Oleh : Depitriadi
(Jurnalis dan Political Enthusiast, Berdomisili di Lubuk Basung)
Keracunan massal itu cepat sekali menyebar jadi cerita. Begitu ada 86 pelajar di Lubuk Basung dilarikan ke rumah sakit, rumor pun meledak.
Di media sosial, spekulasi lebih cepat daripada langkah ambulans. Ada yang bilang sabotase. Ada yang bilang soal politik. Ada pula yang berbisik ini perebutan bisnis katering.
Semua bisa benar. Semua juga bisa salah.
Tapi yang jelas, 86 anak itu bukan angka. Mereka anak orang. Mereka punya orang tua yang panik.
Di saat seperti ini, publik biasanya terbelah. Ada yang menyalahkan dapur MBG. Ada yang menuding bahan bakunya. Ada pula yang langsung mengaitkan dengan perebutan proyek bahan makanan.
Sementara di media sosial, tudingan jadi bahan bakar. Menyebar tanpa rem.
Kita perlu berhenti sejenak.
Keracunan makanan bukan peristiwa baru. Di banyak daerah, kasus serupa pernah terjadi. Ada yang disebabkan air yang tercemar. Ada yang karena bumbu basi. Ada pula karena cara penyimpanan yang keliru.
Tapi tidak semua kasus harus segera diberi cap politik.
Di Lubuk Basung, dapur MBG itu memang sedang jadi sorotan. Wajar publik ingin tahu. Tapi yang lebih penting, tunggu hasil investigasi resmi.
Pemerintah daerah sudah turun tangan. Dinas Kesehatan melakukan penyelidikan epidemiologi. Dapur diperiksa. Air diteliti. Sampel makanan dikirim ke laboratorium.
Itulah prosedurnya. Itulah jalannya.
Tentu orang tua resah. Bagaimana tidak, anak yang pagi sehat-sehat, sore sudah muntah dan pusing.
Tapi resah tidak boleh berubah jadi amarah tanpa arah.
Pelaksana MBG juga manusia. Mereka tentu tidak pernah berniat mencelakai.
Kalau pun ada kesalahan, harus dibuktikan. Bukan ditebak. Kalau pun ada kelalaian, harus diperbaiki. Bukan dihukum massa.
Dan kalau pun nanti terbukti ada unsur kriminal, serahkan pada polisi.
Lalu kita harus bagaimana?
Kita perlu menenangkan diri. Biarkan rumah sakit bekerja menyembuhkan. Biarkan laboratorium bekerja menemukan jawaban. Biarkan aparat bekerja menyelidiki.
Kita, masyarakat, cukup mendukung. Mendoakan. Menjaga anak-anak kita lebih hati-hati.
Inilah saatnya belajar. Bahwa makanan untuk ratusan pelajar bukan sekadar pelaksanaan program. Itu menyangkut nyawa.
Bahwa higienitas bukan formalitas. Itu syarat utama.
Bahwa kepercayaan orang tua kepada pemerintah dan penyedia makan tidak boleh dikhianati.
Keracunan makan sudah terjadi. Itu fakta. Yang bisa kita lakukan sekarang, jangan menambah racun baru. Racun berita palsu. Racun fitnah. Racun curiga berlebihan.
Biarlah racun di tubuh anak-anak itu ditangani dokter. Racun di kepala orang dewasa jangan diperbesar.
Itu lebih berbahaya. Takbir