Opini

Mr. Assaat Datuak Mudo, Acting Presiden dari Ranah Minang (Bagian-7)

Posted on

Oleh : Akmal Famajra, Banuhampu

Kegiatan Intelektual dan Budaya

Untuk menyebarkan ide dan pikirannya, JIB menerbitkan majalah an-Nur (Het Licht) yang berbahasa Belanda dan merupakan majalah cendekiawan Islam pertama di Indonesia, yang terbit sejak Maret 1925. Majalah ini bertahan sampai dibubarkannya JIB itu sendiri.

JIB juga membentuk Organisasi Pandu Indonesia (National Indonesische Padvinderij, disingkat Natipij), organisasi pandu pertama yang memakai nama Indonesia, suatu istilah yang belum lazim dipakai ketika itu. Tokoh keluaran Natipij ini antara lain Kasman Singodimedjo dan Mohamad Roem.

Dalam Kongres Pemuda II, Juni 1928, unsur JIB duduk sebagai salah satu anggota panitia kongres, diwakili oleh Djohan Muhammad Tjaja dengan jabatan Pembantu I. Dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Djohan Muhammad Tjaja pula yang menandatangani naskah Sumpah Pemuda atas nama JIB.

Riwayat hidupnya menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang sering bergaul dengan organisasi pergerakan, seperti pada karier awalnya di Jong Sumatranen Bond dan Perhimpunan Pemuda Indonesia..

Dalam konteks itu, JIB merupakan organisasi alternatif yang sangat mungkin juga dijelajahi Assaat sebagai ruang belajar organisasi, bergaul dengan tokoh muslim modernis, dan memperkuat bangunan wacana mengenai persatuan dan identitas keislaman. Melalui hubungan maupun pertemuan dengan tokoh-tokoh JIB seperti Kasman Singodimedjo, Mohammad Natsir, dan Roem, Assaat mendapatkan inspirasi yang menjadi fondasi kiprah politiknya di kemudian hari Republika Onlinekoranpeneleh.id.

Mr. Assaat, seorang mahasiswa hukum dari Minangkabau yang menempuh pendidikan di Rechtshogeschool Jakarta dan Leiden University, Belanda adalah bagian dari generasi yang tumbuh dalam arus pergerakan tersebut. Sebagai anak Minang, Assaat dibesarkan dalam tradisi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, yang sejak kecil menanamkan padanya nilai agama, etika, dan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat. Nilai-nilai itu menemukan wadah aktualisasinya ketika ia bergabung dengan JIB.

Ketika menjadi mahasiswa RHS, ia memulai berkecimpung dalam gerakan kebangsaan di bidang pemuda dan politik. Salah satunya menjadi anggota Jong Sumatranen Bond. Karier politiknya makin menanjak dan berhasil menjadi Pengurus Besar Perhimpunan Pemuda Indonesia (PPI). Ketika PPI mempersatukan diri dalam Indonesia Muda, ia terpilih menjadi Bendahara Komisaris Besar Indonesia Muda.

Jong Islamieten Bond berdiri sebagai organisasi pemuda yang berlandaskan Islam, tetapi bersifat modernis dan progresif. Tidak seperti organisasi keagamaan tradisional yang lebih menekankan aspek ibadah ritual, JIB mendorong anggotanya untuk aktif dalam diskusi intelektual, pendidikan, dan pergerakan sosial. Para tokohnya antara lain adalah Mohammad Roem, Kasman Singodimedjo, dan Mohammad Natsir—nama-nama yang kelak menjadi figur penting dalam politik Indonesia.

Assaat menemukan dirinya sejalan dengan semangat JIB. Baginya, organisasi ini adalah wadah untuk mengasah intelektualitas, melatih kepemimpinan, dan memperluas jaringan dengan sesama pemuda Islam dari berbagai daerah di Nusantara. Di sini pula ia mulai dikenal sebagai pemikir yang kritis, pandai berargumentasi, namun tetap rendah hati.

Perjuangan dan Aktivitas Assaat di JIB

Keterlibatan Assaat di JIB bukan sekadar sebagai anggota pasif. Ia aktif menghadiri pertemuan-pertemuan, diskusi, hingga kongres-kongres JIB yang digelar di berbagai kota. Dalam forum-forum tersebut, Assaat kerap menyuarakan pentingnya pendidikan bagi kaum muda muslim, karena ia percaya bahwa hanya dengan pendidikan tinggi umat Islam dapat keluar dari keterbelakangan dan menandingi dominasi intelektual kaum penjajah.

Selain itu, Assaat juga banyak berbicara mengenai persatuan nasional. Meski JIB berlandaskan Islam, ia tidak pernah memandang perbedaan agama atau etnis sebagai penghalang perjuangan kemerdekaan. Baginya, Islam harus menjadi sumber nilai moral dan kekuatan etika, bukan sekadar identitas eksklusif. Sikap inklusif inilah yang membuat Assaat mudah diterima di kalangan pergerakan yang lebih luas, termasuk oleh tokoh-tokoh non-Islam dalam organisasi kepemudaan lain.

Perjuangan Assaat di JIB memberi pengaruh besar terhadap jalan hidupnya. Dari organisasi ini, ia belajar disiplin berorganisasi, strategi berdebat, serta cara menyusun program perjuangan. Ia juga menjalin persahabatan dengan tokoh-tokoh pemuda yang kelak menjadi pemimpin bangsa. Misalnya, kedekatannya dengan Mohammad Natsir di JIB menjadi awal dari keterlibatan Assaat dalam Partai Masyumi di kemudian hari.

Lebih jauh, pengalaman di JIB membentuk kesadaran politik Assaat. Ia semakin yakin bahwa kemerdekaan tidak mungkin dicapai hanya dengan perjuangan individu, melainkan harus melalui kolektivitas—baik dalam organisasi, partai, maupun lembaga perwakilan rakyat.

Kesadaran inilah yang kelak membawanya ke panggung politik nasional, mulai dari kiprahnya di Partai Masyumi, KNIP, hingga menduduki jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia Sementara.

Bagi Assaat, keterlibatannya dalam Jong Islamieten Bond bukan hanya bagian dari perjalanan masa mudanya, tetapi fondasi bagi seluruh kiprah politik dan perjuangan hidupnya. JIB mengajarkannya untuk menggabungkan nilai Islam, nasionalisme, dan intelektualitas modern dalam satu tarikan nafas perjuangan. Dari sinilah lahir sosok Assaat yang konsisten membela kepentingan rakyat, menolak feodalisme, dan selalu berpihak pada kejujuran serta kesederhanaan.

Dengan demikian, peran Assaat di JIB bukan sekadar episode singkat dalam biografinya, melainkan pijakan ideologis dan intelektual yang membentuk corak perjuangannya di kemudian hari. Tanpa memahami keterlibatan Assaat di JIB, sulit memahami mengapa ia begitu teguh memperjuangkan pendidikan, keadilan sosial, dan demokrasi sepanjang hidupnya.(Bersambung)

Foto : Mr. Assaat (kiri) Bersama Muhammad Hatta (Tengah) dan Soeharto paling kanan (Foto: Dokumen Keluarga, M.Iqbal)

Populer

Exit mobile version