Politik

Warga Agam Menanti Politik Gagasan Calon Kepala Daerah

Posted on

Oleh : Pikri Kurnia

Politik gagasan boleh saja mengendap sebagai kesadaran publik, tapi dia belum menjadi karakter permainan politik elite. Mereka tetap saja terjebak dalam pusaran politik kekuasaan. Komposisi politik yang dimainkan tentu tidak jauh dari gimik sosial yang semu dan branding isu yang saling menjatuhkan.

Kelompok politik gagasan perlu diakrabkan dalam persepsi publik. Basis elektoral publik tidak boleh didudukkan pada relasi kuasa politik tribalisme, politik aliran, atau politik teritorial. Politik seperti asal daerah, atau basis kesukuan sudah saatnya ditinggalkan.

Kelompok politik dewasa ini tersentralisasi dalam dua kubu, yaitu politik gagasan dan politik kekuasaan. Terminologi ini merupakan pergeseran yang sebelumnya menciptakan politik Islam dan politik nasionalis.

Alasannya, saat ini kita dihadapkan pada dua fakta politik. Pertama, bentuk konsolidasi dan bangunan koalisi partai politik sudah berdasar pada kalkulasi matematik keuntungan dan ambang batas pencalonan.

Tidak ada kalkulasi etik yang berbasis pada ideologi atau platform ide perjuangan. Asas dan basis elektoral masing-masing parpol sudah menguap dalam garis-garis yang samar.

Fakta politik yang kedua, bahwa sebanyak 60% pemilih 2024 nanti merupakan generasi milenial dan Gen Z. Secara analisis psiko-politik, generasi ini merupakan pemilih rasional yang mendasarkan pilihan politiknya pada ide dan gagasan. Fakta ini mengindikasikan suatu kemajuan dari akumulasi bonus demografi menyongsong Indonesia 2045.

Pilihan rasional pemuda salah satu bentuk kesadaran politik publik. Keberadaannya harus dirawat dalam ruang-ruang demokratis, atau bahkan terlembagakan dalam sistem politik di Indonesia. Pilihan rasional menegasikan politik emosional dan transaksional yang mengamini ketidakdewasaan dan fanatisme dalam berpolitik.

Tantangan selanjutnya, kematangan berpolitik Gen Z tidak dibarengi dengan konsolidasi demokrasi yang baik. Mereka belum melembagakan politik gagasan secara gerakan. Sejauh ini, mereka hanya menunggu. Tidak ada konsolidasi gagasan yang diciptakan dalam ruang-ruang akademis dan demokratis.

Mendekati Pilkada, seharusnya politik gagasan sudah menunjukkan gerakan khasnya dalam mengonsolidasikan ide dan gagasan pembangun prospektif ke depan. Misalnya dengan menguji visi dan misi Calon Kepala Daerah setiap calon dalam ruang-ruang terbuka, di kampus maupun dalam ruang demokratis lainnya.

Perangkat politik sudah seharusnya diarahkan untuk membentuk ekosistem politik yang berkemajuan dan menjunjung tinggi nilai keadaban. Antusiasme para pemuda harus dipastikan bisa tertuang membentuk ruang-ruang bagi terkonsolidasinya gagasan.

Peran aktif pemuda inilah yang diharapkan mampu membentuk ekosistem politik bangsa ini dalam nuansa yang tidak sekadar menyangkut politik kekuasaan, melainkan politik gagasan yang berkeadaban. Dari sinilah suatu bangsa dapat dibangun bersama.- (*)

Populer

Exit mobile version