Kaba Bukittinggi

Kualitas Udara di Sumbar Terus Menurun

Bukittinggi, KABA12.com — Dari hasil pengukuran yang dilakukan Stasiun Pemantau Atmosfer Global atau Global Atmosphere Whatch (GAW) Bukit Kototabang Kecamatan Palupuah Kabupaten Agam, pada Sabtu 21 September 2019 menunjukan bahwa kualitas udara mulai memburuk atau terpantau dalam kondisi di atas baku mutu.

Kepala GAW Bukit Kototabang, Wan Dayantolis melalui kutipan dalam grup What’sApp Info KU BMKG – GAW, mengatakan, pada pukul 10.00 WIB, kosentrasi PM10 yang diukur di Bukit Koto Tabang menunjukan angka 260 mikrogram per-meter kubik, dengan kategori sangat tidak sehat.

“Nilai ini sudah berada jauh di atas baku mutu PM10, yaitu 150 mikrogram per-meter kubik dan untuk diketahui, kualitas udara dikatakan baik jika PM10 mencapai angka 0-50 mikrogram per-meter kubik dan berkategori sedang jika PM10 berada di angka 51-150 mikrogram per-meter kubik,” jelasnya.

Kualitas udara sudah itu ujar Wan Dayantolis, sudah berkategori tidak sehat jika menyentuh angka 151-250, dan sangat tidak sehat pada angka 250-350 mikrogram per-meter kubik. Untuk angka 351 mikrogram permeter kubik, kualitas udara dinyatakan berbahaya.

“Angka 260 mikrogram permeter kubik pada hari ini, merupakan kualitas udara terburuk di Sumatera Barat sepanjang 2019, yang diukur GAW Bukit Kototabang,” terangnya.

Menurut Wan Dayantolis, sebelumnya angka tertinggi selama 2019 itu terjadi pada Jumat 11 September 2019 yang lalu, yang mana PM10 mencapai angka 151 mikrogram per-kubik.

“Meski demikian, apabila jika angka PM10 itu bisa berubah tiap jamnya dan kualitas udara di tiap daerah bisa saja tidak sama,” ungkapnya.

Wan Dayantolis menambahkan, berdasarkan model satelit, kondisi paling pekat terpantau pada wilayah perbukitan ke arah timur Sumbar seperti Padang Panjang, Bukittinggi hingga Sawahlunto dan Payakumbuh.

“Berdasarkan sebaran asap dari Satelit Himawari menunjukan asap terpantau merata di seluruh Sumbar. Adanya hujan pada beberapa tempat belum efektif menurunkan tingkat polutan karena sumbernya berasal dari luar Sumbar,” imbuhnya.

Kondisi kualitas udara yang buruk ini sambung Wan Dayantolis, dapat dijadikan pertimbangan langkah antisipasi kepada pihak-pihak terkait. Antisipasi cepat dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan jika terpaksa untuk menggunakan masker saat di luar ruangan.

“Jika terjadi hujan sebaiknya menghindari kontak langsung karena tingkat keasaman air hujan cenderung akan tinggi karena kandungan polutan yang tinggi,” tegasnya.

(Ophik)

To Top