Maninjau, kaba12 — Camat Tanjung Raya Roza Syefridienti lakukan terobosan terkait dengan tindak lanjut aktivitas Satgas Save Danau Maninjau, masalah dana corporate social responsibility (CSR) serta masalah pajak air permukaan danau dengan pihak PT.PLN.
Menjawab kegelisahan berbagai elemen yang ada di Kecamatan Tanjung Raya terkait dengan konsistensi dukungan PT.PLN terhadap kondisi warga di wilayah tersebut, Roza Syefridienti menginisiasi pertemuan khusus antara jajaran pemerintah nagari se kecamatan Tanjung Raya dan LKAAM Tanjung Raya dengan unsur pimpinan PT.PLN Kamis, (13/7).
Inisiasi yang dilakukan Camat Tanjung Raya itu, direspon dengan kehadiran Budi dan Khairul Anas, Humas UPTD PLN Bukittinggi di kantor camat Tanjung Raya, untuk membahas berbagai masalah terkait dengan dukungan PT.PLN terhadap program Satgas Save Danau Maninjau, masalah CSR serta kejelasan Pajak Air Permukaan Danau Maninjau.
Menjawab kaba12, Roza Syefridienti menyebutkan, pihaknya kerap menerima keluhan dan aspirasi warga terkait dengan kontribusi PT.PLN yang memanfaatkan danau Maninjau untuk PLTA sejak puluhan tahun, dimana pertanyaan sudah mencuat sejak tahun 1977, yang disepakati secaa lisan oleh 356 ninik mamak se kecamatan Tanjung Raya yang mendukung pembangunan PLTA Maninjau.

Disebutkan, kesepakatan yang terjalin antara 356 ninik mamak dengan PT.PLN dulunya tidak tertuang secara tertulis, namun pihak PLN berkomitmen akan berperan dan mendukung berbagai aktivitas masyarakat di wilayah Tanjung Raya.
“Keberadaan PLTA Maninjau yang memanfaatkan air danau untuk operasional turbin PLTA di Muko-Muko, bagi Tanjung Raya tidak menikmati hasilnya selama ini. Kalau pun ada dana CSR itu hanya bagi nagari yang mengajukan proposal, kontribusi untuk ninik mamak ( LKAAM ) tidak ada,“ sebutnya.
Disebutkan Roza Syefridienti, pihaknya sengaja menginisiasi pertemuan antara pemerintahan nagari dan LKAAM Kecamatan Tanjung Raya dengan PT.PLN itu, merupakan tindak lanjut dari banyaknya aspirasi yang ditampungnya di seluruh nagari terkait dengan CSR, dukungan untuk ninik mamak (LKAAM) serta berbagai persoalan lain yang berkaitan langsung dengan PT.PLN.
“ Kita mencoba membangun ruang diskusi untuk berkomunikasi tentang apa sesungguhnya yang melatari kondisi itu. Banyak pertanyaan yang muncul, dan hal itu disepakati akan ditindaklanjuti dan dituntaskan bersama,” tegasnya serius.
-HARMEN-
