Kaba Terkini

Kapolri : Jaringan teroris Indonesia Gunakan Telegram

Jakarta, KABA12.com — Pengguanaan layanan telegram dikalangan kelompok teroris di Indonesia bukan lagi hal yang mengejutkan. Hal ini dikarenakan pengakuan dari salah seorang tersangka terorisme yang menyebutkan bahwasanya komunikasi dalam kelompok mereka menggunakan aplikasi telegram.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian membenarkan hal tersebut. Ia mengungkapkan bahwasanya kelompok tersebut menggunakan aplikasi telegram dalam melancarkan aksinya. Sepertihalnya kejadian MH Thamrin Januari 2016 silam.

“Sampai bom Kampung Melayu, terakhir di Falatehan, ternyata komunikasi yang mereka gunakan semuanya menggunakan Telegram,” ujar Tito, seperti dikutip Kompas.com.

Selain itu, dugaan penggunaan aplikasi telegram tersebut juga dibuktikan dengan ditemukannya komunikasi langsung pelaku lewat telegram dengan simpatisan ISIS asal Indonesia, Bahrun Naim yang kini berada di Suriah, pada saat tragedy di Kampung Melayu.

Disisilain, dalam kasus penusukan polisi di Falatehan, pelaku bernama Mulyadi diketahui bergabung dengan grup radikal di Telegram. Dari aplikasi tersebut ia menjadi paham akan radikal dan mulai merencanakan penyerangan ke polisi.

Tito mengakui bahwa aplikasi tersebut menjadi favorit kelompok teroris karena dapat melindungi privasi penggunanya.

Sementara itu, pihak kepolisian telah membahas hal tersebut dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Ia menganggap, pemblokiran Telegram merupakan salah satu solusi untuk memangkas saluran komunikasi kelompok teroris di Indonesia.

“Nanti kita lihat apakah jaringan teror gunakan saluran komunikasi lain. Kita juga ingin liat dampaknya,” kata Tito.

Tak hanya di Indonesia, Telegram juga kerap digunakan teroris di luar negeri. Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) menyebut ll orang-orang yang berada di belakang aksi pengeboman di stasiun metro Saint Petersburg, Rusia, menggunakan aplikasi itu untuk berkomunikasi.

FSB menyebut, kelompok teroris itu menggunakan aplikasi tersebut saat tahap persiapan serangan teroris.

Pavel Durov, pendiri sekaligus CEO layanan pesan Instan Telegram, menyadari bahwa ada aktivitas grup teroris negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Telegram. Namun, ia bersikeras menjunjung tinggi faktor keamanan privasi yang memang sudah lekat dan menjadi ciri khas Telegram semenjak dirilis empat tahun lalu.

(Dany)

To Top