Tokoh

Syeikh Ahmad Chatib (1860-1916)Imam dan Khatib Masjidil Haram,Pelopor Pembaruan Islam di Nusantara (III-Habis)

Oleh: Efri Yoni Baikoeni

Ketika mendengar bacaan imam yang salah, Ahmad Chatib langsung membetulkannya. Spontanitas yang berani ini menyebabkan Ahmad Chatib mendapat pujian dari sang syarif. Bukan itu saja, diapun mendapat penghormatan dari penguasa kota suci tersebut.

Empat tahun perkawinannya berselang, isteri Ahmad Chatib meninggal dunia tahun 1883. Dia kemudian dinikahkan kembali oleh Syeikh Shalih Al Qurdi dengan anaknya yang lain bernama Fatimah, adik dari Khadijah. Dalam budaya Minangkabau, pernikahan seperti ini dinamai dengan “baganti lapiak”. –

Sebagai Imam dan Khatib di Masjidil Haram

Sejak pernikahannya dengan Fatimah, sang mertua membuka jalan bagi Ahmad Chatib untuk mengajar di Masjidil Haram. Atas bantuan dari mertuanya yang kenal baik dengan penguasa Syarif Makkah bernama Syarif Awn al Rafiq, Ahmad Chatib diijinkan mengajar di Masjidil Haram.

Pada saat menerima kepercayaan sebagai guru di Masjidil Haram tahun 1298 H tersebut, Ahmad Chatib masih berusia 38 tahun. Dari sini karirnya sebagai ulama dan guru langsung melejit, sehingga menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau yang mengenalnya.

Tidak hanya menjadi kebanggaan bagi daerah asalnya, Ahmad Chatib juga menjadi kebanggaan Indonesia, apalagi pada saat itu, orang Arab masih memandang rendah kepada orang Indonesia. Salah satu pameo terkenal di kalangan orang Arab kepada orang Indonesia seperti ungkapan “Jawi ya’kul hanas”, yang artinya orang Malayu makan ular.

Meski sudah mencapai puncak karir yang gemilang di Tanah Suci, kecintaan dan nasionalisme seorang Ahmad Chatib tidak pernah padam. Hal itu ditunjukkan dengan kiprah dan sumbangsihnya untuk Indonesia dengan memperhatikan masalah-masalah yang timbul dan menyumbangkan pemikirannya-pemikirannya untuk kemajuan dan kemashlahatan bangsa. Dia masih mengharapkan perbaikan-perbaikan untuk bangsanya.

Apalagi dengan adanya rasa kebencian yang sangat mendalam kepada Belanda sebagai penjajah, Snouck Hurgronje menyebutnya sebagai orang yang fanatik, yang oleh Dr. P.S. van Koningsweld dijelaskan dengan fanatik anti-Belanda.

Salah satu perhatian kepada tanah kelahirannya, Ahmad Chatib mengkritisi praktek budaya Minangkabau yang matriakhat. Dia menentang pembagian harta pusaka tinggi di Minangkabau kepada pihak perempuan.

Untuk itu, dia menulis dua buku. Pertama berjudul “Al Da’i Al Masmu’ fi ‘il-radd ‘ala Yuwarritsu’: ikhwahwa awlad al-akhawat ma’a wujud al-ushul wa’l-furu” yang artinya “Seruan yang Didengar dalam Menolak Pewarisan Kepada Saudara dan Anak-anak Saudara Perempuan Beserta Dasar dan Perincian” ditulis dalam bahasa Arab dan dicetak di Mesir tahun 1311 H.

Kedua berjudul “Al Manhaj al Masyru’” yang artinya “Cara-Cara Yang Disyariatkan” ditulis dalam Bahasa Melayu dan dicetak di Mesir tahun 1311 H.

Selain sikap kritisnya kepada adat Minangkabau, sosok Ahmad Chatib juga merupakan orang yang anti kepada Belanda. Hal itu pernah dikemukakan oleh Haji Agus Salim – pernah berguru kepada Ahmad Chatib saat menjadi penerjemah di Konsulat Belanda di Jeddah – saat memberikan kuliah di Cornell University, AS tahun 1953.

The Grand Old Man itu mengatakan bahwa Ahmad Chatib adalah seorang yang sangat anti-Belanda. Karena itu, dia tidak mempunyai hubungan yang baik dengan Snouck Hurgronje ketika ilmuwan Belanda itu berada di Makkah tahun 1885.-( Habis-* ).-

To Top