Opini
Mr. Assaat Datuak Mudo, Acting Presiden dari Ranah Minang (Bagian-8)
Oleh : Akmal Famajra, Banuhampu
Perjuangan Mr. Assaat Melalui Partai Masyumi
Ketika Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) berdiri pada 7 November 1945, Assaat termasuk tokoh yang melihat urgensi sebuah wadah politik untuk menghimpun kekuatan umat Islam Indonesia. Walaupun ia bukan pendiri formal, Assaat segera bergabung dan menjadi salah satu figur sipil yang memberi bobot intelektual dan moral bagi partai tersebut.(1)
Kedekatan pemikiran Assaat dengan Masyumi terletak pada gagasan mengenai negara hukum, demokrasi, dan kemerdekaan sipil. Sebagai seorang ahli hukum, Assaat berada dalam arus modernis Islam yang menempatkan nilai-nilai syariat sebagai moral publik, bukan sebagai sistem teokratis yang kaku. Inilah yang membuatnya dapat bekerjasama dengan tokoh-tokoh Masyumi seperti Mohammad Natsir, Prawoto Mangkusasmito, Sjafruddin Prawiranegara, dan Isa Anshary.(2)
Pada masa perang mempertahankan kemerdekaan (1945–1949), aktivisme Assaat dalam Masyumi makin menonjol. Ia menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), sebuah posisi politik strategis yang membuka jalan bagi Masyumi untuk mengartikulasikan gagasan politik Islam modern. Di lembaga ini Assaat sering menjadi jembatan komunikasi antara kelompok nasionalis-sekuler dan nasionalis-Islam, berkat sikapnya yang moderat dan rasional.(3)
Peran penting Assaat mencapai puncaknya ketika ia dipercaya sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia (Desember 1949–Agustus 1950) setelah Republik Indonesia Serikat (RIS) dibubarkan. Dalam kapasitas ini, ia dianggap sebagai representasi moral Masyumi di tingkat negara. Meski posisi itu bersifat sementara, kepresidenan Assaat memperlihatkan bahwa Masyumi memiliki kader berintegritas yang mampu memimpin negara pada saat transisi paling genting dalam sejarah Indonesia.(4)
Saat Pemilu 1955—pemilu demokratis pertama di Indonesia—Masyumi menempatkan Assaat sebagai salah satu tokoh utama dalam kampanye politik. Assaat menggunakan reputasinya sebagai mantan pejabat presiden dan tokoh pergerakan untuk memperkuat posisi Masyumi sebagai partai Islam modern terbesar. Dalam pidato-pidatonya, ia menekankan isu keadilan, efisiensi pemerintahan, dan pemerataan ekonomi, sejalan dengan agenda besar Masyumi.(5)
Kemenangan Masyumi sebagai salah satu partai terbesar pada pemilu itu memberikan ruang yang lebih besar bagi Assaat untuk memainkan peran politik nasional. Di dalam parlemen, ia dikenal sebagai figur yang kritis terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap menyimpang dari prinsip demokrasi dan konstitusionalitas. Sikap kritis tersebut seringkali membuatnya berseberangan dengan Presiden Soekarno, yang pada pertengahan 1950-an mulai mendorong konsep Demokrasi Terpimpin.(6)
Kekecewaan terhadap Jakarta dan Pergolakan Daerah
Gerakan Assaat di Masyumi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan politik daerah, khususnya di Sumatera. Sebagai putra Minangkabau, ia menyaksikan langsung ketimpangan pembangunan antara Jawa dan luar Jawa, serta dominasi elite pusat yang semakin kuat. Pada 1956 ia terlibat dalam Dewan Banteng, sebuah gerakan kritis yang menuntut otonomi lebih besar bagi daerah.^7
Pandangan Assaat sejalan dengan sikap Masyumi yang menginginkan desentralisasi dan penataan negara yang lebih demokratis. Namun pemerintah pusat melihat kelompok daerah itu sebagai ancaman terhadap negara kesatuan. Ketika ketegangan memuncak dan kemudian melahirkan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada 1958, banyak tokoh Masyumi, termasuk Assaat, dituduh terlibat.(8)
Assaat menyatakan bahwa keterlibatannya bukan pemberontakan terhadap negara, melainkan upaya memperjuangkan keadilan daerah dalam kerangka Republik. Namun pemerintah tetap menindak keras gerakan tersebut. Dampaknya, hubungan Assaat dengan Masyumi juga semakin rumit. Pemerintah membubarkan Masyumi pada tahun 1960 dan menangkap sejumlah tokoh partai, termasuk Assaat.(9)
Warisan Assaat bagi Gerakan Politik Islam
Meskipun perjalanan politiknya berakhir tragis dengan penahanan dan pembatasan gerak oleh rezim Soekarno, kontribusi Assaat bagi Masyumi dan politik Islam Indonesia tetap monumental. Ia merupakan simbol bahwa Islam dan modernitas dapat berjalan seiring: seorang sarjana hukum, organisator, dan pemimpin nasional yang menjadikan nilai-nilai moral Islam sebagai dasar pembangunan negara.
Ia juga mewariskan contoh bahwa politik Islam tidak harus identik dengan teokrasi, melainkan perjuangan etis untuk keadilan, demokrasi, dan kesejahteraan umat. Pemikirannya menjadi inspirasi bagi generasi sesudahnya, termasuk bagi tokoh-tokoh Partai Bulan Bintang (PBB) dan partai-partai Islam modern pasca-Reformasi.(10)
Catatan Kaki
- Deliar Noer, Partai Islam di Pentas Nasional, hlm. 112–114.
- Mohammad Natsir, Capita Selecta, berbagai edisi, pembahasan tentang kerja sama tokoh Masyumi.
- George McTurnan Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia, hlm. 285–290.
- Ellya Roza, Mr. Assaat: Pejuang yang Terlupakan, UNP Press, hlm. 95–103.
- Herbert Feith, The Indonesian Elections of 1955, hlm. 212–215.
- Deliar Noer, The Modernist Muslim Movement in Indonesia, hlm. 227–231.
- Audrey Kahin, Rebellion to Integration: West Sumatra and the Indonesian Polity, hlm. 145–151.
- Kahin, ibid., hlm. 165–170.
- R. E. Elson, Suharto: A Political Biography, catatan pembubaran Masyumi dan represi politik 1958–1960.
- Bahtiar Effendy, Islam and the State in Indonesia, pembahasan warisan pemikiran Masyumi.
Daftar Pustaka
- Effendy, Bahtiar. Islam and the State in Indonesia. Singapore: ISEAS, 2003.
- Elson, R. E. Suharto: A Political Biography. Cambridge: Cambridge University Press, 2001.
- Feith, Herbert. The Indonesian Elections of 1955. Ithaca: Cornell Modern Indonesia Project, 1957.
- Kahin, Audrey. Rebellion to Integration: West Sumatra and the Indonesian Polity. Amsterdam: University of Amsterdam Press, 1999.
- Kahin, George McTurnan. Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1952.
- Natsir, Mohammad. Capita Selecta. Jakarta: Bulan Bintang, berbagai edisi.
- Noer, Deliar. Partai Islam di Pentas Nasional. Jakarta: LP3ES, 1987.
- Noer, Deliar. The Modernist Muslim Movement in Indonesia, 1900–1942. Oxford: Oxford University Press, 1973.
- Roza, Ellya. Mr. Assaat: Pejuang yang Terlupakan. Padang: UNP Press, 2011.