Sebagai manusia, Rasulullah juga membutuhkan tidur. Kebiasaan tidur beliau bisa kita teladani sebagai batas waktu tidur menurut Islam yang baik. Rasulullah tidur dalam jumlah wajar. Beliau tak pernah tidur berlebihan hingga melampaui batas. Maksudnya, tidur yang sangat lama sampai melebihi kebutuhan tubuh. Meski demikian, Rasulullah tidak memaksa diri tetap bangun jika merasa lelah. Beliau beristirahat sesuai kebutuhan.
Dari pola tidur Rasulullah, kita bisa memahami bahwa beliau mengajarkan prinsip pertengahan kepada umatnya. Dalam hal ini Rasulullah tetap memenuhi hak tubuh untuk beristirahat. Teladan dari beliau inilah yang kemudian menjadi batas waktu tidur dalam Islam.
Tidur di Awal Malam, Bangun di Pertengahan Malam
Rasulullah terbiasa tidur di awal malam. Beliau tidak menghabiskan waktunya begadang untuk keperluan yang sia-sia. Jika tak ada keperluan mendesak, beliau beranjak tidur usai sholat Isya’.
Lalu di pertengahan malam, terutama di sepertiga malam terakhir, beliau bangun untuk melaksanakan sholat tahajud. Ada riwayat yang menjelaskan bahwa beliau tidur sejenak sebelum Azan Subuh. Kemudian bangun ketika Azan Subuh berkumandang. Ketika bangun, beliau mengucapkan doa:
الحَمْدُ اللهِ الَذِي أَحْيَاناَ بَعْدَ ما أَمَاتَناَ وَ إِلَيْهِ النُشُور
“Segala puji bagi Allah Yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepadanya seluruh makhluk kan dibangkitkan” (HR.Bukhari).
Bangun di pertengahan malam juga menjadi kesempatan bagi seseorang untuk menggapai rahmat Allah. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa bangun pada malam hari, kemudian ia berdoa, “Laa ilaa ha illalllah, wahdahu laa syarikala, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir’, Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaa ha illallah, wallahu akbar. Laa haula wa laa quwwata illabillahil ‘aliyyil ‘adziim“.
Setelah itu berdoa, “Ya Allah ampunilah aku”, ataupun doa yang selain itu, niscaya dikabulkan doanya. Kemudian apabila ia bangkit berwudhu lalu sholat maka akan diterima sholatnya,” (HR.Bukhari).
Tidur Menjelang Siang
Menjelang siang, Rasulullah mengistirahatkan tubuhnya dengan melakukan qailulah. Qailulah adalah istirahat di pertengahan siang hari, tepatnya ketika terik matahari tengah berada di puncak. Qailulah tidak harus dilakukan dengan tidur. sehingga bisa dibilang batas waktu tidur menurut Islam di siang hari cukup bagus.
Rasulullah bersabda, “Qailulah lah karena sungguh setan itu tidak Qailulah”.
Kebiasaan ini disebut dalam Al Quran, tepatnya di surat Al Furqan ayat 24. Allah berfirman, “Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat Qailulahnya.” (QS.Al Furqan: 24).
(sumber: umroh.com)