Kaba Tausyiah
Ramadhan dan Kepemimpinan Diri, Menjadi Pribadi Lebih Disiplin
Lubukbasung, kaba12 — Sahabat kaba12, tanpa terasa perjalanan Ramadhan sudah semakin dekati penghujung. Di titik ini, mungkin ada yang mulai bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya sudah berubah dari diri kita selama bulan puasa ini?
Ramadhan sejatinya bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang kepemimpinan diri. Puasa melatih seorang untuk memimpin dirinya sendiri, mengatur waktu, menahan keinginan, serta menjaga sikap dalam berbagai situasi.
Setiap hari selama Ramdhan, umat Islam dilatih untuk disiplin. Bangun lebih awak untuk sahur, menjaga diri sepanjang hari, lalu menutupnya dengan ibadah di malam hari. Rutinitas ini tanpa disadari membentuk karakter yang lebih tertata dan bertanggungjawab.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini memberi pesan penting bahwa perubahan selalu dimulai dari diri sendiri. Ramadhan menjadi momentum terbaik untuk memulai perubahan tersebut, terutama dalam hal kedisiplinan dan pengendalian diri.
Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya kekuatan dalam mengendalikan diri, dalam sebuah hadist disebutkan:
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR.Bukhari dan Muslim)
Dalam hadist ini, memiliki nilai yang relavan dengan puasa. Kenapa?, karena sepanjang hari, seseorang, diuji bukan hanya oleh rasa lapar, tetapi juga berbagai situasi yang memancing emosi dan keinginan.
Sahabat kaba12, dari latihan sederhana selama Ramadhan ini sebenarnya kita sedang belajar menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Jika mampu memimpin diri, maka seseorang akan lebih mudah menjalani berbagai tanggungjawab dalam kehidupan, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun maysarakat.
Oleh karena itu, Ramadhan menjadi waktu bagi kita, terutama admin sendiri, untuk mengevaluasi diri. Apakah kita sudah lebih disiplin dalam shalat? Apakah kita lebih menahan emosi? Apakah kebiasaan baik mulai terbentuk?
Jika jawabannya “Iya”, berarti Ramadhan sedang bekerja dalam diri kita.
Semoga latihan kepemimpinan diri yang dibangun selama Ramadhan tidak berhenti ketika bulan suci berakhir, justru dari sinilah kebiasaan baik it uterus dibawa dalam kehidupan sehari – hari.
(TAUFIQ/*)