Kaba Terkini

Kopi Pagi 140322, “ Membangunkan Peduli “

Catatan : Harmen

Sumatera Barat, dengan segala kekayaan adat dan budaya, dengan segala potensi yang dimiliki masih terus dihadapkan pada beragam persoalan.

Tak hanya musibah, terkini dampak guncangan gempa dengan epicenter di Talamau, Pasaman Barat, Jumat, (25/2) lalu, yang hingga kini masih sangat terasa dampaknya. Guncangan gempa, hingga hari ini, masih mengayun sendi-sendi kemanusiaan, ketakutan akan azab bahkan kengerian yang bisa saja terjadi dalam hitungan detik.

Memang, Sumatera Barat dikenal sebagai “supermarket” potensi bencana di Indonesia. Beragam ancaman ancaman bencana, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, angin putting beliung dan lainnya, masih belum sepenuhnya disandingkan dengan kesiapan masyarakat, karena masih lemahnyo mitigasi yang dilakukan pemerintah.

Semua akan tersentak panic, jika bencana terjadi. Memang itu fitrahnya. Tidak ada, siapapun takkan pernah siap menghadapi musibah. Siapapun tak sanggup menanggung beban yang tiba-tiba datang, dalam kategori berat, apalagi bencana besar.

Namun saja, ditengah bayangan ancaman yang sangat kompleks, bahkan dikenal sebagai daerah dengan potensi supermarket bencana, masyarakat Sumatera Barat sudah harus diperkaya dengan program mitigasi, program antisipasi dan pengurangan risiko bencana, yang akan menjadi kekuatan untuk mengantisipasi dampak lebih buruk, terutama jatuhnya korban.

Program mitigasi, mestinya sudah menjadi akar aktivitas harian masyarakat di setiap sudut perkampungan, apalagi di kawasan yang sudah ditetapkan sebagai kawasan rawan dan banyak potensi bencana, sebut saja kabupaten Agam, Pasaman, Pasaman Barat, Mentawai, Padang, Padang Pariaman, Pariaman dan daerah lain, yang beberapa tahun terakhir, selalu tersentak dengan ragam bencana yang memicu kerugian besar.

Dan hal lain yang lebih mendasar jutru membangunkan peduli. Ini kata kunci, selain mitigasi. Karena musibah, bencana adalah kuasa Allah SWT, yang sama sekali tidak akan bisa dideteksi kapan datang, bentuk dan sebaran ancamannya.

Membangunkan peduli, tidak hanya kepedulian akan dampak yang diakibatkan bencana itu sendiri, tapi justru kepedulian sejak dini yang harus diawali dengan kesadaran bahwa di daerah lain, adalah kawasan rawan dampak kebencanaan dengan ragam potensi ancaman.

Dampak gempa di Pasaman-Pasaman Barat, membangunkan kembali keprihatinan dan kepedulian antar sesama. Dari berbagai kelompok masyarakat, organisasi sosial, kelompok pengajian, organsiasi kepemudaan, serta berbagai elemen lain, bahu-membahu membantu warga terdampak di Pasaman-Pasaman Barat. Luar biasanya, sesaat musibah terjadi, reaksi kepedulian masyarakat sudah terlihat untuk warga yang terdampak.

Hanya saja, membangunkan peduli, mestinya bisa bisa menjadi antisipasi, menjadi kajian dini, bersiasat dalam mengantisipasi untuk menekan dampak yang lebih mengerikan mengancam warga  yang berada di tepian musibah. Tentu dengan program taktis, gerak cepat bahkan pola mitigasi dari pemerintah yang lebih terarah, konsisten dan tepat sasaran. Karena peduli, mestinya sejak dini. Semoga.-(*)

To Top