“Kota Penuh Prestasi Tapi Masih Ada Setumpuk PR”
Oleh : M. Nur Idris, SH (Direktur LBH Andalas Bukittinggi)
Pada Minggu 22 Desember 2019 lalu, Kota Bukittinggi sudah menginjak usia yang ke-235.
Dari segi usia Kota Bukittinggi tergolong sudah tua. Pahit getir menerpa silih berganti mewarnai perjalanan zaman menjadikan Kota yang berjuluk kota wisata ini kian tegar.
Penetapan hari jadi Kota Bukittinggi pada tanggal 22 Desember 1784 didasarkan pada perubahan nama pasar sebagai pusat keramaian kota yang semula bernama “Bukik Kubangan Kabau” (karena dahulunya tempat ini memang sering dijadikan sebagai tempat mengembalakan kerbau), menjadi “Bukik Nan Tatinggi”, yang kemudian lebih populer disebut Bukittinggi.
Menurut penelitian para ahli sejarah, pada tanggal 22 Desember 1784, diadakan pertemuan besar berupa rapat adat seluruh Penghulu Nagari Kurai. Pangulu Nan Salingka Aua, Saadaik- Salimbago ini membuat kesepakatan untuk mencarikan nama pasar yang telah menjadi urat nadi Nagari Kurai waktu itu.
Dalam rapat adat tersebut dihasilkan keputusan untuk menyebut Pasar Nagari Kurai dengan sebutan “Bukik Nan Tatinggi”, yang kemudian populer dengan sebutan Pasa Ateh Bukittinggi.
Peringatan Hari Jadi Kota (HJK) Bukittinggi tahun ini mengambil tema “Tiada Henti Berinovasi, Untuk Membangun Negeri Yang Menginspirasi”.
Menurut penulis tema ini sangat inspiratif cocok dengan apa yang sedang dan yang sudah serta yang akan dilakukan saat ini oleh Pemerintahan Kota Bukittinggi bersama DPRD Kota Bukittinggi untuk berbenah dan bersaing maju dengan daerah kota dan kabupaten lainnya di Indonesia.
Walaupun tidak menjadi barometer utama mengukur tingkat kemajuan sebuah kota, tapi tahun ke tahun penulis melihat kota ini telah berupaya untuk berbenah menuju kota modern yang aman dan nyaman untuk dihuni dan dikunjungi.
Peringatan HJK tahun ini juga istimewa karena ini merupakan Rapat Paripurna Istimewa pertama bagi anggota DPRD Kota Bukittinggi hasil pemilu legislatif 2019-2024 serta merupakan tahun keempat kepemimpinan Walikota dan Wakil Walikota Ramlan Nurmatias dan Irwandi untuk periode 2016-2021.
Keduanya sedang menjalankan program dan kebijakan yang sudah mereka sampaikan pada visi dan misi sewaktu menjadi calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Tahap demi tahap program dan kebijakan sudah dikerjakan dan yang akan dikerjakan dalam sisa jabatan mereka berdua.
Pada pidato Walikota Bukittinggi di rapat paripurna istimewa DPRD Kota Bukittinggi di Balai Sidang Bung Hatta, Minggu 22 Desember 2019 lalu, penulis menyimak progres pembangunan yang sudah mereka lakukan berdua secara terbuka dalam pengalokasikan anggaran dan belanja dalam APBD.
Mulai pendapatan daerah melalui upaya intensifikasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dilakukan terjadi peningkatan setiap tahunnya. Awal jabatan mereka berdua, PAD baru sebesar Rp. 63 Milyar kini sudah mencapai Rp. 117 Milyar.
Sementara strategi dan upaya menggaet dana dari pusat untuk membiayai pembangunan di Kota Bukittinggi sudah berhasil dilakukan antara lain; Pembangunan Pasa Ateh sebesar Rp. 292 Miliyar, Pembangunan Embung Tabek Gadang Rp. 15 Milyar, Revitalisasi Pipa PDAM Rp. 15 Milyar, Normalisasi Batang Agam 5 Milyar, Program Kota Kumuh 14 Milyar dan Pembangunan Rumah Susun Rp. 15,7 Milyar.

Dibanding tiga tahun lalu, pembangunan di Kota Bukittinggi memang belum dapat terlihat sempurna, karena berbagai kegiatan dilakukan masih dalam bentuk perencanaan. Tahun 2019 geliat kerja pembangunan kota sudah menampakan hasil seperti pembangunan kembali Pasa Ateh pasca kebakaran 30 Oktober 2017 yang lalu, kondisi sekarang sudah hampir selesai pada akhir Desember dan direncanakan awal tahun 2020 akan ditempati oleh para pedagang.
Apabila Pasa Ateh siap akan menjadi satu kesatuan dengan kawasan Jam Gadang yang sudah selesai akhir tahun 2018 lalu.
Keduanya akan menjadi icon utama Kota Bukitinggi yang semakain nyaman dan representaif untuk dikunjungi dan berdampak postif bagi peningkatan ekonomi masyarakat.
Kalau dua tahun lalu masyarakat Kota Bukittinggi masih mengeluhkan penyedian air bersih, maka tahun 2019 ini, keluhan itu dijawab dengan dibangunnya Embung PDAM di Tabek Gadang dan Revatilisasi Jaringan PDAM akan bisa menjawab persoalan kebutuhan air bersih di Kota Bukittinggi.
Selanjutnya pembangunan bidang pendidikan menjadi prioritas kedua putra Kurai memimpin kota ini, dengan cara membangun berbagai sekolah SD dan SMP yang tidak layak, agar menjadi nyaman bagi pelajar di kota Bukittinggi.
Dalam pidato Walikota ada 3 SMP dan 10 SD yang dibangun kembali dengan total biaya sekitar Rp. 35 Milyar lebih.
Dan untuk untuk tahun 2020 direncanakan akan ada lanjutan pembangunan 10 sekolah diantaranya 3 buah SMP dan SD dengan biaya sekitar Rp.27 Milyar.
Dalam pidato Walikota di HJK ke-235 juga disebutkan bahwa Pemko sedang membangun rumah susun bagi masyarakat berpenghasilan rendah sebanyak 42 unit untuk tipe 36 dengan anggaran sebesar Rp. 17 Milyar yang kesemuanya dana berasal dari pusat.
Selanjutnya dibangun pula 3 kantor SKPD dan 8 kantor lurah dengan biaya keseluruhan sekitar Rp. 47 Milyar. Dalam upaya menyelesaikan pekerjaan rumah yang sudah menahun dan 8 kali penukaran kepala daerah dan pelaksana tugas Walikota Bukittinggi yakni penyelesaian konsolidasi tanah by pass walaupu belum tuntas 100 persen, namun telah banyak kemajuan penyelesaiannya.
Pada paripurna HJK itu Walikota juga menyebutkan bahwa sudah terbangun rumah dinas Walikota Bukittinggi yang menelan biaya sekitar Rp. 16,9 Milyar dengan alokasi anggaran selama 3 tahun.
Rumah dinas dibangun tidak hanya berfungsi sebagai sebagai tempat tinggal Walikota beserta keluarga, tapi juga sebagai sebagai ruangan pertemuan yang lazim disebut Balairung untuk pertemua kemasyarakatan dengan jumlah yang besar.
Menurut Walikota dengan adanya rumah dinas dan ruangan pertemuan ini bisa menampung 1200 orang untuk pertemuan masyarakat kota seperti pengajian dan acara kota lainnya, sehingga tidak diperlukan lagi menyewa tenda dan kursi dengan jumlah banyak.
Pada akhir pidato Walikota Ramlan Nurmatias menyampaikan beberapa presatsi dan penghargaan yang diperoleh selama tahun 2019 serta menyampaikan bahwa masih terdapat beberapa kegiatan pembanguna yang sedang dikerjakan namun belum tuntas diantaranya; Pembangunan Mall Pelayanan Publik, Pembangunan RSUD, dan Pembangunan Kantor DPRD. Namun pekerjaan ini dijanjikan akan dituntaskan sebagai pekerjaan rumah pada tahun 2020 atau sebelum berakhirnya masa jabatan Walikota dan Wakil Walikota Ramlan Nurmatias dan Irwandi.
Tak lupa diakhir pidata Walikota Ramlan Nurmatias mewakili pemerintah menyampaikan permohonan maaf atas segala kebijakan dan pekerjaan yang dilakukan serta pekerjaan yang belum tuntas dikerjakan.
Dalam paripurna itu sambutan tokoh masyarakat yang disampaikan oleh Syahrizal Dt. Palang Gagah menyebutkan bahwa kinerja Pemko dan DPRD selama satu tahun terakhir telah banyak membuat perubahan sebagai bukti kerja nyata pemerintah.
Atas nama masyarakat Syahrizal DT. Palang Gagah yang juga selaku Ketua LKAAM Kota Bukittinggi menyampaikan terima kasih kepada Walikota dan DPRD Kota Bukittinggi.
Sambutan tokoh masyarakat ini sudah tentu melihat hasil kerja yang dilakukan oleh Walikota dan Wakil Walikota.
Selaku tokoh masyarakat beliau menyampaikan bahwa yang dilakukan terdapat beberapa yang belum terselesaikan, namun ninik mamak ini mengharapkan pekerjaan yang tinggal dapat diselesaikan pada periode kedua.
Suatu kalimat yang punya makna dan harapan sebagai gambaran dari ninik mamak dan tokoh masyarakat Bukittinggi kepada Walikota.
Dari pidato yang terjadi pada paripurna peringatan HJK ke-235 itu, penulis dapat melihat bahwa tahun 2019 menjadi tahun kerja oleh Walikota dan Wakil Walikota Ramlan Nurmatias dan Irwandi.
Namun menjalankan roda pemerintahan dan melayani semua harapan masyarakat tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Tidak mudah melaksanakan pembangunan karena harus diimbangi dengan ketentuan anggaran yang semakin lama semakin banyak aturan yang berubah dan harus diikuti.
Kebijakan pengelolaan keuangan daerah yang memerlukan pemahaman mendalam dan sikap kehati-hatian, kekurangan kemampuan SDM aparatur dalam menjalankan tugas menjadi salah satu kendala yang harus dihadapi.
Belum lagi kritikan yang dialamatkan kepada pemerintah kota terhadap kebijakan pembangunan melalui media sosial seperti bangunan Pasa Ateh dan RSUD.
Pada sisi lain, kota ini menerima puluhan penghargaan tingkat nasional dan regional selama tahun 2019 ini dibawah kepemimpinan Ramlan Nurmatias dan Irwandi.
Mulai penghargaan Adipura sebagai kota bersih yang sudah 20 tahun tidak pernah diterima lagi, penghargaan opini WTP sebagai kota penyelenggaraan pelaporan keuangan terbaik berturut- turut selama enam tahun terakhir, serta berbagai penghargaan lain yang diterima baik tingkat Provinsi Sumatera Barat maupun nasional.
Kota Bukittinggi, ditengah pujian dan cibiran yang mengiringnya terus berbenah, berbagai perbaikan dan pembangunan sedang dikerjakan. Seiring dengan itu, berbagai penghargaan juga telah diterima oleh kota wisata yang kini sudah berusia 235 tahun.
Semua penuh tantangan dan tantangan itulah yang akan diseberangi oleh pemerintah daerah bersama masyarakat kota Bukittinggi.
Sudah tentu tidak mudah untuk mewujudkan sebuah kota bagus dan indah sebagaimana membalikan telapan tangan.
Siapapun yang menjadi Walikota di Bukittinggi tidak bisa bekerja baik tanpa didukung masyarakat. Disisi lain Walikota dan Wakil Walikota harus mendengarkan masukan masyarakat dan berlapang dada menerima kritikan. Selamat Milad Kotaku Bukittinggi Ke-235.
(*)