Kaba Perempuan

Menikah, Susahnya Menjadi Perempuan Zaman Sekarang

Saat dibilang “Karena perempuan, disegerakan saja. Jangan lama-lama”.

Tidak sama persis tapi diisyaratkan agar tidak ketuaan. Iya, ini tentang desakan menikah. Stigma tentang perempuan menikah pada usia “tidak lagi muda” dan kepemilikan anak.

Rasanya, kok berat sekali menjadi perempuan. Serba salah, serba terbatasi
Benar adanya bahwa kita tidak boleh mematutkan diri pada omongan orang. Tapi saya kira kita harus saling mengedukasi. Kita sesama perempuan harus saling memberi dukungan dan sebagai sesama manusia harus saling mengasihi.

Lisan mudah dikatakan karenanya daripada mencipta dosa mending berlomba bagaimana menjadikannya suatu pahala.

Perempuan yang tak kunjung menikah itu ternyata definisi bahagia masa kininya adalah saat bertemu banyak orang dan mengisi banyak ruang.

Perempuan yang tak kunjung menikah itu ternyata sedang memenuhi diri dengan banyak ilmu dan persiapan mental agar kelak menjadi sosok yang lebih bertanggung jawab saat berkeluarga.

Perempuan yang tak kunjung menikah itu ternyata masih ingin mendedikasikan dirinya penuh pada keluarga dan negara.

Perempuan yang tak kunjung menikah itu ternyata masih dalam pencarian jati dirinya agar kelak lebih damai dan siap saat bersama dengan satu keluarga lainnya.

Perempuan yang tak kunjung menikah itu rupanya diizinkan lebih banyak oleh Tuhan pergi ke sana-sini memberi bantuan kemanusiaan bagi saudara di belahan bumi lain.

Jadi, daripada memburu, lebih baik bertanya dulu. “Apakah ini bahagiamu sekarang? Aku mendukungmu. Semoga diberkahi Tuhan. Bila saatnya tiba, saya yakin kamu bertemu dengan orang yang luhur sebagaimana kamu. Tuhan menyayangimu.”

Bukannya melihat pernikahan terlalu rumit atau menakutkan. Tapi, rasanya untuk menjalankan peran dengan baik, ada banyak tanggung jawab di sana.

Maka, penting bagi kita untuk selesai dengan diri sendiri. Agar tidak terlalu menyakiti banyak hati.
Bukan hanya kesiapan materi, namun terutama mental

Lalu, tentang buah hati. Memang benar perempuan ada “batas biologis”. Namun itu bukanlah batasan mutlak. Karena turunnya rezeki sebagian dari ikhtiar dan sebagian besarnya lagi dari kehendak Tuhan. Kenapa harus meragukan Pencipta kita sendiri?.

Dulu ditanyai menikah. Sudah menikah ditanyai anak. Yang dikejar pasti perempuannya. Jika tidak kunjung tiba lantas yang dipandang sebelah mata perempuan Apakah tanggung jawab sepenuhnya di perempuan saja? Manusia mana yang bisa mewujudkan sesuatu tanpa izin dari Tuhannya?

(sumber: hipwee.com)

0Shares
To Top