Kaba Pasaman

Pabrik Pakan Mandiri

Oleh : Benny Utama
Bupati Pasaman

Manjadda wa Jadda. Usaha tak akan mengkhianati hasil. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka Ia akan mendapatkannya. Tak ada yang tak mungkin asalkan kita mau bekerja keras, dibarengi doa dan niat yang tulus tentunya.

Prinsip inilah yang memotivasi, ketika kita di Pasaman ingin memperjuangkan hadirnya pabrik pakan ikan di daerah seluas 3.996 km², yang mayoritas masyarakatnya adalah petani, termasuk petani ikan air tawar.

Keinginan yang sudah terpendam semenjak puluhan tahun lalu, sudah harus ditunaikan. Harapannya sederhana, pabrik pakan mandiri hadir di Pasaman, pasokan pakan terjaga, hargapun relatif terjangkau dan masyarakat bisa terbantu.

Bisakah diwujudkan? Insyaallah.. Caranya ya kerja keras itu tadi.

Berkomunikasi intens ke pemerintah pusat, berkoordinasi ke Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP). Yakinkan Pak Menterinya, bahwa kebutuhan pakan ikan di Pasaman sangatlah besar, putaran uang mencapai ratusan milyar, bahkan mencapai diatas satu triliun per-tahun. Sementara harga pakan itu masih sangat tinggi, yang secara langsung memberatkan para petani ikan kita di Pasaman.

Artinya, pabrik pakan ini sangatlah penting bagi ribuan masyarakat petani ikan daerah ini. Untuk pembuktian, jika perlu kita upayakan dan ajak Menteri KKP ke lapangan, pertontonkan hamparan kolam/tambak ikan yang berjejer luas di sebagian besar wilayah utara Kabupaten Pasaman.

Kerja keras itu perlahan mulai membuahkan hasil. Melalui Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 64 Tahun 2021 tertanggal 23 Agustus 2021, Kabupaten Pasaman ditetapkan sebagai Kampung Ikan budi daya komoditi ikan mas, bersama lima kabupaten lainya di Indonesia, tahun 2021 kemaren.

Kompensasi atas penetapan ini, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) membangunkan Pabrik Pakan Mandiri di Pasaman

Sate Mak Syukur, 4 Juni 2021

Sate Mak Syukur di kota dingin Padang Panjang, 4 Juni 2021 adalah saksi bisu titik awal berdirinya pabrik pakan mandiri di Kabupaten Pasaman. Kala itu Menteri KKP Wahyu Sakti Trenggono mampir menikmati kuliner disela sela kunjungan kerjanya di Sumatera Barat. Semula dalam kunjungan kerjanya, tak ada agenda Pak Menteri KKP ke Pasaman. Entah karena tidak tau, atau karena letak Pasaman yang terlalu jauh dari Kota Padang (bandara).

Tak termuat dalam agenda, bukan berarti tak ada peluang untuk dikunjungi. Nasib masyarakat Pasaman wajib hukumnya diperjuangkan sebagai bentuk komitmen dan tanggungjawab.

Bersama dengan kepala dinas yang membidangi, saya mencoba komunikasi dengan Wako Padang Panjang. Saya cari infomasi apa saja agenda Bapak Menteri KKP di Padang Panjang. Dari jadwal yang begitu padat ternyata ada momentum untuk bisa bertemu di Sate Mak Syukur. Momen inilah yang saya manfaatkan untuk bisa menjelaskan kepada Bapak Menteri KKP tentang potensi dan kebutuhan petani ikan di Pasaman.

Proses memang tak mengkhianati hasil. Rasa penat setelah menempuh perjalanan lebih kurang 106 KM (jarak tempuh dari Lubuk Sikaping-Padang Panjang-red) itu membuahkan hasil. Di Sate Mak Syukur kami bertemu. Di Sate Mak Syukur ini pulalah saya memberikan penjelasan dengan detail kepada Bapak Menteri KKP.

Setelah mendapatkan penjelasan, Menteri KKP langsung respect. Beliau bergerak cepat, agenda kegiatan dirubahnya. Bahkan pulang ke Jakartapun di re-schedule. Kunjungan kerja di Sumatera Barat diperpanjang sehari lagi dengan agenda tunggal berkunjung ke Kabupaten Pasaman.

Untuk mempermudah dan mempercepat waktu, mobilisasi Menteri KKP ke Pasaman menggunakan helikopter atau jalur udara.

Begitu sampai di hamparan kolam yang luas di Kecamatan Rao Selatan –rata-rata luas kolam masyarakat mencapai 1 ha, Menteri KKP tampak cukup kaget dan senang. Malah spontan Beliau berucap. “Ini yang kita cari, ini yang musti kita support dan ini pulalah yang harus dipilot projectkan secara nasional”, ujar Wahyu Sakti Trenggono, Menteri KKP, waktu itu.

Saking senangnya, saat itu juga beliau menghibahkan satu unit alat berat (escavator) untuk kelompok tani perikanan Pasaman, beserta bantuan bibit ikan mas dan aneka bantuan lainnya.

Tak cukup hanya disitu, dihadapan ratusan petani ikan Pasaman, Menteri KKP berjanji akan membangunkan pabrik Pakan Mandiri. Dan, dari sinilah langkah awal itu dimulai.

Sejumlah rapat darring berlanjut, baik dengan pihak Dirjen Perikanan Budidaya, maupun dengan petugas teknis KKP. Termasuk surat susul menyusul, guna memastikan program pembangunan pabrik pakan mandiri berlanjut di Pasaman.

Masih bentuk dukungan kesungguhan, Pemkab Pasaman pun langsung menghibahkan tanah untuk lokasi pabrik, dibarengi kegiatan pembangunan akses jalan ke lokasi berdirinya pabrik, yang telah dipersiapkan di lokasi Balai Benih Ikan (BBI) Kecamatan Rao Selatan.

Langkah awal itu sudah dimulai. Ground Breaking pembangunan pabrik pakan mandiri sudah dilakukan. Saat ini pembangunan telah dan sedang berjalan. Bapak Dirjend PB dan Direktur Pakan dan Obat-Obatan KKP pun sudah berkunjung dan meninjau progres pembangunan pabrik tersebut.

Ini adalah pabrik pakan mandiri pertama di Sumatera Barat dan kedua pula secara nasional yang dibangunkan oleh kementrian KKP.

Sungguh ini sebuah perjalanan dan pengalaman yang sangat berharga. Realita ini kembali membuat saya semakin yakin. Proses tak akan pernah mengkhinati hasil, kerja keras pastilah berbuah hasil manis.

Sentra Perikanan di Sumatera

Orang boleh saja mengatakan Kawasan Danau Maninjau sebagai pusat budi daya perikanan. Tak ada yang salah dengan itu. Namun kita musti ingat ada satu kawasan yang luas membentang dengan sumber daya air melimpah di belahan utara Pasaman, tak jauh dari tapal batas antara Sumatera Barat dan Sumut.

Kawasan inilah yang sebenarnya menjadi pemasok utama ikan air tawar di Sumatera Barat, bahkan memasok hingga ke Sumatera Utara, Riau, Kepri, Jambi dan Bengkulu. Budi daya perikanan air tawar ini sudah dimulai jauh sebelum adanya budi daya keramba apung di wilayah lainnya.

Dalam catatan Dinas Perikanan Kabupaten Pasaman, aktivitas budi daya ikan air tawar ini sudah dimulai semenjak tahun 1950-an dan bertahan secara turun temurun hingga saat ini.

Sampai 31 Desember 2021 tercatat 4.494 hektar lahan budi daya perikanan di kawasan Rao dan Pasaman umumnya. Lahan seluas 4.494 Ha tersebut digarap oleh 169 kelompok tani dengan melibatkan sebanyak 18.630 orang petani budi daya. Re rata setiap tahunnya produksi ikan sebanyak 58.918 ton. Jika harga ikan dipasaran Rp 20.000 per kilo maka dihasilan income dari penjualan ikan ini lebih kurang Rp 1,2 Triliun atau dengan pendapatan rata rata Rp 262 Juta per hektar / tahunnya.

Produksi yang besar sudah pasti membutuhkan biaya produksi yang besar pula, terutama untuk kebutuhan pakan. Sudah jadi rahasia umum di kalangan pelaku budi daya bahwa hampir 60 % sampai 70 % total cost tersedot untuk kebutuhan pakan. Artinya, setiap bulannya para pelaku budi daya membutuhkan pakan lebih kurang sebanyak 17.567 Kg/Ha/tahun. Jika harga pakan re rata Rp 12.500 / kg maka bisa kita bayangkan berapa banyak uang petani yang mengalir keluar Sumbar, ke daerah produsen pakan tersebut.

Pabrik Pakan Mandiri

Terlambat jauh lebih baik dari pada tidak berbuat sama sekali. Secara momentum harus kita akui pembangunan pabrik pakan Mandiri ini boleh dibilang sangat terlambat. Budi daya yang sudah berlangsung semenjak tahun 1950-an sampai sekarang. Sudah triliunan uang masyarakat Pasaman yang mengalir ke provinsi tetangga untuk mendatangkan pakan.

Kini dengan hadirnya pabrik pakan mandiri setidaknya bisa membantu petani ikan Pasaman. Pabrik pakan yang dibangun dan didanai sepenuhnya oleh kementrian KKP, sudah dimulai progresnya, dan tahun ini ditargetkan siap serta mulai beroperasional.

Secara teknis pabrik pakan ini memiliki kapasitas terpasang 1,2 ton /jam. Bila dalam sehari berproduksi 6 jam maka dihasilkan lebih kurang 7,2 ton per hari.

Pabrik pakan mandiri bisa mencapai produksi puncak lebih kurang 10 ton/hari. Artinya selama satu tahun bisa dihasilkan lebih kurang 3.650 ton pakan/tahunnya.

Cukupkah? tentu belum. Masih sangat jauh dari cukup. Produksi pabrik pakan ini baru mampu menutupi 10 persen dari kebutuhan petani. Masih ada 90 persen lagi kebutuhan yang musti dipenuhi.

Kendati begitu, setidaknya kehadiran pabrik pakan ini diyakini sedikit banyak akan membantu para petani. Mulai dari ketersediaan pakan hingga munculnya “trush’ pelaku industri pakan untuk mengikuti langkah yang sudah ditapakkan Kementrian KKP ini. ***

To Top