Galetek

02022020 Untuk Sebuah Moment

Catatan : Harmen

02022020. Sebuah komposisi angka cantik. Ada seimbang dan keunikan yang membuat banyak orang menjadikan tanggal ini, sebagai moment penting yang tentunya bersejarah dalam hidup.

Tidak hanya komposisi angka tanggal, bulan dan tahun ini, terbangun keseimbangan antara angka nol dan dua, jumahnya sama-sama 4, tapi juga deretan angka masehi ini disebutkan hanya sekali dalam sejarah bumi. Luar biasanya kuasa Allah.

Banyak sebelumnya yang memanfaatkan hari Minggu, tanggal 02 Februari (02) tahun 2020 ini, menjadi sebuah moment bersejarah dalam merangkai perjalanan hidup. Sebagian lain, memilih abai dengan apa sesungguhnya sebuah moment.

Moment, sesungguhnya pengingat yang mudah membangun ingatan sejarah dimasa datang. Walau terkadang banyak yang abai akan moment, namun moment sebetulnya, menjadi bagian dari sebuah catatan, sebuat data, bahkan bagian dari dokumentasi yang semestinya bisa terangkum dengan baik, sebagai wujud pisik sejarah itu sendiri.

Dan kelangkaan akan data, dokumentasi apalagi sebuah catatan yang menjadi nukilan sejarah itu sendiri , menjadi bahan langka yang sangat sulit untuk dibangun kembali di daerah ini. Bahkan, walau sudah ada lembaga tersendiri yang mengurus data, dokumentasi termasuk catatan akan sejarah penting di daerah ini, apa yang diharap untuk membangun kembali moment masih sulit untuk diperoleh.

Penulis, menjadikan angka cantik yang terbangun dengan sendirinya dalam catatan perjalanan hidup dalam hitungan kelender masehi 02022020, sebagai salah satu “angle” untuk membangun kembali arti penting sebuah data, dokumentasi bahkan mungkin ada hal-hal spesifik yang bisa disajikan kembali untuk kaum muda terkini, sebagai bukti perjalanan sejarah.

Penulis mencontohkan satu fakta sejarah saja, keberaaan Kota Lubukbasung sebagai ibukota kabupaten Agam yang tanggal 19 Juli 2020 mendatang akan genap berusia 27 tahun. Awak media, apalagi masyarakat, hingga kini masih berada di ranah nan semu, untuk bisa mendatang data detail terkait dengan rangkaian sejarah Lubukbasung bisa dijadikan ibukota kabupaten Agam ini.

Mulai dari pindah dari Bukittinggi, para pelaku sejarah, proses perjalanan penetapan kota Lubukbasung menjadi ibukota kabupaten Agam, proses pembangunan awal, sampai menjadi sosok kota yang maju dan berkembang saat ini, sangat sulit mendatangkan datanya, apalagi dokumentasi yang jelas dan memberi penggambaran akan perjalanan sejarah itu sendiri.

Kondisi ini, diyakini akan selalu ada dan terjadi dalam serangkaian proses perjalanan sejarah negeri ini (kabupaten Agam), karena masih tidak terlihat ada yang berkeinginan, atau setidaknya ada program khusus yang “membukukan” sejarah itu sendiri menjadi sebuah dokumentasi yang apik. Dan kalaupun ada, itupun hanya secuil, tak menyentuh, hanya akan memberi penonjolan terhadap prestasi, keunggulan dan kamuflase yang pasti semu, sebagai nyanyi puji-pujian pada pimpinan yang dianggap berhasil.

Alamak. Padahal sebetulnya data, dokumentasi bahkan buku yang berkuatan data, menjadi fakta penguji yang sesungguhnya akan dengan sendirinya membangunkan puja-puji di masa datang tentang keberhasilan dan sukses yang nyata akan hasil kerja.

Karena pujian yang hakiki dan ikhlas, justru bukan disajikan pendahulu, atau penikmat hasil kerja saat ini, tapi sesungguhnya penerus di masa datang.

(***)

To Top