Agam

Kopi Agam Buat Nusantara Terpana , Indracatri: Kopi Agam Terbaik

Pariwara, kaba12.com — Potensi kopi kabupaten Agam membuat “nusantara¡” terpana, sesuai keunggulan dan kekhasan yang dimiliki. Bahkan komiditi kopi asal berbagai kecamatan di kabupaten Agam, setara dengan kopi Gayo dari Aceh dan kopi Toraja dari Tanah Toraja yang selama ini dikonsumsi.

Bahkan, secara spesifik, para penikmat kopi akan terpana bahkan akan ketagihan, jika sekali saja mencicipi kopi racikan asal kabupaten Agam yang sudah merambah berbagai negara di Indonesia.

Dan hal itu mengemuka dalam “monthly hight tea bussines network, talsk show ngopi bareng senator¡” bertema kopi daerah Indonesia, kopi dunia di plaza gedung nusantara V MPR-DPD RI, Jakarta, Rabu,(14/3).

Luar biasanya, Bupati Agam Indra Catri, merupakan satu-satunya bupati kepala daerah di Indonesia yang tampil memberikan makalah tentang keunggulan kopi kabupaten Agam dalam event bisnis berskala Internasional itu, bahkan dengan mengusung materi kopi, ameh hitam dari Agam (emas hitam dari kabupaten Agam), karena keunggulan dan keluarbiasaannya.

Acara ngopi bareng senator yang digelar Kadin Indonesia itu, menjadi moment luar biasa bagi kabupaten Agam dalam mempromosikan potensi kopi asal kabupaten Agam yang sudah dikenal di berbagai belahan nusantara, dibuka wakil ketua DPD RI DR. Nono Sampono, dan menjadi acara spesial bagi kabupaten Agam, apalagi bupati Agam Indracatri akan tampil sebagai pembicara utama.

Acara ngopi bareng senator kerjasama DPD RI dengan KADIN Pusat tersebut, menjadi moment penting bagi bupati Agam yang dengan tangkas mempromosikan keunggulan dan spesifiknya kopi Agam, bahkan banyak komentar mengapung event yang digelar di gedung nusantara kompleks MPR-DPD RI itu, betul-betul “milik kabupaten Agam”.

Pasalnya, acara khusus untuk mempromosikan kopi nusantara itu, berkomitmen, kopi Indonesia harus “menjajah¡” dunia, sesuai laporan Sekjen DPD RI Makruf Amin, yang menyebut, dulu Indonesia dijajah karena kopi, dan saat ini, kopi Indonesia akan menjajah dunia.

Event khusus yang menghadirkan wakil ketua DPD RI DR.Nono Sampono, ketua komite II DPD RI Parlindungan Purba, konselor Swedia Claudia, ketua KADIN RI Edi Ganefo, dan berbagai petinggi negara lain.

Secara khusus, ketua KADIN RI Edi Ganefo menyebut, kopi Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dimana banyak kedai kopi bermerk asing tapi yang disajikan adalah kopi Indonesia.

KADIN RI menyebutkan rencana aksi untuk mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas kopi dari berbagai daerah di Indonesia, agar bisa diterima di luar negeri, tata cara eksport, dimana PT.POS sudah membuka pintu untuk membantu proses eksport.

Bahkan KADIN Indonesia, bekerjasama dengan Kolombia dalam peningkatan kualitas kopi dengan memfokuskan pemberdayaan daerah.

 

Hal itu sesuai dengan harapan banyak pihak, baik dari DPD RI maupun dari mantan Dubes RI untuk Kolombia yang menyebut, kopi Indonesia belum go internasional, dan semua pihak, termasuk pemerintah harus terlibat untuk mendorong keberadaan kopi Indonesia untuk bisa go Internasional, mengingat potensi yang dimiliki sangat luar biasa.

Bahkan diharapkan, pengembangan komoditas kopi tersebut, harus seiring dengan pengembangan wisata, karena menikmati keindahan wisata Indonesia, termasuk kabupaten Agam masih belum lengkap tanpa seduhan kopi yang nikmat.

Hal itu direspon bupati Agam H.Indracatri yang menjadi pembicara satu-satunya dari daerah penghasil kopi di Indonesia.Indra Catri menyebut, kopi senator memiliki kenangan tersendiri dalam upaya mengembangkan potensi komoditi unggulan di kabupaten Agam.

Bupati Agam itu meyakinkan, kabupaten Agam sudah melakukan serangkaian langkah penting dalam upaya pengembangan komiditas kopi di seluruh wilayah, karena kabupaten Agam mempunyai kawasan yang ideal untuk pengembangan komoditi kopi, baik iklim, suhu, dan kondisi tanah.

“Kopi, adalah ameh hitam dari kabupaten Agam, dan hal itu menjadi salah satu program prioritas  daerah yang butuh dukungan semua pihak untuk mewujudkannya sebagai andalan dan keunggulan,” sebut Indra Catri.

(Harmen)

 

Bupati Agam Keynote Speaker Ngopi Bareng Senator

Bupati Agam H.Indra Catri Dt.Malako nan Putiah menjadi keynote speaker dalam “monthly hight tea bussines network, talsk show ngopi bareng senator¡” bertema kopi daerah Indonesia, kopi dunia di plaza gedung nusantara V MPR-DPD RI, Jakarta, Rabu,(14/3).

Luar biasanya, Bupati Agam Indra Catri, merupakan bupati satu-satunya di Indonesia yang tampil memberikan makalah tentang keunggulan kopi kabupaten Agam dalam event bisnis berskala Internasional itu.

Acara ngopi bareng senator yang digelar Kadin Indonesia itu, menjadi moment luar biasa bagi kabupaten Agam dalam mempromosikan potensi kopi asal kabupaten Agam yang sudah dikenal di berbagai belahan nusantara, dibuka wakil ketua DPD RI DR.Nono Sampono, dan menjadi acara spesial bagi kabupaten Agam, apalagi bupati Agam Indracatri akan tampil sebagai pembicara pertama.

Kepala Bappeda Agam Ir.Welfizar,Msi waktu dihubungi kaba12.com di Jakarta, Kamis,(14/3) pagi menjelang pembukaan acara dan Kabag Humas Sekab Agam Hilton, SH secara terpisah, menyebutkan, moment luar biasa itu, akan menjadi ajang promosi potensi kopi kabupaten Agam yang sudah merambah ke berbagai kawasan di Indonesia.

Bupati Agam, jelas Welfizar akan mengusung materi khusus sebagai pembicara dalam moment itu, bertajuk “ameh hitam dari Agam”, sebagai penggambar luar biasanya potensi kopi di kabupaten Agam.

Saat ini, tercatat sebanyak 3.394 hektar lahan budidaya kopi dengan beragam jenis, terutama di kecamatan Tanjung Raya, dikenal dengan kopi sibarasok, di kecamatan Canduang dengan kopi Lasi, di kecamatan IV Koto dengan kopi Minang Singgalang, di kecamatan Palupuah dengan kopi luwak raflesia dan di kecamatan Palembayan dengan kopi Palembayan-nya.

“Ini moment penting dalam mempromosikan potensi kopi asal kabupaten Agam, kita berharap, presentasi Bupati Agam terkait dengan potensi kopi itu, bisa mendorong makin optimalnya upaya pengembangan potensi kopi di kabupaten Agam,” sebut Welfizar.

Event khusus promosi kopi Indonesia, termasuk kabupaten Agam itu, menjadi catatan penting bagi kabupaten Agam dalam upaya mendorong pengembangan potensi kopi di daerah ini yang tengah dipacu oleh pemerintah kabupaten Agam.

(Harmen)

Kopi Agam, Produk Unggulan Menjanjikan

Komoditi kopi, bagi masyaraat kabupaten Agam, sesuai sejarahnya, sejak dibawa pedagang Arab yang datang ke Mekkah, dan membawa kopi jenis Arabica ke Sumatera Barat, kemudian ditanam dan dikembangkan di wilayah kabupaten Agam, karena kondisi geografisnya cocok untuk tanaman kopi.

Tanaman kopi, waktu itu, belum ditanam secara teratur, dan dibiarkan acak, bahkan dijadikan sebagai tanaman pagar oleh masyarakat, dan baru tahun1890, kopi kabupaten Agam mulai menjadi komoditas perdagangan yang dibeli oleh pedagang Amerika Serikat.

Karena komoditas kopi yang sangat menjanjikan, dari dua jenis yang dikembangkan di kabupaten Agam, baik kopi Arabica maupun robusta, dari tahun ke tahun, mengalami perkembangan signifikan sejak tahun 2012 lalu, seperti halnya tahun 2017, kopi Arabica dari luas areal 374,5 hektar mampu memproduksi kopi 349.050 kg, sementara kopi robusta dari areal seluas 1.975 hektar mampu memproduksi biji kopi 709.849 kg.

Perkembagan kopi kabupaten Agam, di berbagai kecamatan terus berkembang seiring semakin tingginya kebutuhan kopi di dunia,beberapa kecamat di kabupaten Agam selama ini menjadi sentral penghasil kopi yang memasok kebutuhan kopi ke berbagai wilayah Indonesia.

Seperti halnya di kecamatan Tanjung Raya yang dikenal dengan sebutan kopi sibarasok yang merupakan jenis robusta. Kopi sibarasok sudah sangat terkenal di berbagai event, bahkan saat festival kopi se Sumatera Barat 1-2 Agustus 2017 di Padang, kopi sibarasok keluar sebagai juara pertama jenis kopi robusta, bahkan kopi sibarasok kini menjadi pemasok dan langganan kopi utama ke kafe-kafe di kota besar  Sumbar dan Indonesia.

Kemudian kopi Lasi di kecamatan Canduang, merupakan spesialis kopi arabica, juga meraih gelar juara III dalam festival kopi Sumbar, 1-2 Agustus 2017 lalu di Padang, dengan spesialis variestas Kartika dan Katimor yang dibandrol dengan harga Rp.120.000/250 gram-nya, “keunggulannya dari pengolahan dan wanginya,” sebut Bupati Agam Indra Catri.

Produk kopi unggulan kabupaten Agam lainnya adalah kopi Minang Singgalang dai kecamatan IV Koto, yang ditanam di kaki gunung Singgalang, tepatnya di nagari Balingka. Kopi Minang Singgalang, sangat terkenal dengan aroma dan kekhasan jenis kopi arabica yang menjadi langganan café-café terkemuka di Sumatera Barat.

Kemudian kopi Luwak Raflesia dari kecamatan Palupuah, yang berasal dari nagari Batang Palupuah,merupakan jenis kopi luwak alami yang hidup di alam bebas, yang menghasilkan kopi luwaka organic berkualitas tinggi yang kini dijual sampai Rp.2 juta/kg.

Raflesia Luwak Coffee Batang Palupuah itu, bahkan sudah mampu menembus pasar dunia, bahkan sudah dieksport ke Korea, Belanda, Thailand dan Amerika, “namun produksinya masih terbatas, hanya kisaran 40 kg per bulan,” jelas Indra Catri.

Kemudian kopi Palembayan di kecamatan Palembayan, yang beberapa tahun terakhir menjadi salah satu pusat perhatian pemerintah, dimana tahun lalu ditanam 10 ribu kecambah oleh tiga kelompok tani, masing-masing keltan Bukik Sakura 3.500 kecambah, keltan Monggong Indah 3.250 kecambah, dan keltan Lambah Saiyo 3.250 kecambah.

Pengembangan kopi Data Palembayan, seiring dengan program Pemkab Agam dengan tim khusus Palembayan Heritage yang menyiapkan pendampingan dan mendorong warga untuk mengembangkan potensi kopi karena porspeksnya sangat menjanjikan.

(Harmen)

Komoditi Kopi, “Ameh Hitam dari Agam”

Wajar kiranya jika kopi asal kabupaten Agam disebutkan sebagai “ameh hitam dari Agam” (emas hitam dari kabupaten Agam), karena prospeks pengembangan komoditi ini sangat menjanjikan.

Bahkan mayoritas wilayah kabupaten Agam, sangat layak dan ideal ditanami biji kopi, karena mulai dari iklim, ketinggian, suhu dan jenis tanah , baik di kawasan Timur kabupaten Agam di wilayah kaki gunung Marapi-Singgalang, wilayah Tilatang Kamang, Palupuah, Baso, Ampek Angkek, Canduang, Sungai Pua, Malalak dan Palembayan dinilai sangat pas dengan suhu dan ketinggian.

Demikian pula di kawasan Barat kabupaten Agam baik di kecamatan Tanjung Mutiara, Lubukbasung, Ampek Nagari dan sebagai Tanjung Raya yang merupakan kawasan datar dan landai sehingga cocok untuk pengembangan komoditi kopi.

Dari data yang dimiliki, kabupaten Agam ideal untuk dikembangkan sebagai kawasan penghasil kopi, sehingga Pemkab Agam,memproyeksikan kawasan seluas 3.394 hektar untuk dikembangkan ditanami komoditi kopi, saat ini baru terisi seluas 2.218 hektar atau sekitar 65 persen.

Bahkan di kabupaten Agam sendiri, komoditi kopi berada di peringkat 5 yang dikembangkan secara khusus di kabupaten Agam, setelah komoditi kelapa sawit seluas 31.571 hektar, kelapa dalam seluas 11.363 hektar, casiavera seluas 7.585 hektar dan kopi 3.394 hektar.

(Harmen)

Kopi Agam, Setara Kopi Gayo-Toraja

Sebagai slaah satu komoditi unggulan daerah, program Pemkab Agam yang menyebut kopi sebagai “ameh hitam dari Agam” itu, kini diproyeksikan untuk digarap maksimal oleh berbagai elemen terkait.

Walau diakui tren produksi kopi jenis arabica dan robusta masih menggunakan pola tradisional dan konvensional sehingga belum bisa mencapai target special. Walau demikian, posisi kopi Agam, setara dengan kopi berkualitas lain di Indonesia seperti kopi Gayo dari Aceh atau kopi Toraja.

Berbeda dengan kopi luwak organik Batang Palupuah yang sudah mendunia, yang sudah mendapat sertifikat dari Sucopindo, bahkan sudah diekspor ke Eropa dan Amerika.

Walau demikian, bupati Agam Indracatri Dt.Malako nan Putiah, meyakinkan dengan beragam tantangan dan hambatan pengembangan potensi kopi, baik persoalan luas lahan existing dan jumlah petani yang masih sedikit, sehingga belum mampu memenuhi permintaan pasar secara kuantitas, sementara secara kualitas proses produksi yang masih tradisional, serta tekhnik pemasaran yang semakin kompetitif, pemerintah akan terus mendorong komoditi kopi menjadi andalan utama daerah ini.

Optimisme itu, karena sangat tingginya permintaan pasar terhadap varietas kopi di kabupaten Agam, didukung potensi pengembangan kopi di kabupaten Agam yang sangat menjanjikan, didukung iklim, suhu, ketinggian dan jenis tanah yang sangat ideal, dimana Pemkab Agam memprogramkan kegiatan peningkatan kualitas petani dan kelompok tani melalui pembinaan dan bimbingan tekhnis, program pemberian bantuan bibit berkualitas dan peremajaan tanaman kopi, serta program pembinaan manajemen pemasaran, pengemasan produk dan jejaring kerjasama dengan berbagai pihak.

“Kita optimis, kopi Agam, akan menjadi “ameh hitam” yang luar biasa, dan menjadi salah satu produk unggulan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tegas Indracatri optimis.

(Harmen)

0Shares
To Top