Opini

Selusur Jejak Budaya di Bandar Lampung: Little Forgotten Traditional Bugis Houses di Kampung Cungkeng, Teluk Betung

Posted on

Di sepanjang pesisir Bandar Lampung, masih bisa kita temui rumah-rumah Bugis lama yang menjadi saksi perjalanan para perantau Bugis sejak puluhan tahun lalu. Meski beberapa sudah berubah mengikuti kebutuhan pemiliknya, dan beberapa lainnya mulai lapuk termakan usia, ciri khasnya belum benar-benar hilang. Bentuk panggung, serta ornamen dan pola pada fasad masih memperlihatkan identitas budaya yang dulu begitu kuat mewarnai kawasan pesisir Bandar Lampung.

Seiring berjalannya waktu, rumah-rumah tradisional Bugis ini kehilangan identitas fasadnya entah karena renovasi, kerusakan, atau diganti material baru. Namun jejak bentuk aslinya masih cukup jelas untuk dipahami, dan justru membuka peluang untuk dibangkitkan kembali sebagai bagian dari kekayaan warisan budaya. Dengan bantuan teknologi visual, bentuk yang sudah berubah kini bisa divisualisasikan ulang sehingga masyarakat dapat melihat kembali karakter rumah Bugis sebagaimana aslinya. Bukan untuk kembali ke masa lalu, tetapi memberi gambaran lebih utuh tentang warisan budaya yang pernah berdiri megah di pesisir Bandar Lampung.

Sebagai akademisi sekaligus pegiat arsitektur tradisional, dalam wawancara tim dengan Dwi Eva Lestari, Beliau percaya bahwa rumah-rumah Bugis di Kampung Cungkeng bukan sekadar artefak fisik, tetapi cermin perjalanan identitas, adaptasi, dan keberanian komunitas pesisir dalam mempertahankan nilai-nilai budayanya.

“Setiap tiang, setiap papan, dan setiap ornamen adalah bentuk komunikasi lintas generasi yang mengajarkan tentang kearifan dalam membangun ruang hidup yang selaras dengan lingkungan tropis dan dinamika sosial masyarakat pesisir”.

Pelestarian rumah-rumah ini tidak harus dipahami sebagai upaya memusatkan masa lalu, tetapi sebagai strategi memperkuat narasi budaya yang mampu menginspirasi generasi masa kini. Arsitektur tradisional Bugis menyimpan prinsip-prinsip keberlanjutan, ketangguhan, dan kecermatan ruang yang sangat relevan dengan tantangan urban pesisir hari ini. Menghidupkan kembali pemahaman ini berarti membuka jalan bagi perencanaan kawasan yang lebih manusiawi, berakar pada sejarah, dan tetap adaptif terhadap kebutuhan modern.

Harapannya, semakin banyak orang yang mengenal kembali rumah-rumah ini sebagai bagian dari sejarah hidup komunitas Bugis di pesisir Bandar Lampung. Nilai dan cerita yang ada di baliknya dapat menjadi landasan bagi upaya pelestarian, sekaligus inspirasi untuk mengembangkan kawasan pesisir sebagai ruang budaya yang tetap relevan di masa kini.

Penulis:
Rahma Tsabita Solihin

Populer

Exit mobile version