Kaba Tausyiah

Menghindari Pemborosan dan Budaya Konsumtif Saat Berbuka

Lubukbasung,kaba12 — Di bulan suci Ramadhan mengajarkan, pengendalian diri dan kesederhanaan, namun dalam praktiknya, tidak sedikit orang yang justru terjebak dalam pola konsumsi berlebihan, terutama saat waktu berbuka puasa tiba, dimana meja makan penuh dengan berbagai hidangan, sementara sebagian diantaranya tidak habis di konsumsi.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa semangat Ramadhan seharusnya tidak berubah menjadi ajang berlebih – lebihan dalam makanan dan minuman, Islam sendiri mengajarkan kita bahwa keseimbangan dalam segala hal, termasuk dalam urusan makan.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman :

“ Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang – orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf:31)

Dalam ayat ini, Allah SWT mengingatkan kita bahwa menikmati rezeki adalah hal diperbolehkan, namun harus tetap dalam batas kewajaran.

Berlebihan tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga berpotensi menghilangkan nilai kesederhanaan yang menjadi bagian dari hikmah puasa.

Rasulullah SAW juga memberikan contoh pola makan yang sederhana, dalam sebuah hadist beliau bersabda:

“ Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. ” (HR.Tirmidzi).

Rasulullah mengingatkan kita bahwa makan secukupnya adalah cara menjaga kesehatan sekaligus melatih pengendalian diri. Puasa seharusnya membentuk kebiasaan hidup yang lebih seimbang, bukan malah memicu konsumsi berlebihan saat berbuka.

Ramadhan 1447 H menjadi momentum yang tepat untuk kembali pada nilai kesederhanaan. Berbuka secukupnya, menghindari pemborosan, serta berbagi makanan kepada sesama merupakan cara menjaga keberkahan bulan suci.

Selain itu, berbagai hidangan berbuka kepada tetangga atau mereka yang membutuhkan juga menjadi bentuk kepedulian sosial yang dianjurkan. Dengan cara ini, makanan tidak hanya menjadi kebutuhan pribadi, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan.

Maka, Ramadhan bukan sekedar mengubah waktu makan, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap nikmat yang Allah berikan, agar lebih disyukuri, dimanfaatkan dengan bijak dan tidak disia-siakan.

(TAUFIQ)

0Shares
Menghindari Pemborosan dan Budaya Konsumtif Saat Berbuka
To Top