Kaba Tausyiah

Ramadhan 1447 H, Momentum Membersihkan Hati dan Memperbaiki Diri

Posted on

Lubukbasung, kaba12 — Ramadhan kembali menyapa umat Islam di tahun 1447 Hijriah, bulan yang selalu dinanti, bukan sekedar karena suasana religiusnya, tetapi karena ia datang membawa kesempatan untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, menata ulang niat, serta membersihkan hati dari debu – debu dosa yang mungkin tanpa sadar menumpuk sepanjang tahun.

Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tapi lebih dari itu. Puasa adalah latihan pengendalian diri, saat seseorang mampu menahan diri dari yang halal pada siang hati, maka seharusnya ia lebih mampu lagi menahan diri dari yang haram sepanjang waktu. Di sinilah Ramadhan menjadi madrasah kehidupan, yakni tempat kita belajar disiplin, kesabaran, dan kejujuran.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 :

يٰۤاَیُّهَا الَّذِیْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَیْكُمُ الصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَی الَّذِیْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۙ
Artinya : “Wahai orang – orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat diatas menegaskan tujuan utama puasa, yakni, mencapai derajat takwa dan bukan sekadar simbol kesalehan di hadapan manusia, melainkan kesadaran penuh bahwa Allah selalu mengawasi setiap gerak – gerik hambanya. Orang yang bertakwa bukan hanya rajin ibadah, tetapi juga menjaga sikap, lisan, dan perbuatannya dalam kehidupan sehari – hari.

Momentum Ramadhan 1447 H hendaknya menjadi titik balik, jika selama ini shalat sering ditunda maka inilah saatnya untuk memperbaiki. Jika lisan masih mudah menyakiti, inilah waktunya belajar menahan diri, jika hati dipenuhi iri dan dengki, Ramadhan adalah bulan pembersihan.

Ditengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering lupa memberi ruang untuk jiwanya. Kita sibuk mengajar target dunia, tetapi jarang mengevaluasi kualitas hubungan dengan Sang Pencipta. Ramadhan hadir sebagai pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang capaian materi, tetapi tentang kualitas iman.

Membersihkan hati bukan pekerjaan sehari dua hari, ia butuh kesungguhan. Dimulai dari memperbanyak istighfar, memperibaiki shalat, memperbanyak membaca Al-Qur’an, hingga memperbaiki hubungan dengan sesama. Sebab hati yang bersih akan memancarkan sikap yang lembut, ucapan yang menyejukan, dan tindakan yang membawa kebaikan.

Ramadhan juga mengajarkan empati, saat rasa lapar datang. Kita diingatkan bahwa ada saudara – saudara kita yang merasakannya bukan hanya sebulan, tetapi mungkin sepanjang tahun. Dari sinilah lahir kepedulian sosial, keinginan untuk berbagi, dan semangat mempererat kebersamaan.

Pertanyaannya sederhana, apa yang ingin kita ubah di Ramadhan kali ini? Jangan sampai Ramadhan hanya lewat sebagai rutinitas tahunan tanpa perubahan berarti, jangan biarkan ia datang dan pergi tanpa meninggalkan jejak kebaikan dalam diri.

Ramadhan 1447 Adalah kesempatan, bisa jadi ia bukan sekedar bulan ibadah, tetapi bulan penentu arah hidup kita ke depan. Maka mari sambut dengan hati yang siap diperbaiki, niat yang diluruskan dan tekad yang diperkuat.

Karena sejatinya, yang paling beruntung bukanlah mereka yang sekadar menjalani Ramadhan, tetapi mereka yang keluar darinya sebagai pribadi yang lebih baik.

(TAUFIQ/*)

Populer

Exit mobile version