Kaba Agam

“Jangan Cengeng” Destinasi Pariwisata di Agam Butuh Pengelolaan Kreatif

Lubukbasung, KABA12.com — Peluang pariwisata di Agam melimpah. Apapun yang dikelola bisa menjadi wisata. Hanya saja orang Agam cengeng, masih mengharapkan bantuan dari Pemerintah.

Hal itu dikatakan Muhammad Zuhrizul atau yang biasa dikenal Mak Tek di kalangan pegiat pariwisata di Sumatera Barat saat memberikan materi “Peluang Usaha Wisata dalam Trend Wisata Dunia” pada pelatihan tata kelola destinasi pariwisata se-Kabupaten Agam di balroom hotel Sakura Syariah Lubukbasung, Kamis (27/06).

Menurut penyuluh pariwisata nasional Kementerian Pariwisata RI delegasi Indonesia untuk Forum East Asian Latin Amerika Forum itu, hal tersebut masih menjadi momok yang menutupi mindset pengelolaan pariwisata di Agam.

Dia memaparkan, kondisi wisata Agam saat ini masih butuh pengelolaan yang kreatif dengan maksimal. Diantaranya seperti, masih ada sebagian besar pedagang yang menjual makanan siap saji, belum adanya penataan pedagang yang rapi dan nyaman, belum adanya variasi menu yang ditawarkan.

Kemudian, belum adanya toilet yang bersih, higienis, dan tidak bau. Belum adanya daftar tarif harga bagi pembeli sebelum memesan, lalu belum adanya makanan khas daerah untuk oleh-oleh pengunjung bisa dibawa pulang. Serta, pelayanan yang belum memenuhi standar wisata.

Untuk memperbaiki itu semua jelas CEO Lawang Park tersebut, pihak pengelola destinasi pariwisata harus menyiapkan program jangka pendek yang harus dilakukan. Mulai dari mendata potensi kuliner masyarakat baik yang siap hidang maupun yang akan dibeli sebagai oleh-oleh pengunjung. Adanya pelatihan lanjutan tentang bagaimana memberikan rasa yang cocok, kemasan, dan cara penyajian kepada tamu.

“Pada pariwisata itu, orang akan mencari apa yang belum pernah dia lihat, coba, dan rasakan sebelumnya. Jadi, cobalah bikin sesuatu yang diinginkan pengunjung tersebut sehingga mereka merasakan kepuasan,” ulasnya.

Tidak hanya itu, pelaku wisata juga harus mendata dimana saja lokasi yang dibolehkan untuk berjualan dengan tidak mengganggu kenyamanan pengunjung. Kemudian, adanya kesepakatan tentang harga, jenis makanan dan minuman yang bervariasi, dan yang terpenting, harus adanya toilet yang bersih, higienis, tidak bau di food/kuliner centre dengan sanitasi saluran air bekas cucian/toilet yang tertutup dan tidak mencemari dan merusak lingkungan di sekitar atau green sanitation.

“Dengan begitu orang akan berkunjung dengan nyaman dan puas di tempat kita,” tukasnya.

Sebelumnya, Staf Ahli Bupati Agam Erniwati menyampaikan, saat ini potensi kepariwisataan Kabupaten Agam ada sekitar 148 destinasi, yang terdiri dari 43 destinasi wisata alam, 55 wisata budaya, 4 wisata buatan, 12 wisata sejarah, 5 wisata religi, 13 kuliner, 15 wisata minat khusus dan 1 wisata teknologi.

“Permasalahan destinasi pariwisata kita di Agam belum adanya regulasi daerah tentang pengelolaan kepariwisataan, kemudian objek wisata banyak dikelola oleh masyarakat, perorangan dan nagari. Serta keterbatasan pemda yang hanya dapat membangun sarana dan prasarana pariwisata di tanah milik pemda Agam,” jelas Erniwati.

(Jaswit)

To Top