Kaba Tausyiah
Keindahan Taubat Kepada Allah SWT
Dalam menjalani kehidupan ini, kita pasti pernah berbuat salah dan dosa. Hal demikian adalah manusiawi. Sebab, bukankah Rasulullah ﷺ berkata, “Setiap anak cucu Adam memiliki dosa, dan sebaik-baik pendosa adalah dia yang bertobat.” (HR Ibnu Majah). Mengapa demikian? Sebab, manusia diciptakan dalam keadaan lemah.
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”. (QS An-nisa: 28).
Manusia yang lemah itu diberikan jalan taubat sebagai wujud kasih sayang Allah kepada kita. Suatu hari, Umar bin Khattab datang menghadap Rasulullah ﷺ dengan membawa beberapa orang tawanan.
Di antara tawanan itu terlihat seorang wanita sedang mencari-cari anaknya, lalu ketika dia mendapatkan seorang bayi di antara tawanan, dia langsung mengambil bayi itu, mendekapkannya ke perut untuk disusui.
Rasulullah ﷺ berkata kepada kami, “Bagaimana pendapat kamu sekalian, apakah wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami menjawab, “Tidak, demi Allah, sedangkan dia mampu untuk tidak melemparnya.”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh Allah lebih mengasihi hamba-Nya dari pada wanita ini terhadap anaknya”. (HR Muslim).
Karena sedemikian kasih dan sayangnya Allah pada kita, Allah sangat senang bila seorang hamba telanjur berbuat dosa lalu bertaubat, berjanji sepenuh hati tak akan pernah mengulangi perbuatannya.
Rasulullah ﷺ menggambarkan kesenangan Allah itu dengan bersabda, “Sungguh Allah akan lebih senang menerima tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya daripada (kesenangan) seorang di antara kalian yang menunggang untanya di tengah padang luas yang sangat tandus, lalu unta itu terlepas membawa lari bekal makanan dan minumannya dan putuslah harapannya untuk memperoleh kembali. Kemudian, dia menghampiri sebatang pohon lalu berbaring di bawah keteduhannya karena telah putus asa mendapatkan unta tunggangannya tersebut. Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba dia mendapati untanya telah berdiri di hadapannya….” (HR Muslim).
Seringkali kita merasa bahwa dosa yang kita lakukan hanya dosa-dosa kecil sehingga tak diperlukan penyegeraan dalam bertaubat. Padahal, kata Imam Ibnul Qayyim, “Jangan pernah meremehkan dosa-dosa kecil. Lihatlah patok kayu (di dermaga) yang melilit tambang, ia bahkan dapat menarik kapal”.
Taubat tidaklah sebatas usaha seorang hamba untuk memohon ampunan dari Allah, tetapi sekaligus termasuk ibadah yang mulia di sisi-Nya karena perbuatan itu merupakan perintah dari Allah.
Karena itulah, taubat merupakan amalan para nabi. Aisyah mengatakan, “Dahulu Rasulallah ﷺ sebelum meninggal banyak mengucapkan, ‘maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya aku memohon ampun dan aku bertaubat kepada-Nya’.” (HR Bukhari-Muslim). Demikian pula para nabi sebelumnya.
Adam dan Hawa adalah dua manusia pertama yang pernah berbuat salah dan segera bertaubat. Allah mengabadikan taubat Adam dan Hawa dalam firman-Nya,
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Keduanya berkata, Wahai Rabb-kami, kami adalah orang-orang yang berbuat zalim pada diri-diri kami, kalau sekiranya Engkau tidak mengampuni (dosa-dosa) dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang celaka.” (QS Al-A’raf: 23).
Tentu, taubat harus memenuhi syarat dan ketentuan. Imam Nawawi menyebutkan tiga persyaratan, yakni menjauhi maksiat, menyesali perbuatan tersebut, dan berjanji untuk tidak mengulangi selama-lamanya.
Jika hilang salah satu syarat-syarat tersebut di atas, tidak sah taubatnya.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“إِنَّ الله عزَّ وجَلَّ يقْبَلُ توْبة العبْدِ مَالَم يُغرْغرِ”
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum sampai kerongkongan”. (HR At-Tirmidzi).
Sesungguhnya rahmat Allah itu sangat luas sehingga tidak sepantasnya bagi seorang hamba untuk berputus asa dari rahmat-Nya.
Menutup tulisan ini, menarik untuk mengutip Ibnul Qayyim sekali lagi. Katanya,
لَوْ عَلِمَ الْعَاصِي أنَ لَذَةَ التَوْبَة تَزِيْد عَلَى لَذَةِ اْلمَعْصِيَةِ أضْعَافََا مُضَاعَفَة لَبَادِر إلَيْهَا أعْظَمَ مِنْ مُبَادَرَتِهِ إلىَ لذَةِ الْمَعْصِيَةِ.
“Sekiranya seorang pelaku maksiat mengetahui bahwa kenikmatan bertaubat lebih dahsyat berlipat-lipat dari kelezatan maksiat, niscaya dia akan bersegera menuju taubat lebih cepat dari usahanya menggapai maksiat”.
(Sumber: kultum.net)