Opini

Tak Pernah Mundur, Kisah Bapak Pedagang Ayam Yang Tak Pernah Menyerah

Oleh : Rahmi Fediza Putri
Mahasiswi UNP

Di bawah terpal oranye yang warnanya mulai memudar dimakan waktu, seorang bapak berdiri di balik meja potong kayu yang telah lama menjadi saksi perjalanan hidupnya. Permukaan meja itu penuh goresan pisau, menandakan ribuan ayam telah dipotong di sana.

Pagi masih muda, namun aktivitas di pasar tradisional sudah bergerak cepat. Bau khas daging segar bercampur dengan suara langkah kaki pembeli yang mulai berdatangan.

Bapak itu mengenakan pakaian sederhana. Tangannya cekatan, gerakannya mantap, seolah setiap aktivitas sudah dihafalnya di luar kepala. Sesekali ia menyeka keringat yang mengalir di dahinya. Wajahnya tampak lelah, tetapi tidak ada keluhan yang keluar dari bibirnya. Berjualan ayam telah menjadi bagian dari hidupnya selama bertahun- tahun.

Ketika disapa, ia menghentikan sejenak pekerjaannya dan tersenyum ramah.

“Sudah berapa lama Bapak berjualan ayam di pasar ini?” tanya pewawancara membuka percakapan.

Ia menaruh pisaunya, lalu menjawab dengan nada tenang,
“Kurang lebih lima belas tahun. Dari pasar ini belum seramai sekarang,” katanya.

Lima belas tahun adalah waktu yang panjang. Selama itu pula ia menjalani rutinitas yang sama setiap hari. Bangun sebelum subuh, menyiapkan ayam, membersihkan lapak, lalu mulai berjualan sejak pagi. Panas, bau, dan kelelahan telah menjadi bagian dari kesehariannya. Baginya, semua itu adalah konsekuensi dari pilihan hidup yang dijalaninya.

“Capek itu pasti. Tapi namanya juga kerja, harus dijalani,” ujarnya dengan senyum kecil.

Lapak ayam ini bukan sekadar tempat mencari uang. Di sinilah ia belajar bertahan, belajar sabar, dan belajar menerima keadaan. Tidak setiap hari pasar ramai. Ada hari-hari di mana ayam habis terjual sebelum siang, tetapi ada pula hari- hari sepi yang memaksanya pulang dengan hasil yang pas- pasan.

Tantangan semakin terasa di akhir tahun ini. Harga ayam potong mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Biaya pakan, perawatan, dan distribusi yang terus naik membuat modal yang harus dikeluarkan semakin besar. Kondisi ini menjadi beban tersendiri bagi pedagang kecil sepertinya.

“Sekarang harga ayam memang mahal. Modalnya besar, tapi pembeli tidak selalu ramai,” ungkapnya dengan jujur.

Menurutnya, kenaikan harga ayam di akhir tahun membuat banyak pembeli berpikir ulang sebelum membeli. Sebagian mengurangi jumlah belanja, sebagian lagi menunda membeli ayam. Di sisi lain, pedagang tetap harus membeli ayam dengan harga tinggi agar bisa berjualan.

“Kalau harga naik, untung kami tidak selalu ikut naik, kadang cuma cukup buat muter modal saja,” jelasnya.

Situasi ini membuatnya harus lebih berhati-hati dalam mengatur keuangan. Kesalahan kecil bisa berdampak besar. Namun, di tengah tekanan tersebut, ia tetap memilih bertahan.

“Dalam kondisi seperti ini, pernah terpikir untuk berhenti berjualan?, ” tanya pewawancara.

Ia menggeleng pelan, lalu menjawab dengan suara mantap,
“Tidak pernah mundur. “Kalau saya berhenti, saya mau kerja apa lagi? Ini yang saya bisa,” tegasnya.

Jawaban itu keluar tanpa ragu. Ada keyakinan yang terbentuk dari perjalanan panjang hidupnya sebagai pedagang ayam. Ia sadar pekerjaannya berat, tetapi ia juga tahu bahwa menyerah bukan solusi.

Setiap pagi, ia kembali ke lapak yang sama. Terpal oranye itu kembali dibuka. Meja kayu itu kembali digunakan. Meski kondisi pasar tidak selalu berpihak, ia tetap datang dengan harapan sederhana, dagangan laku dan hari bisa dilalui dengan baik.

“Harapan Bapak ke depan apa?” tanya pewawancara melanjutkan.

Ia terdiam sejenak, menatap lapaknya, lalu berkata pelan, “saya berharap harga ayam bisa lebih stabil. Kalau stabil, pedagang kecil seperti kami tidak terlalu berat,” sebutnya.

Selain itu, ia berharap pasar tradisional tetap mendapat perhatian. Menurutnya, pasar bukan hanya tempat jual beli, tetapi tempat hidup bagi banyak orang kecil yang menggantungkan nasib setiap hari.

“Semoga pasar ini tetap ada. Biar kami masih bisa cari makan dengan jujur,” ujarnya.

Bagi bapak itu, bekerja bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga soal harga diri. Ia ingin tetap berdiri di atas kakinya sendiri, meski harus menghadapi kerasnya hidup dan naik-turunnya harga kebutuhan pokok.

Ketika pembeli kembali berdatangan, wawancara pun perlahan berakhir. Bapak itu kembali sibuk. Pisau kembali bergerak, timbangan kembali berbunyi, dan transaksi kembali berlangsung. Rutinitas yang tampak biasa, tetapi menyimpan makna besar tentang perjuangan hidup.

Di balik mahalnya harga ayam di akhir tahun dan ketidakpastian ekonomi, berdiri seorang bapak yang tetap teguh. Lapaknya mungkin kecil dan sederhana, tetapi semangatnya tidak pernah surut.

Dari pasar tradisional ini, ia mengajarkan arti ketekunan: tetap bekerja, tetap bertahan, dan tak pernah mundur, tak pernah menyerah-(*)

0Shares
Tak Pernah Mundur, Kisah Bapak Pedagang Ayam Yang Tak Pernah Menyerah
To Top