Kaba Terkini
Miris, Malalak Masih Terabaikan“Jembatan Maut” Jadi Santapan Harian Anak Sekolah
Malalak, kaba12 — Wilayah Kecamatan Malalak masih kerap luput dari perhatian pemerintah. Hal itu dibuktikan parahnya kondisi jembatan di Kampuang Sikumbang, Nagari Malalak Selatan, Kecamatan Malalak, yang mencari urat nadi transportasi warga dalam beraktivitas.
Yang mengerikan, jembatan gantung yang kondisinya rusak parah itu, terkesan “mengincar maut” bagi anak-anak sekolah yang selalu menggunakan untuk pergi dan pulang sekolah, termasuk warga untuk sarana transportasi utama bagi warga setempat.
Kondisi jembatan yang sudah lapuk,badan jembatan banyak yang patah dimakan usia,tali wings penahan badan jembatan pun terlihat mulai keropos, bahkan mayoritas badan jembatan sudah lapuk dan bolong, sehingga sangat rawan jika dilewati.
Padahal, jembatan itu merupakan satu-satunya sarana yang bisa digunakan warga Kampuang Sikumbang, Nagari Malalak Selatan untuk mengakses daerah lain. Kalau pun ada jalur jalan alternative, justru harus memutar lebih dari 4 jam dengan jarak tempuh 4-5 km, sementara jika menggunakan jembatan, bisa ditempuh dengan jarak 1 km.
Kondisi memprihatinkan itu dibenarkan Jafrizal, pengurus Karang Taruna Malalak yang mengaku prihatin dengan kondisi sarana transportasi di wilayah tersebut. sebelumnya Jafrizal, sudah melaporkan kasus itu pada pihak terkait di kecamatan Malalak, sementara dari pemerintah nagari,untuk penanganan tidak terdukung oleh dana nagari, “ perlu perhatian khusus Pemkab.Agam dan Pemprov.Sumbar, “ungkapnya serius.
Kepada kaba12, Jafrizal menjelaskan kondisi jembatan gantung yang semakin lapuk itu, sangat menguatirkan, saat ini justru tidak layak untuk digunakan apalagi untuk anak-anak berjalan kaki menuju sekolah, apalagi jika cuaca hujan.
Dijelaskan Jafrizal, jembatan Kampuang Sikumbang yang memprihatinkan itu menjadi satu-satunya sarana yang digunakan masyarakat setempat untuk mengakses wilayah lain. Yang memprihatinkan untuk anak-anak sekolah, kondisi jembatan yang mengerikan, terpaksa ditempuh.
” Namun jika cuaca buruk (hujan), anak-anak terpaksa mengambil jalan memutar, karena jembatan sudah terendam banjir, dan licin dengan jarak tempuh 4.-5 km, dengan waktu 4 jam lebih, kasihan pak, anak-anak kadang sampai di rumah sudah menjelang magrib, “ungkpanya.
Disebutkan,masyarakat setempat juga kerpa menggelar gotongroyong untuk membenahi ruas jalan termasuk jembatan tersebut, namun untuk perbaikan tidak terdukung dengan swadaya, karena rehab jembatan itu membutuhkan dukungan dana yang sangat besar.
Disisi lain, Jafrizal menyebutkan warga Kampuang Sikumbang itu sangat mengharapkan bantuan dan perhatian Pemkab.Agam, apalagi warga yang bermukim di wilayah itu cukup banyak, tercatat lebih dari 80 kepala keluarga, termasuk anak-anak yang bersekolah, terpaksa berjalan kaki menempuh medan berat dan berbahaya.
Sementara konfirmasi kaba12 terkait kondisi memprihatinkan itu dengan camat Malalak Rahmat Fajri hingga berita ini ditayangkan masih belum direspon, untuk mempertanyakan upaya penanganan yang dilakukan termasuk usulan pihaknya agak dilakukan perbaikan jembatan yang kondisinya memprihatinkan itu.
-HARMEN-