Kaba Terkini

JKN-KIS Berkontribusi Dalam Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Jakarta, KABA12.com — Badan Penyelenggara Jaminann Sosial (BPJS) Kesehatan merilis, kontribusi JKN-KIS terhadap perekonomian Indonesia di tahun 2016 sebesar Rp 152,2 triliun dan di tahun 2021 diperkirakan bisa mencapai angka Rp 289 triliun.

Program JKN-KIS meningkatkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia sampai 2,9 tahun. Peningkatan 1 persen cakupan JKN-KIS setara dengan peningkatan pendapatan masyarakat sebesar Rp 1 juta per tahun per kapita.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris, dalam kegiatan Public ExposeKontribusi Program JKN-KIS saat mengisi 72 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Selasa (15/08) mengatakan, program Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) berdampak terhadap pelayanan kesehatan masyarakat. Program JKN-KIS membuka akses yang lebih besar kepada masyarakat untuk mendapat Jaminan pelayanan kesehatan.

“Kehadiran  Program  JKN-KIS  merupakan  wujud  dari  kehadiran  negara  kepada  rakyatnya. Pemerintah  telah mewujudkan amanat undang-undang dengan menjalankan program JKN-KIS. Tanpa waktu yang lama program ini sudah dirasakan betul manfaatnya bagi masyarakat. Selain meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia, bagi masyarakat yang sehat program ini  memberikan berkontribusi positif terhadap perekonomian,” ujarnya.

Fachmi Idris menjelaskan, secara bertahap Program JKN-KIS pun terus berkembang pesat. Sampai saat ini, jumlah peserta yang telah mengikuti Program JKN-KIS lebih dari 180 juta jiwa atau lebih dari 70% dari jumlah proyeksi penduduk Indonesiadi tahun 2017.

Berdasarkan laporan audit akhir tahun 2016, BPJS Kesehatan memberikan gambaran bahwa program JKN-KIS sangat dirasakan masyarakat. Hal ini terlihat dari pemanfataan kartu BPJS Kesehatan di 2016 sebanyak 177,8 juta kunjungan ke fasilitas kesehatan.

Total pemanfaatan di 2016 ini terdiri dari kunjungan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas, klinik pratama, dan dokter praktek perorangan mencapai sekitar 120,9 juta kunjungan, untuk rawat jalan di poliklinik dan rumah sakit sebanyak 49,3 juta, dan rawat inap 7,6 juta. Bila ditambah angka rujukan sebesar 15,1 juta, maka total pemanfaatan JKN-KIS adalah 192,9 juta.

Ia menambahkan, program JKN-KIS bisa mendorong percepatan pengentasan kemiskinan. Pasalnya, melalui program JKN-KIS masyarakat yang miskin tidak akan terjerumus dalam jurang kemiskinan yang semakin dalam ketika sakit. Kemudian, masyarakat yang tidak miskin akan terhindar dari kemiskinan ketika mengalami sakit kronis.

“Dengan adanya program JKN-KIS, orang miskin tidak bertambah miskin ketika sakit dan orang yang tidak miskin dapat terhindar dari kemiskinan ketika mengalami sakit kronis,” ulasnya.

Setelah berjalan 3,5 tahun, ternyata program JKN-KIS tidak hanya berdampak terhadap pelayanan kesehatan tapi juga perekonomian.  Hal itu dibuktikan dari hasil  penelitian  Lembaga  Penyelidikan  Ekonomi  dan  Masyarakat  Fakultas  Ekonomi  dan  Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) yang menunjukan kontribusi total JKN-KIS terhadap perekonomian Indonesia di tahun 2016 mencapai Rp 152,2 triliun.

Kepala  Kajian  Grup  Kemiskinan  dan  Perlindungan  Sosial  LPEM  FEB  UI,  Teguh  Dartanto yang  juga  hadir  dalam kegiatan tersebut menjabarkan, dampak JKN-KIS terhadap perekonomian Indonesia sifatnya positif dan berkelanjutan.

“Dalam  jangka  pendek,  program  JKN-KIS  akan  mendorong  aktifitas  ekonomi  untuk  sektor  yang bersinggungan dengan program JKN-KIS seperti jasa kesehatan pemerintah (rumah sakit dan puskesmas), industri farmasi, alat kesehatan dan non kesehatan (industri makanan dan minuman). Sementara untuk  jangka  panjang,  program  JKN-KIS  mendorong  peningkatan  mutu  modal  manusia,” ujarnya.

Menurutnya, dampak JKN-KIS terbesar yakni meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia karena menjadi lebih sehat dan berumur lebih panjang. Kondisi itu mendorong peningkatan produktifitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia jangka panjang, “program  JKN-KIS  akan  meningkatkan  angka  harapan  hidup  sebesar  2,9  tahun, serta juga berkontribusi sebesar 0.84% dari total PDB Indonesia, kenaikan 1 % kepesertaan JKN-KIS setara dengan peningkatan pendapatan masyarakat sebesar Rp1 juta per tahun per kapita,” urainya.

Dengan sistem yang sudah mulai terbangun dengan baik di tahun ke-4 pelaksanaan JKN-KIS ini menimbulkan kompetisi antar sesama pemberi layanan. Kompetisi ini akan menghasilkan perbaikan layanan yang semakin baik. Pencapaian universal health coverage(UHC) di tahun 2019 diproyeksikan akan menghasilkan output sebesar 289 triliun rupiah dan kesempatan kerja untuk 2,4 juta orang.

Sumber: Siaran Pers BPJS Kesehatan

(Jaswit)

To Top