Kaba Tausyiah
Mempererat Silaturahmi di Tengah Kesibukan Ramadhan
Lubukbasung, kaba12 — Ramadhan sering terasa sibuk. Aktivitas harian tetap berjalan, ditambah dengan sahur, berbuka, tarawih, dan berbagai kegiatan ibadah lainnya.
Namun di tengah kesibukan itu, ada satu amalan yang jangan sampai terlupakan: menjaga dan mempererat silaturahmi.
Islam sangat menekankan pentingnya hubungan baik antar sesama, silaturahmi bukan hanya tentang bertemu secara fisik, tetapi juga tentang menjaga komunikasi, saling mendoakan, dan memperhatikan keadaan saudara, tetangga, serta sahabat.
Allah SWT berfirman:
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan peliharalah hubungan kekeluargaan (silaturahmi).”
(QS. An-Nisa: 1)
Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga hubungan kekeluargaan adalah bagian dari ketakwaan kepada Allah. Artinya, ibadah tidak hanya vertikal kepada Allah, tetapi juga horizontal kepada sesama manusia.
Rasulullah SAW juga mengingatkan betapa besar keutamaan silaturahmi. Beliau bersabda:
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengandung pesan yang sangat dalam. Silaturahmi bukan hanya membawa kebaikan dalam hubungan sosial, tetapi juga menghadirkan keberkahan dalam kehidupan—baik dalam rezeki maupun umur yang dipenuhi kebaikan.
Di bulan Ramadhan, silaturahmi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Mengunjungi keluarga saat berbuka puasa, mengirim makanan kepada tetangga, menyapa kerabat yang lama tidak berjumpa, atau sekadar menanyakan kabar melalui pesan singkat. Hal-hal sederhana ini sering kali membawa kebahagiaan besar.
Ramadhan 1447 H hendaknya menjadi momentum memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang.
Jika ada kesalahpahaman, inilah waktu yang tepat untuk saling memaafkan. Jika ada jarak yang tercipta karena kesibukan, inilah saatnya kembali mendekat.
Seorang penceramah sering mengingatkan bahwa silaturahmi bukan hanya memperpanjang umur secara angka, tetapi memperpanjang nilai kehidupan—membuat hidup lebih bermakna, penuh keberkahan, dan dihiasi doa dari banyak orang.
Karena pada akhirnya, manusia tidak hidup sendiri. Kebaikan yang kita tebarkan kepada sesama sering kali kembali kepada kita dalam bentuk yang tidak pernah kita sangka. Dan Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memulainya.
(TAUFIQ)