Kaba Tausyiah

Menjaga Lisan di Bulan Suci Ramadhan, Dari Ghibah ke Dzikir

Lubukbasung, kaba12 — Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga menahan kata – kata saat berbicara. Sebab sering kali yang paling sulit dikendalikan bukan perut, melainkan.

Berapa banyak pahala puasa yang berkurang karena ucapan yang menyakiti? Ghibah, fitnah, sindiran tajam, hingga komentar yang merendahkan, semuanya bisa merusak nilai ibadah yang sedang kita bangun. Padahal, menjaga lisan adalah tanda kedewasaan iman.

Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik diam; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.
” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadist ini menegaskan, jika tidak mampu berkata baik, maka memilih diam adalah pilihan terbaik. Dibulan Ramadhan, setiap kata seharusnya bernilai pahala, bukan justru menjadi sebab dosa.

Di era media sosial, menjaga lisan juga berarti menjaga tulisan. Status, komentar, dan pesan yang kita kirim adalah cerminan hati. Jangan sampai Ramadhan hanya ramai di masjid, tetapi dunia maya tetap penuh celaan.

Mari jadikan Ramadhan 1447 H sebagai latihan memperbanyak dzikir, memperindah ucapan, dan menebar kaliman yang menyenyukan. Karena lisan yang terjaga adalah tanda hati yang sedang dibersihkan.

Sebab pada akhirnya, puasa yang baik bukan hanya yang menahan lapar, tetapi juga menjaga kata.

(TAUFIQ)

0Shares
Menjaga Lisan di Bulan Suci Ramadhan, Dari Ghibah ke Dzikir
To Top