Oleh : Akmal Famajra, Banuhampu
Organisasi Tempat Perjuangan Mr. Assaat
Keterlibatan Mr. Assaat dalam organisasi dimulai sejak ia menempuh pendidikan menengah dan tinggi. Sejak masih sekolah di Yogyakarta, ia sudah terbiasa dengan iklim diskusi pelajar dan mahasiswa. Yogyakarta pada awal abad ke-20 adalah pusat pergerakan intelektual dan nasionalisme. Kehidupan pelajar di kota itu tidak hanya berisi kegiatan belajar, tetapi juga diwarnai oleh perdebatan, perkumpulan pelajar, dan organisasi sosial yang menyuarakan kebangkitan bangsa.
Assaat yang sejak kecil memiliki jiwa kepemimpinan dengan cepat menyesuaikan diri dengan tradisi organisasi itu. Walaupun keterlibatan awalnya belum bersifat politik, pengalaman ini memberinya dasar yang kuat untuk terjun lebih jauh dalam dunia organisasi pergerakan.
Assat muda, berbagai literatur menyebutkan bahwa putra Minangkabau ini sangat senang berorganisasi dan malaksanakan diskusi. Organisasi terpenting yang diikuti Assaat pada masa mudanya adalah Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda. Saat melanjutkan pendidikan hukum di Leiden, Assaat bergaul dengan mahasiswa Indonesia lain yang tergabung dalam PI. Organisasi ini merupakan wadah mahasiswa Indonesia di Belanda yang mula-mula bersifat sosial dan kultural, tetapi kemudian berkembang menjadi organisasi politik yang lantang menyuarakan kemerdekaan Indonesia.
Di PI, Assaat berinteraksi dengan tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Abdulmadjid Djojoadiningrat, dan Nazir Pamuncak. Diskusi-diskusi intens di kalangan PI membuat Assaat semakin matang dalam pandangan politiknya. PI tidak hanya menyelenggarakan pertemuan internal, tetapi juga menerbitkan majalah dan pernyataan politik yang berisi kritik tajam terhadap kolonialisme Belanda.
Keterlibatan Assaat di PI memperluas wawasannya. Ia belajar bahwa perjuangan kemerdekaan tidak bisa dilakukan setengah-setengah, melainkan harus menyeluruh. PI juga mengajarkan pentingnya strategi diplomasi internasional. Melalui organisasi inilah Assaat ikut merasakan atmosfer perjuangan mahasiswa Indonesia di luar negeri, yang berperan penting dalam membangun opini dunia tentang Indonesia.
Setelah kembali ke Indonesia dengan gelar Meester in de Rechten (Mr.), Assaat mulai aktif dalam dunia pergerakan di tanah air. Ia dikenal dekat dengan kalangan Partai Indonesia (Partindo) dan berbagai kelompok nasionalis.
Keterlibatannya dalam partai politik memperlihatkan pergeseran peran Assaat, dari seorang intelektual menjadi seorang aktivis politik. Ia terlibat dalam rapat-rapat, diskusi, dan forum politik yang membicarakan strategi perjuangan melawan Belanda. Dalam konteks ini, Assaat dikenal sebagai sosok yang tenang, berpikir rasional, dan mampu melihat permasalahan dari sudut pandang hukum.
Mr. Assaat Terlibat dalam Organisasi Jong Islamieten Bond (JIB)
Keterlibatan Mr. Assaat dalam organisasi Jong Islamieten Bond (JIB) merupakan salah satu fase penting dalam proses pembentukan intelektualitas, identitas politik, dan orientasi kebangsaannya. JIB, sebuah organisasi pemuda Islam modernis yang berdiri pada tahun 1 Januari 1925 di Jakarta, memainkan peran besar dalam melahirkan generasi pemimpin Muslim terdidik pada masa pergerakan nasional. Di antara para intelektual muda yang bergiat dalam organisasi ini, kehadiran Assaat menjadi bagian penting dari dinamika pemikiran umat Islam terpelajar pada era kolonial.
JIB muncul dalam konteks meningkatnya kesadaran politik pemuda Indonesia pada awal abad ke-20. Organisasi ini berbeda dari organisasi pemuda lainnya karena tidak mengedepankan identitas kedaerahan—seperti Jong Java atau Jong Sumatranen Bond—melainkan identitas keagamaan dengan semangat kebangsaan yang inklusif. Melalui majalah Het Licht, JIB aktif menyebarkan gagasan tentang pembaruan pemikiran Islam, pendidikan modern, dan pentingnya peran pemuda Muslim dalam pergerakan nasional.
Dalam suasana inilah Mr. Assaat, yang saat itu sedang menempuh pendidikan hukum dan aktif berorganisasi, masuk dan berperan dalam kegiatan JIB. Ia termasuk generasi intelektual Minangkabau yang secara alami dekat dengan pemikiran Islam modernis akibat tradisi pendidikan surau serta dinamika pembaruan yang kuat di daerah asalnya.
Assaat bukan hanya anggota biasa. Berbagai sumber mencatat bahwa keaktifannya terletak pada forum-forum diskusi, kegiatan pendidikan, serta penyusunan gagasan-gagasan pembaruan dalam tubuh JIB. Ia sering menjadi pembicara dalam kegiatan pengajian modern, pelatihan kader, dan diskusi kebangsaan yang diadakan cabang JIB di Batavia.
Dalam ruang-ruang diskusi itu, Assaat membawa pendekatan intelektual hukum yang ia pelajari dari pendidikan modern. Pemikiran Assaat tentang Islam tidak berhenti pada aspek teologis, tetapi juga mencakup isu-isu sosial seperti keadilan, pendidikan rakyat, dan peran hukum dalam membentuk masyarakat merdeka. Pandangannya yang argumentatif dan rasional membuatnya cepat dikenal sebagai pemuda berpikiran maju di kalangan anggota JIB.
Kehadiran Assaat di JIB membuatnya bersentuhan dengan tokoh-tokoh muda Islam lainnya, seperti Mohammad Natsir, Isa Anshary, dan M. Rasyidi. Jaringan intelektual yang terbentuk dalam organisasi ini kelak sangat berpengaruh dalam perkembangan gerakan modernis Indonesia pada masa kemerdekaan. Banyak di antara tokoh-tokoh itu kemudian menjadi pemimpin politik, cendekiawan kenegaraan, atau tokoh penting dalam gerakan pembaruan Islam.
Hubungan Assaat dengan Natsir, misalnya, terjalin erat melalui interaksi di JIB sebelum keduanya terlibat dalam dinamika politik nasional pada masa revolusi. Jejaring intelektual yang terbentuk di JIB menjadi modal penting bagi karier politik Assaat sebagai pemimpin nasional di kemudian hari.
Gagasan Assaat tentang Islam dan Kebangsaan
Selama aktif di JIB, Assaat menyuarakan pemikiran yang moderat dan terbuka. Ia menekankan bahwa Islam dan nasionalisme tidaklah bertentangan, melainkan dapat saling memperkuat. Sikap ini sejalan dengan garis besar pemikiran JIB yang memandang Islam sebagai sumber etika dan moralitas bagi gerakan kebangsaan modern, bukan sebagai alat untuk memecah belah bangsa.
Pemikiran Assaat tercermin dalam beberapa tulisan pendek dan ceramahnya mengenai pentingnya pendidikan hukum bagi umat Islam, perlunya pembentukan elite Muslim terpelajar, serta keharusan bagi pemuda Muslim untuk menjadi bagian dari perjuangan kebangsaan Indonesia.
Keterlibatan Assaat dalam JIB memberi dampak besar pada cara pandangnya terhadap politik dan negara. Di JIB ia belajar organisasi, retorika, pemikiran Islam modern, dan pentingnya disiplin intelektual.
Semangat moralitas Islam, rasionalitas hukum, dan keberpihakan pada rakyat yang ia serap dari JIB menjadi fondasi sikap politiknya dalam berbagai keputusan penting pada masa revolusi dan pasca-kemerdekaan.
Perjalanan Assaat dalam Jong Islamieten Bond adalah fase yang memperkuat identitas intelektual dan orientasi politiknya. Di JIB ia bertemu dengan sesama pemuda terpelajar, memperdalam pemahaman tentang Islam modern, dan mengasah kemampuan berpikir kritis. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pengalaman Assaat di JIB menjadi salah satu fondasi awal yang membentuk karakter kepemimpinannya sebagai tokoh nasional Indonesia.
JIB atau disebut juga Perhimpunan Pemuda Islam, didirikan oleh Sjamsuridjal dan Wiwoho Purbohadidjojo atas prakarsa sejumlah pemuda Islam yang ingin menyeimbangkan orientasi keagamaan dan intelektual pemuda Hindia Belanda. Organisasi ini muncul sebagai respons terhadap situasi yang tidak merepresentasikan pendidikan agama dalam organisasi seperti Jong Java.
JIB tidak bersifat politik formal—salah satu pendirinya menyatakan bahwa meskipun mengangkat tema politik, mereka tidak akan terlibat langsung dalam politik. Organisasi ini fokus pada penguatan identitas Islam, pendidikan agama, serta toleransi dan persatuan antar-umat. (Bersambung)

Gambar Mr.Assaat (kanan) dan Rahmi Hatta serta Muhammad Hatta (Foto: Dokumen Keluarga, M. Iqbal)