Lubukbasung, kaba12 — Inovasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi dalam mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Nagari Kampung Pinang, Kecamatan Lubuk Basung, dan masyarakat sekitar.
Selain itu, usai kegiatan workshop “Introduksi Pengelolaan Limbah Plastik Menjadi Benda Berharga”, dilanjutkan dengan praktik langsung dari limbah plastik tersebut menjadi paving block yang juga di hadiri oleh masyarakat, di halaman Kantor Walinagari Kampung Pinang, Senin, (7/7).
Walinagari Kampung Pinang, Roni S.AP, menyatakan apresiasinya terhadap kreativitas mahasiswa dalam mengedukasi masyarakat melalui kegiatan literasi dan praktik langsung pengolahan limbah plastik menjadi paving block.
“Kami acungkan jempol atas kegiatan ini. Literasi dan praktik pengolahan sampah plastik menjadi paving block sangat bermanfaat dan dapat digunakan untuk kegiatan pembangunan di halaman,” ujarnya.

Ia juga berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut karena memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat Kampung Pinang.
Sementara itu, Camat Lubuk Basung, Ricky Eka Putra, juga memberikan dukungannya dan menilai bahwa inovasi ini bisa menjadi percontohan untuk nagari-nagari lain di wilayahnya.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi contoh, bukan hanya untuk Kecamatan Lubuk Basung, tetapi juga nagari-nagari lainnya, termasuk Kampung Pinang,” ungkap Camat.
Ia menekankan pentingnya replikasi proyek seperti ini agar dampaknya bisa dirasakan lebih luas.

Ketua kelompok KKN UIN Bukittinggi di Kampung Pinang, Fanky Albest Maulana Afdhan menjelaskan bahwa ide pengolahan limbah plastik menjadi paving block muncul dari hasil bacaan dan diskusi tim, terutama karena lokasi KKN mereka berada di sekitar pasar yang menghasilkan banyak sampah plastik.
“Sampah plastik di pasar biasanya didaur ulang, selain itu ada juga yang dibakar, padahal itu mencemari udara. Melalui pengolahan ini, kami ingin mengurangi polusi dan memberikan nilai ekonomi,” ujar Ketua KKN.
Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan paving block dari plastik memakan waktu sekitar 45 menit, termasuk proses pembakaran, pencetakan, dan pengeringan. Produk yang dihasilkan dijual dengan harga dapat berkisar Rp5.000 per buah.
“Harapan kami, kegiatan ini bisa menjadi motivasi bagi masyarakat Kampung Pinang, khususnya di Balai Selasa, untuk mengelola sampah dengan lebih baik dan menjadikannya sebagai peluang UMKM yang bisa meningkatkan ekonomi lokal,” tambahnya.

Mahasiswa berharap agar ide ini tidak hanya berhenti sebagai proyek KKN, tetapi bisa terus dikembangkan oleh masyarakat dan didukung oleh pemerintah agar menjadi gerakan berkelanjutan dalam mengatasi masalah sampah plastik.
Dengan adanya kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah nagari, dan masyarakat, inisiatif ini menunjukkan bahwa solusi kreatif berbasis lingkungan bisa menjadi awal perubahan menuju kehidupan yang lebih bersih, sehat, dan produktif di tingkat lokal.
(TAUFIQ)