Kaba Terkini
SMKN 1 Matur-APD, Gelar Pendidikan Politik Bagi Pemilih Pemula, Okta Muhlia : Pemilih Milineal Penentu Kemenangan
Matur,kaba12 — Pemilih pemula bukan sekadar menjadi lumbung suara pada pemilu tetapi bagaimana keberadaan mereka menjadi investasi untuk pembangunan yang lebih baik dimasa depan.
Hal itu diungkap Okta Muhlia,SE,MSi, koordinator Akademi Pemilu dan Demokrasi ( APD ) Kabupaten Agam saat menjadi narasumber kegiatan projek penguatan profil pelajar pancasila (P5) dengan tema suara demokrasi di SMKN 1 Matur Selasa, (5/9).
Kegiatan yang diinisiasi SMKN 1 Matur itu, diikuti siswa kelas X dari semua jurusan didampingi beberapa orang guru yang menyadari pentingnya pendidikan politik dan demokrasi untuk diberikan sejak dini kepada siswa, agar tidak menjadi antipati dengan demokrasi dan politik.
Okta Muhlia Koordinator APD Kabupaten Agam sebagai narasumber eksternal,sengaja mengangkat tema anak muda sebagai kelompok rentan dalam demokrasi dan pentingnya berkontribusi dalam Pemilu itu, menyebutkan jumlah pemilih pemula atau gen Z dengan usia 17 s.d 26 tahun dalam DPT Kabupaten Agam sebanyak 96.841 jiwa atau 25% dari total jumlah DPT. Dan gen Y dengan usia hingga 42 tahun sebanyak 115.917 jiwa atau 30%. Maka ada sekitar 55% dari total DPT Kabupaten Agam yang merupakan kaum milenial.
Ditambahkan, jumlah pemilih milenial yang besar akan mempengaruhi para calon legislatif dan calon presiden untuk bisa merebut hati para pemilih milenial. Peserta pemilu harus mampu berkreasi yang kreatif untuk meyakinkan para pemilih milenial agar tidak salah dalam menentukan pilihannya pada Pemilu 2024 nanti.
“Generasi milenial setidaknya memiliki 3 karakter utama, yaitu convidence, creative dan connected. Dengan 3 karakter utama pemilih milenial ini harapnya dapat membawa perubahan pada demokrasi dan pembangunan bangsa,” ungkap Lia, panggilan akrab Okta Muhlia itu lagi.
Lia menjelaskan, pemilih pemula termasuk kedalam kelompok rentan karena karena kurangnya pengetahuan, terbatasnya akses data dan cenderung labil. Maka pendidikan politik dan diskusi kritis tentang demokrasi penting sering sering dilakukan bersama pemilih milenial.
Disebutkan, kaum milenial akan lebih dinamis dan lebih cepat berubah persepsi politiknya, terutama sangat terpengaruh lingkungan, kemampuan untuk menyaring informasi hoax dan informasi negatif lainnya perlu terus diasah bagi pemilih pemula.
Ditambahkan Okta Muhlia, hal ini peluang bagi peserta pemilu, jika mampu mengelola dengan baik pemilih milenial bisa menjadi penentu kemenangan. Menjadi tantangan besar untuk merebut hati para pemilih milenial dengan politik ide dan gagasan yang memajukan bangsa.
“Kita harus mampu membuat diskusi dan bicara politik itu menarik bagi kawula muda.Pendekatan yang digunakan bagi pemilih milenial tidak hanya pendekatan pragmatis tetapi juga pendekatan investasi jangka panjang bagi bangsa dan negara, “ ungkapnya lagi.
-HARMEN-