Oleh : H.Akmal Famajra, Banuhampu
“Sosok Mr.Assaat Datuak Mudo, Presiden Kedua Republik Indonesia di masa transisi pemerintahan di era Agresi Militer Belanda, menjadi tokoh kunci dalam lahirya semangat kekinian berdemokrasi dengan tapakan dan tatanan pemerintahan yang ideal di zamannya.Jiwa kepemimpinan dan kehandalannya dalam berdemokrasi sudah terbangun sejak kecil, sesuai dengan kuatnya pendidikan adat dan agama di Minangkabau”. Berikut lanjutan ulasannya:
Nilai Adat dalam Kehidupan Sehari-hari Keluarga Assaat
Sebagai seorang tokoh nasional, Assaat tidak pernah melepaskan jati dirinya sebagai urang Minang. Di rumah tangganya, nilai-nilai adat tetap hidup dalam sikap dan keseharian.
Dalam pengambilan keputusan keluarga maupun organisasi, Assaat selalu mengutamakan musyawarah, sebagaimana tradisi di Balai Adat Minangkabau. Prinsip ini tercermin dalam kepemimpinannya — tenang, mendengar, dan bijaksana.
Sebagai anak dari sistem matrilineal, Assaat tumbuh dalam penghormatan besar kepada perempuan — terutama ibu dan mamak perempuan (bundo kanduang). Dalam rumah tangganya bersama Roesiah, nilai kesetaraan dan saling menghargai menjadi dasar hubungan keluarga mereka.
Keluarga besar Assaat di Banuhampu tetap terjalin erat meskipun ia hidup di perantauan. Setiap pulang ke kampung, ia tetap menghadiri pertemuan kaum dan kegiatan adat, membuktikan bahwa perantau sejati tidak pernah putus hubungan dengan asal usulnya.
Tradisi Gotong Royong dan Solidaritas Kaum
Dalam adat Minangkabau, nilai gotong royong (badunsanak, basamo-samo) adalah inti kehidupan sosial. Assaat menerapkannya dalam perjuangan nasional: bekerja sama lintas suku dan daerah, mengutamakan persatuan di atas kepentingan pribadi.
Ketika menjabat Presiden Sementara Republik Indonesia (1949–1950), ia menunjukkan semangat kolektif yang sejalan dengan pepatah adat : “Bulek aia dek pambuluah,bulek kato dek mufakat.”
(Bulat air karena pembuluhnya, bulat kata karena mufakatnya). Sikap ini menjelaskan mengapa selama memimpin Republik di Yogyakarta, ia mampu menjaga stabilitas di tengah situasi politik yang terpecah akibat bentuk negara federal.
Sebagai seorang anak nagari, Assaat memiliki hubungan dekat dengan lembaga adat seperti KAN (Kerapatan Adat Nagari) dan para penghulu di Banuhampu. Dalam beberapa surat dan catatan kunjungan, Assaat sering menyebut pentingnya menjaga martabat adat dan agama, serta mendorong generasi muda agar tidak tercabut dari akar budaya mereka.
Bahkan setelah menjadi pejabat tinggi negara, ia tetap memakai gelar kehormatan adatnya, Datuak Mudo, sebuah tanda bahwa ia tidak pernah memutus hubungan dengan tanah asal dan kaum tempat ia berasal.
Tradisi dan Pengaruhnya terhadap Watak Kepemimpinan
Dari latar adat Minangkabau, muncul tiga nilai pokok yang membentuk karakter Mr. Assaat sebagai pemimpin:
1. Adil dan berimbang (bajanjang naik, batanggo turun) – mencerminkan rasa keadilan dan tanggung jawab sosial.
2. Rasional dan mufakat (musyawarah jo pandam pakik) – menjunjung logika dan kebersamaan dalam memutuskan perkara.
3. Jujur dan amanah (nan sabana sabatang panjang) – integritas yang membuatnya dipercaya oleh Soekarno dan Hatta untuk memangku jabatan Presiden Sementara.
Ketika sejarah menempatkannya pada posisi krusial antara Republik dan RIS, nilai-nilai adat itu menjadi panduan moral yang kuat. Ia tidak mengejar kekuasaan, melainkan menjalankan amanah bangsa seperti mamak menjaga kemenakan dalam rumah gadang: dengan kasih sayang dan tanggung jawab.
Kisah kehidupan Mr. Assaat memperlihatkan bagaimana tradisi Minangkabau bukan sekadar warisan budaya, melainkan sumber kekuatan moral dan karakter kepemimpinan nasional. Dari rumah gadang di Banuhampu, lahir seorang anak nagari yang membawa nilai adat hingga ke Istana Yogyakarta — menjembatani budaya lokal dengan tanggung jawab kenegaraan.
Dalam dirinya berpadu dua dunia: adat Minangkabau yang egaliter dan semangat republik yang berdaulat. Warisan itu menjadikan Mr. Assaat bukan hanya tokoh sejarah bangsa, tetapi juga cerminan ideal anak Minangkabau yang berhasil mengabdi untuk tanah air.- ( Bersambung)
Referensi
- Navis, A.A. Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Grafiti Press, 1984.
- ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia). Arsip Pribadi Mr. Assaat Datuak Mudo, Koleksi 1947–1959.
- Koto, Al Chaidar. Perantau Minangkabau dalam Sejarah Politik Indonesia. Padang: Andalas University Press, 1997.
- Djajadiningrat, P.S. Riwayat Hidup dan Perjuangan Mr. Assaat. Arsip Sejarah Nasional, 1978.
- Laporan KAN Banuhampu, Naskah Pusaka Adat dan Silsilah Kaum Melayu Banuhampu, 1965.