Lubukbasung, kaba12 — Ramadhan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an, dimana bulan inilah kitab suci diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Maka tidak heran jika suasana Ramadhan terasa lebih bercahaya ketika lantunan ayat – ayat suci terdengar, baik di masjid maupun di rumah.
Namun pertanyaannya, sudahkah rumah kita ikut hidup dengan Al-Qur’an?
Sering kali tilawah hanya terdengar di masjid atau dari gawai, sementara di rumah lebih banyak suara televisi dan percakapan yang kurang bermanfaat. Padahal, Ramadhan adalah momentum terbaik menjadikan rumah sebagai tempat yang dipenuhi keberkahan melalui bacaan Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman:
“…شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ…”
Artinya; “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan–penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)-(QS.Al-Baqarah: 185 )
Ayat ini menegaskan kedekatan Ramadhan dengan Al-Qur’an. Membacanya bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan ruhani, tilawah yang rutin akan melembutkan hati, menenangkan pikiran, dan menghadirkan suasana damai dalam keluarga.
Menghidupkan rumah dengan Al-Qur’an tidak harus menunggu waktu panjang. Bisa dimulai dengan datu atau dua halaman setiap hari, membaca bersama keluarga selepas magrib, atau menyimak dan saling memperbaiki bacaan. Yang terpenting adalah konsistensi.
Ramadhan 1447 Hijriah hendaknya menjadi awal kebiasaan baru. Jika selama ini Al-Qur’an lebih sering tersimpan rapi di rak, kini saatnya ia lebih sering dibuka dan dibaca. Sebab rumah yang dihiasi tilawah bukan hanya terasa lebih tenang, tetapi juga lebih diberkahi.
Karena sejatinya, cahaya Ramadhan bukan hanya terlihat dari lampu – lampu hias, tetapi dari ayat – ayat Al-Qur’an yang mengalun di dalam rumah.
(TAUFIQ/*)