V bersama konsultan butuh waktu untuk menyusun metode, mengumpulkan data, pengkajian, dan menyusun strategi. Namun dijadwalkan, penyedotan sedimen lumpur itu akan dimulai pada tahun 2022.

“Untuk tahun ini tidak ada penyedotan. Kemungkinan tahun depan,” kata Daniel.

“Tapi yang jelas sekarang kita juga menunggu arahan dan intruksi dari Pak Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan untuk melaksanakan penyedotan ini. Karena beliau juga menjabat sebagai Ketua Koordinator Penyelamatan Danau Indonesia, sehingga proses penyelamatan danau harus dipikirkan secara matang,” lanjutnya.

Lebih lanjut disebutkan, proses penyedotan sedimen juga akan dilaksanakan secara bertahap. Dimana dari hasil studinya saat ini, proses penyedotan akan dilakukan dengan sistem cluster spot, atau mencari bagian/lokasi pertama untuk disedot.

“Saat penetapan lokasi pertama untuk disedot tentunya kita juga melibatkan masyarakat sekitar dan pemerintah daerah, agar prosesnya dapat berjalan sesuai dengan harapan,” imbuhnya.

Menurutnya, komitmen pemerintah pusat sudah sangat besar dalam melakukan upaya penyelamatan Danau Maninjau. Hal itu bisa terlihat dari beberapa menteri yang sudah berkunjung ke lokasi untuk melihat langsung kondisi danau yang tengah tercemar berat.

Sejumlah menteri yang pernah berkunjung ke Danau Maninjau dalam beberapa waktu terakhir yaitu Menteri PPN/Bappenas Suharso Monoarfa, Menteri Kelautan dan Perikanan Wahyu Sakti Trenggono, dan Menteri Parekraf Sandiaga Uno.

“Ini membuktikan bahwa pemerintah pusat itu sedang fokus ke Sumatera Barat untuk melakukan pembenahan daerah selain dari jalan tol, yaitu revitalisasi Danau Maninjau dan Danau Singkarak,” jelasnya.

Daniel berharap melalui upaya ini Danau Maninjau yang berstatus danau vulkanik ini dapat bersih kembali, sehingga bisa dinikmati oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

“Dengan banyaknya kunjungan wisatawan nanti, maka ini dapat meningkatkan perekonomian yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Diketahui, proses penyedotan sedimen dengan cara geotube akan menggunakan kapal khusus dengan mesin pompa berukuran besar.

Dalam pelaksanaannya nanti, air yang bercampur dengan sedimen lumpur akan disedot dan dialirkan melalui pipa ke wadah penampung (tube) berukuran besar yang diletakkan di pinggir danau.

Sebelum sampai ke wadah penampung tersebut, air dan sedimen lumpur yang mengalir di dalam pipa akan dicampur dengan cairan zat kimia khusus dengan tujuan mempercepat proses pengendapan. Sehingga sedimen lumpur dan air akan terpisah dengan cepat.

Selain itu, air yang tersedot akan keluar melalui pori-pori wadah penampung (tube), sehingga hanya menyisakan sedimen lumpur didalamnya.

Wadah penampung yang berisi sedimentasi padat itu dalam beberapa hari akan mengering, sehingga dapat dijadikan sebagai tanggul penahan ataupun tempat yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

(Bryan)

0Shares