Pasa Raba’a, kaba12.com — Sebagai upaya mempertahankan seni tradisi dan budaya Minangkabau, para pemuda Tuah Sakato, Jorong Pasa Raba’a, Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, menggelar latihan Randai, Sabtu (12/9) malam. Kegiatan yang dilaksanakan secara rutin di Los Pasar Raba’a itu melibatkan unsur kepemudaan setempat dalam rangka melestarikan nilai seni budaya Minangkabau.
Bahkan, latihan yang dilakukan oleh unsur pemuda Tuah Sakato itu berhasil mengundang perhatian masyarakat setempat untuk melihat atraksi pertunjukkan kesenian tradisional.
Ketua Pemuda Tuah Sakato Jorong Pasa Raba’a, Didi Satria menyebutkan, latihan yang digelar secara rutin ini bertujuan untuk mengangkat tradisi seni budaya Minangkabau yang saat ini sudah mulai tergerus oleh perkembangan zaman. Dimana hal ini sekaligus untuk memberikan motivasi dan semangat kepada generasi muda untuk mempertahankan nilai-nilai kesenian Minangkabau.

“Ini juga sekaligus untuk ‘Mambangkik Batang Tarandam’ Tim kesenian Tuah Sakato yang kini sudah mulai pudar. Maka dari itu, dengan adanya latihan yang digelar rutin ini dapat melestarikan seni budaya Minangkabau, sehingga bisa menciptakan suatu hal bermanfaat di kemudian hari,” kata Didi Satria kepada kaba12.com disela-sela latihan.
Dikatakan Didi, pelaksanaan latihan kesenian tradisional ini dilakukan dua kali dalam seminggu. Dimana jadwal latihannya dilakukan pada Kamis dan Sabtu malam yang diikuti oleh 25 orang dari unsur kepemudaan Tuah Sakato. ” Selain latihan Randai, mereka juga melakukan latihan kesenian Minangkabau lainnya, seperti tari tradisional, silek, tambua tansa, dan seni lainnya,” ujarnya.
Ditambahkan, dengan adanya latihan ini diharapkan dapat memberikan semangat kepada generasi muda untuk melestarikan nilai seni budaya. Kemudian menghindari bahaya pengaruh narkoba yang saat ini kian merajalela.
Sementara itu, Sesepuh Kepemudaan Tuah Sakato, Herman Tanjung menambahkan, selain bertujuan untuk mengangkat tradisi seni budaya Minangkabau, latihan ini dilakukan sebagai upaya mempersatukan unsur kepemudaan di Jorong Pasa Raba’a.
Ia menyebutkan, kegiatan ini sekaligus untuk ‘Mambangkik Batang Tarandam’ kesenian Randai Siti Napiah pemuda Tuah Sakato yang saat ini sudah mulai pudar. Dikatakan, kesenian Randai Siti Napiah ini pernah tenar pada era 70-90an dan sering diundang untuk menyambut tamu pejabat dari pusat.
“Pada era itu kami sering juga diundang dan mengikuti festival ke berbagai daerah di Sumatera Barat, seperti Kota Padang, Bukittinggi, Kayutanam, Payakumbuh, Lubukbasung, Agam Timur, dan lainnya,” ungkap Herman.

Kendati demikian, pihaknya berharap para generasi muda penerus ini diharapkan bisa mengembalikan masa-masa kejayaan tim kesenian Tuah Sakato yang dulu, dan terkenal dengan kekompakannya.
“Mudah-mudahan generasi muda ini bisa mengangkat kejayaan Tuah Sakato seperti dulu, serta melestarikan tradisi seni budaya Minangkabau di era milenial seperti sekarang ini,” jelasnya.
(Bryan)