Opini

Ninik Mamak Kekuatan Lubuk Basung

Oleh : Depitriadi, S.IP
(Jurnalis dan Political Enthusiast, Berdomisili di Lubuk Basung)

Lubuk Basung itu unik. Ibukota Kabupaten Agam. Tapi tidak seramai ibukota kabupaten tetangga. Pun tak populer.

Tapi di sini ada sesuatu yang berbeda. Ada yang tak dimiliki ibukota lain. The power of panghulu.

Panghulu di sini bukan pejabat pemerintah. Bukan juga anggota DPRD. Panghulu itu ninik mamak. Kepala kaum. Pemegang kuasa adat.

Panghulu bukan sekadar simbol. Ia bukan hanya penghias acara baralek. Bukan pula sekadar orang tua yang dipanggil untuk acara seremonial.

Justru, panghulu punya kuasa yang lebih dalam. Kuasa terhadap pengelolaan tanah. Kuasa terhadap pengelolaan sumber daya alam. Kuasa terhadap anak kemenakan.

Itulah modal besar Lubuk Basung. Modal yang sering tidak dilihat oleh perencana pembangunan.

Pemerintah datang dengan program. Dengan proyek. Dengan dana. Tapi tanpa restu panghulu, banyak yang mandek.

Coba tanya perusahaan yang mau membuka lahan. Atau pemerintah yang ingin membangun jalan.

Semua harus lewat panghulu. Semua harus bicara dengan ninik mamak.

Bahkan, lebih jauh lagi, masa depan generasi muda pun bergantung pada panghulu.

Karena anak kemenakan itu bukan milik negara. Ia milik kaum. Dan kaum itu dipimpin oleh panghulu.

Kalau panghulu bilang “Sekolahlah.” Maka anak kemenakan berbondong-bondong kuliah. Kalau panghulu bilang “Pulanglah.” Maka banyak yang merantau, pulang kembali.

Itulah power yang tidak dimiliki camat. Tidak dimiliki bupati. Bahkan tidak dimiliki gubernur.

Karena panghulu bicara dengan legitimasi adat. Dengan wibawa. Dengan marwah.

Itulah mengapa saya percaya, Lubuk Basung hanya bisa maju kalau panghulu ikut bicara.

Kalau panghulu diam, Lubuk Basung hanya akan jadi ibukota administratif. Sepi. Tidak bergigi.

Pemerintah boleh punya visi. Investor boleh punya modal. Tapi kalau panghulu tidak memberi tanda, pembangunan jalan di tempat.

Bayangkan kalau panghulu kompak. Bayangkan kalau panghulu punya mimpi bersama yakni menjadikan Lubuk Basung benar-benar ibukota yang maju.

Bukankah anak kemenakan akan ikut? Bukankah pembangunan bisa diarahkan? Bukankah sumber daya bisa dikelola lebih bijak?

Saya tidak sedang bermimpi. Di Minangkabau, sejarah sudah membuktikan. Keputusan besar selalu lahir dari rapat ninik mamak.

Lubuk Basung sedang menunggu itu. Menunggu panghulu turun tangan. Menunggu kesepakatan adat yang berpihak pada kemajuan.

Tanpa itu, Lubuk Basung hanya akan jadi ibukota setengah hati. Hidup, tapi tidak berdenyut.

Maka, siapa yang memegang kunci Lubuk Basung? Ada bupati. Ada DPRD. Ada camat, ada walinagari dan ada panghulu.

Panghulu lah yang bisa membuat Lubuk Basung melompat. Panghulu lah yang bisa memberi arah.

Karena panghulu bukan sekadar pemimpin kaum. Ia adalah pemegang nasib Lubuk Basung.

Dan sejarah akan mencatat, Lubuk Basung maju, karena panghulu. Allahu wa’alam. Takbir.(*)

0Shares
Ninik Mamak Kekuatan Lubuk Basung
To Top